“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Itulah kutipan dari kata-kata Soe Hok Gie lewat bukunya, Catatan Seorang Demonstran, yang mungkin menginspirasi banyak pendaki untuk menjamahi puncak-puncak gunung nan tinggi. Masing-masing pendaki tentu punya alasannya sendiri untuk pergi. Tapi buat kamu yang mungkin belum pernah mendaki, apa yang bisa memotivasimu agar mau bersusah payah menggapai titik tertinggi?

Nah, alasan-alasan dalam artikel ini bisa jadi semakin memantapkan langkahmu untuk segera mengepak keril dan melangkahkan kakimu ke atas sana.

1. Tak hanya bekerja dan duduk di belakang meja, tubuhmu layak diajak mendaki agar kembali berfungsi sebagaimana mestinya

Olahraga yang menyenangkan via yoyosuryosugiharto.wordpress.com

Naik gunung berarti mengembalikan fungsi tubuhmu kembali ke hakikatnya, yaitu bergerak. Terlalu lama bekerja di belakang meja bikin tubuhmu jadi jarang bergerak. Ujung-ujungnya, penyakit bisa dengan mudah menghampirimu.

Advertisement

Mendaki adalah cara olahraga yang menyenangkan. Dengan mendaki, tubuhmu akan belajar untuk kembali berjalan. Pulang-pulang pastinya bakal pegal, tapi itulah tanda bahwa ototmu sedang beregenerasi. Pastinya, kamu bakal lebih bugar, apalagi jika mendaki jadi agenda rutinmu. Tapi, jangan lupa pemanasan dulu sebelum mendaki dengan joging tiap hari, setidaknya selama dua minggu.

2. Saat terbiasa menghirup udara yang penuh polusi, tak ada salahnya memanjakan paru-parumu dengan udara yang bersih sesekali

Udara segar memenuhi paru-paru via sarangpenyamun.wordpress.com

Tinggal di perkotaan, apalagi kota besar, membuatmu terpapar udara yang penuh polusi tiap hari. Apa gak sayang sama paru-parumu? Sesekali, telusurilah jalur-jalur pendakian yang kiri-kanannya adalah hutan dan padang ilalang.Hiruplah aroma tanah, kayu, dedaunan, dan rerumputan di jalan setapak yang kamu lalui, dan rasakan nikmatnya udara pegunungan yang bebas polusi langsung ke paru-parumu.

3. Sejenak meninggalkan gadget dan internet menjadikanmu lebih perasa. Di atas gunung, kamu akan belajar menjadi sebaik-baiknya manusia

Jadi manusia yang perasa via nindihong.wordpress.com

Lupakan Facebook, Whatsapp, Twitter, dan segala aplikasi chatting serta media sosial lainnya. Di atas gunung, kamu adalah manusia sejati yang bercengkerama dengan sesamanya dengan cara yang utuh: tatap muka dan senyuman. Gak akan ada emotikon lucu di sini, yang ada hanya ekspresi asli para pendaki yang hangat di antara dinginnya udara gunung.

Di sinilah kamu bisa menjadi manusia yang nyata, manusia yang perasa, yang tak hanya melihat sesamanya lewat layar kaca. Kamu akan melihat bahwa pendaki lainnya adalah representasi dirimu yang sama-sama sedang berjuang menuju puncak, sehingga kamu pun bisa menyapa mereka dengan senyum paling tulus yang kamu punya.

4. Melihat dunia yang itu-itu saja akan membuatmu bosan. Manjakan matamu dengan indahnya pemandangan alam

Ganti suasana sekaligus merasakan luasnya semesta via oediku.wordpress.com

Pemandangan yang sama menemanimu sepanjang jalan dari rumah sampai ke tempat kerja; kamu bahkan sampai hafal lubang-lubang aspalnya. Apa kamu gak bosan dengan pemandangan yang itu-itu aja? Naik gununglah dan temukan suasana yang sama sekali berbeda dari keseharianmu yang biasanya.

Pemandangan hutan, lembah, dan puncaknya akan membuatmu tak berhenti berdecak kagum. Kamu pun akan sadar, bahwa dunia tak sesempit jalan dari rumah ke tempat kerja.

5. Mendaki menempamu merawat mimpi. Kamu percaya bahwa fokus dan kegigihan akan mengantarmu ke pencapaian yang tinggi

Melatih fokus via masgay.wordpress.com

Apakah kamu tipe orang yang gak berani bermimpi? Kadang, kita enggan untuk berani menggapai sesuatu yang menurut kita terlampau besar, meskipun hal itu sebenarnya ada di depan mata. Sama seperti gunung yang tampak begitu besar di depan mata, seolah tak mungkin untuk menjamah puncaknya.

Nyatanya, dengan berfokus pada tujuan mendaki, yaitu puncak dan pulang, kamu akhirnya bisa sampai puncaknya meskipun apa yang kamu lakukan hanya menapak selangkah demi selangkah, terus menerus tanpa kenal menyerah.

6. Jalur pendakian ibarat kehidupan yang kamu jalani. Jalan terjal dan tanjakan curam adalah rintangan yang harus dihadapi

Perjalanan tak akan cuma datar via lena.multipers.com

Kalau kamu merasa hidupmu gitu-gitu aja, datar tanpa gejolak dan cenderung bikin jenuh, keluarlah dari zona nyamanmu dan tantang dirimu dengan mendaki. Kamu akan menemukan bahwa jalur pendakian yang kamu lalui gak melulu datar dan mulus sepertin jalan tol. Ada jalur yang landai, tanjakan yang curam, bahkan jalan menurun yang membuat langkahmu jadi ringan. Begitu pula dengan hidupmu, yang penting adalah bagaimana kamu memaknainya dan menikmati setiap prosesnya.

7. Pendakian membuatmu belajar menghargai diri sendiri. Pengalaman sampai di puncak tertinggi mengajarkanmu agar tetap rendah hati

Menghargai diri sendiri via dianalvaro.wordpress.com

Kita manusia kadang meremehkan kemampuan diri sendiri, tanpa tahu apa yang sebenarnya bisa kita lakukan lewat potensi yang kita miliki. Cobalah mendaki, tiap langkahnya mengajarkan kita untuk menghargai diri sendiri. “Hei, ternyata aku mampu mendaki sampai ke puncak” adalah penghargaan kepada diri sendiri yang seharusnya selalu kita miliki.

Tapi, berhasil mendaki sampai puncak tak serta merta membuat kita jumawa, karena kita sadar bahwa tiap langkah yang kita ambil mengandung risiko. Justru di atas sana lah kita merasa bahwa kita begitu lemah dan kecil. Kesalahan dan kelengahan bisa-bisa membuat kita pulang tinggal nama.

8. Hidup selayaknya dijalani dengan optimis dan gunung adalah tempatmu menemukan kehidupan yang lebih positif

Wajah Indonesia yagn optimis via bocahpetualang.com

Mengamati perilaku orang-orang di media sosial kadang bikin muak juga. Mulai dari status gak jelas, menyebarkan berita bernada negatif yang sumbernya gak bisa dipertanggungjawabkan, sampai cela-celaan hasil residu dari kemelut pilpres kemarin. Sementara, di jalanan juga banyak yang maunya menang sendiri sampai isu-isu di media yang bikin kita kesal sendiri. Ini bikin kita terkadang jadi pesimistis sama Indonesia.

Detoksifikasi pikiranmun sejenak dari hal-hal negatif itu dengan naik gunung. Sapaan hangat dari sesama pendaki yang gak ragu membantu serta pemandangan alam di sepanjang jalur pendakian akan membuatmu berpikir ulang tentang Indonesia. Memang benar kata-kata Soe Hok Gie yang saya kutip di atas. Kamu bisa mencintai dan jadi optimis sama Indonesia dengan cara melihat dari sisi lainnya yang menawan.

Memang sih, di gunung juga masih ada pendaki yang buang sampah sembarangan, yang coret-coret, serta memetik edelweis seenaknya. Tapi, mereka yang baik dan benar-benar pendaki sejati masih jauh lebih banyak, kok. Kalau memutuskan untuk mendaki, jangan sampai menjadi bagian dari pendaki yang berkelakuan kurang baik seperti di atas, ya!

9. Naiklah ke puncak dan tanyakan pada dirimu sendiri: “adakah alasan lain yang membuatmu enggan mendaki lagi?”

Cobalah mendaki via masjuli.wordpress.com

Masih butuh motivasi lainnya untuk mendaki? Cobalah sekali mendaki sampai ke puncak dan rasakan pengalamannya di dalam sanubarimu. Setelah itu, barulah putuskan apakah kamu akan mendaki lagi atau cukup sekali itu aja. Hanya dengan mengalaminya kamu bisa memahami kenapa para pendaki selalu rindu untuk kembali. Mungkin kamu pun demikian. Semoga.

Nah, tunggu apa lagi? kemas kerilmu dan mulailah pendakian pertamamu. Tapi, jangan lupa membaca saran-saran untuk pendaki pemula terlebih dulu ya!