Kesepian dan sendiri adalah teman hidupku sehari-hari. Bertahun-tahun saya merasakan kecemasan yang begitu besar menghantui saya, kemudian membuat saya hanya berdiam diri di kosan tanpa melakukan aktivitas apapun. Melamun di tengah gelap. Menangis. Memikirkan hal-hal di luar nalar yang membuat saya menyesal untuk dilahirkan.

Pernah, ada seseorang bertanya kepada saya tentang apa cita-cita saya, lalu dengan lantang saya menyebutkan.

Advertisement

“Kalau bisa mewujudkan, saya ingin sekarang Tuhan mencabut nyawa saya,” ungkap saya.

Saya sudah terlalu lelah menghadapi kesendirian dan kesepian saya selama ini. Karena itu, sepertinya mati adalah solusi terbaik, toh mati hanya perkara waktu bukan? Pada sebagian orang yang ingin mati, mereka seringkali menyakiti diri mereka dengan mensilet bagian tubuhnya, saya tidak bisa begitu. Saya merasa terlalu takut jika harus melihat darah mengalir dari tubuh saya. Kemudian saya memilih untuk tidak makan berminggu-minggu atau membenturkan kepala saya ke tembok ketika saya ingin mati. Tapi, nyatanya saya tidak mati-mati. Saya lelah.

Karena keinginan saya untuk mati yang begitu besar, saya kemudian menarik diri dari lingkungan saya

anti sosial via www.dailydot.com

Bisa dibilang saya cukup punya banyak teman sejak SMA, tapi entah karena saya sendiri mungkin anti sosial. Saya merasa makin sedikit teman saya saat ini. Saya sering merasa kebingungan ketika ingin main. Oh iya, saya tidak bisa pergi ke mana-mana sendiri. Saya terlalu takut dengan ingar-bingar yang membuat saya kemudian mengigil, tremor dan pingsan. Saya butuh teman. Tapi dari sekian banyak teman saya, tidak ada yang bisa saya pilih untuk menemani saya keluar dari kosan yang sendu. Lagi dan lagi, akhirnya saya memutuskan untuk berdiam diri saja di kos dan meratapi semua hal yang pernah saya alami. Hal-hal kelam yang membuat saya meraung-raung sendirian, menggigil, dan menjedot-jedotkan kepala saya.
Berbeda dengan cewek-cewek kebanyakan, saya memiliki pandangan menyebalkan yang mana kemudian membuat saya enggan untuk bercerita dan curhat dengan orang lain.

Advertisement

“Cuma saya yang mengerti diri saya sendiri”
“Aku adalah aku.”
“Nggak apa-apa sendiri, toh semua orang juga pada akhirnya sendiri.”

Pandang-pandangan seperti itu yang kemudian membuat saya sering berpura-pura dan menahan semua luka yang hingga saat ini masih sangat membekas di hidup saya. Luka yang sudah terlalu busuk dan akan sulit sekali untuk kering. Saya tidak bisa dengan mudah membagi hidup saya dengan orang lain, karena saya tahu di saat-saat seperti ini saya tetap sendirian. Mereka toh tidak tahu pasti bagaimana perasaan sakit saya yang kemudian malah akan berkomentar;

“Bukan cuma kamu yang kayak gitu!”
“Ada banyak orang lain yang punya masalah lebih besar dari itu.”
“Kamu masih beruntung”

SIAL! Semenyebalkan itu bukan manusia? Jadi, untuk apa?!!!

Suatu hari saya mendengar malaikat berbisik pada saya, untuk membawa saya ke dokter jiwa yang setidaknya (barangkali) akan mendengarkan semua ocehanku  lebih obyektif

dokter lebih objektif via sains.kompas.com

Entah kenapa saya mendengarkan bisikan itu dan mengiyakannya. Apakah mungkin saya sudah terlalu lelah ingin mati tapi tidak mati-mati? Beberapa saat kemudian saya menemui seorang dokter kejiwaan dan psikolog. Iya, saya didiagnosa memiliki penyakit mental. Di sini saya diberi terapi dan obat yang harus saya minum setiap harinya. Saya merasa lebih baik untuk beberapa saat. Saya merasa setidaknya ada yang mendengarkan saya tanpa memberikan judge yang justru membuat saya tertohok. Tremor saya berkurang.

Tapi entah kenapa, saya ingat sekali, psikolog saya pernah menyarankan saya untuk berzikir jika sulit tidur atau setidaknya mendengarkan ayat suci Al-Quran karena saya muslim. Pernah suatu malam, saya tidak sengaja mendengarkan bacaan Al-Quran dari toa masjid dekat kos saya. Lantas apa yang terjadi kemudian?

Saya justru menangis meraung-raung, sesak ingin mati. Saya seolah berada dalam peti yang sempit dan gelap. Kesepian, sendirian, sesak, sempit. Di situ saya ingat sekali, saya menuliskan puisi yang mana saya beranggapan bahwa orang yang ingin saya hidup adalah orang-orang yang egois, karena saya ingin mati, dari awal saya sudah bilang saya ingin mati, lantas kenapa mereka justru ingin saya hidup? Apakah mereka senang melihat saya tersiksa hidup seperti ini?

Entah apa yang kemudian membawa pikiran saya kembali. Saya hidup dan tiba-tiba mensyukuri  bahwa saat ini banyak hal dalam hidup saya telah saya raih

fake smile :)) via www.pixilart.com

Sejujurnya banyak hal yang sudah saya raih sejauh ini. Dulu saya berkeinginan untuk menjadi seorang penulis skenario, iya saya sudah mewujudkan meski belum skenario film yang sungguh-sungguh. Lantas saya berkeinginan untuk menggeluti dunia konten sosial media lewat pekerjaan freelance yang lakukan saat ini. Satu hal lagi, saya berkeinginan untuk menjadi penulis di media online, tentu saya pun juga mendapatkannya. Meski baru, nyatanya kini sudah menjadi bagian dari Hipwee.

Oh iya, bagi saya hidup adalah sebuah pencarian. Setelah semua hal sudah saya dapatkan, saya tidak tahu lagi harus mencari apa dalam hidup ini, apakah saya harus menjadi definisi-definisi hidup yang lain, atau apa? Tapi yang jelas, saat ini saya cukup bersyukur dengan hidup saya. Meski memiliki penyakit mental tapi saya tetap bisa mewujdukan satu per satu mimpi saya. Menjadi bagian dari Hipwee, freelance sebagai Sosial Media Spesialis.

Saat saya sedang ‘normal’ saya merasa ya ya sudah tidak apa-apa kamu sakit, kamu punya penyakit mental toh tidak apa-apa, nyatanya sejauh ini kamu bisa kok, kamu survive

tidak apa-apa 🙂 via www.redbubble.com

Kemudian, sampai detik ini, saya bertahan dan menikmati hidup saya dengan mantra ‘yaudah, nggak apa-apa’ keinginan untuk mati bisa sambil kamu nikmati, nanti mati ada waktunya, ada masanya, tunggu dulu, sabar. Meski terkesan menikmati kesakitan, ya tidak apa-apa bagi saya, toh ya saya sendiri yang merasakannya. Setidaknya, sambil menunggu mati, ada banyak hal yang bisa saya lakukan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya