Hidetoshi Nakata: Tsubasa di Dunia Nyata, sang Samurai Terakhir

Pesepakbola dari Asia yang kariernya cemerlang di Eropa

Tsubasa Ozora mengilhami kecintaan seorang Hidetoshi Nakata pada sepakbola, tidak hanya itu tapi juga mendorong keinginannya untuk berhasil, dan memainkan sepakbola yang indah. Nakata adalah simbol generasi pemain Jepang yang sukses membawa mimpi sepakbola Kapten Tsubasa di dunia nyata.

ADVERTISEMENTS

Piala Dunia 1998

Petualangan Nakata dalam dunia sepakbola dimulai saat ia melakukan debut dengan klub Jepang, Bellmare Hiratsuka (sekarang Shonan Bellmare), pada usia 18 tahun. 2 tahun kemudian ia membuat debutnya untuk tim nasional Jepang di usia 20. Dia muncul di panggung dunia pada 1998 sebagai bocah kurus berusia 21 tahun yang mewakili Jepang dalam Piala Dunia pertama mereka yang bersejarah. Jepang yang memakai jersey mencolok bergambar lidah api, gagal total di Piala Dunia pertama mereka, tetapi Nakata menjadi buah bibir. Rambut dengan kelir oranye khasnya bukan satu-satunya yang membuat Nakata menonjol. Hidetoshi-kun dianggap memiliki bakat, meskipun ‘masih hijau’ ia tampak tenang berhadapan dengan pemain sekaliber Diego Simeone atau Javier Zanetti.

Hidetoshi Nakata: Tsubasa di Dunia Nyata, sang Samurai Terakhir

Tak gentar melawan ‘raksasa’ sepakbola dunia. via twitter.com

ADVERTISEMENTS

Berlabuh di Italia

Setelah penampilannya yang mengkilap untuk Jepang, tampaknya hanya masalah waktu sebelum beberapa klub besar Eropa mulai mengendus aroma bintang yang sedang naik daun. Usia muda, dan bakatnya berhasil meyakinkan klub Italia, Perugia, untuk membayar Bellmare Hiratsuka 4 juta dolar, menjadikannya pemain sepakbola asal Jepang kedua yang bermain di liga Italia. Tentu saja Perugia bukan klub terbesar di dunia tetapi Hidetoshi-kun punya kesempatan bermain di salah satu liga paling bergengsi di dunia. Selama pergantian abad ke-21, Serie A adalah liga yang glamor, penuh bintang terbaik dari seluruh penjuru Eropa. Di Italia, Nakata menempa reputasinya sebagai gelandang cepat, kreatif, dan pekerja keras. Mencetak 10 gol di musim pertamanya di Serie A, di usia 22 tahun ia masuk daftar Pemain Terbaik Dunia FIFA dan Ballon d’Or.

Hidetoshi Nakata: Tsubasa di Dunia Nyata, sang Samurai Terakhir

Mencuri perhatian tim besar di Perugia via www.barcalcio.net

ADVERTISEMENTS

Pindah ke ibu kota

Semakin bersinar, ia makin sering dikaitkan dengan klub-klub yang lebih glamor dan setelah 1,5 musim di Perugia, ia bergabung dengan Roma dengan nilai transfer 21,5 juta euro. 18 bulan kemudian, bintang Jepang itu memastikan peran pentingnya dalam sejarah Giallorossi dengan membuat kemunculan sebagai cameo yang sensasional melawan Juventus. Saat Roma tertinggal 2-0 di Delle Alpi, Turin. Nakata masuk menggantikan ‘pangeran Roma’ Francesco Totti dan langsung menyarangkan gol luar biasa lewat tendangan kerasnya dari jarak 30 yard, sebelum kemudian menjadi inisiator gol penyeimbang Vincenzo Montella. Hasil seri itu mempertahankan keunggulan enam poin Roma di puncak Serie A musim 2000/2001 dan membawa Roma mengamankan scudetto ketiga mereka.

Hidetoshi Nakata: Tsubasa di Dunia Nyata, sang Samurai Terakhir

Meraih scudetto di Roma via www.asroma.com

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Puncak karier di Parma, hijrah ke Inggris

Nakata menikmati masa gemilangnya di Roma namun pada musim panas 2001 dia kembali bergerak. Meskipun diduga diminati juga oleh Arsene Wenger yang saat itu membesut Arsenal, Nakata memutuskan untuk tetap tinggal di Italia, kali ini ke utara menuju Parma. Datang bersamaan dengan hengkangnya Buffon ke Juve, di musim pertamanya di Parma ia kembali menghadapi momen penting melawan Juventus pada leg pertama final Coppa Italia. Memasuki injury time saat Parma tertinggal 2-0, Nakata mencetak gol dari tendangan voli menyambut umpan lambung Marco Marchionni. Meskipun kalah 2-1, Nakata memberikan Il Crociati gol tandang yang penting. Gialloblu kemudian sukses mengangkat trofi setelah menuntaskan comeback mereka dengan kemenangan 1-0 melawan Juve di Ennio Tardini. Ini mungkin puncak dari karir Nakata di Parma. Tidak lama di Parma ia pindah ke Bologna dan Fiorentina, kemudian mencoba peruntungannya di Premier League Inggris pada musim 2005/2006 bersama Bolton Wanderers,  sebelum memutuskan pensiun meski baru berusia 29 tahun. Nakata meninggalkan permainan yang telah dijalaninya dengan penuh dedikasi setelah Piala Dunia 2006 di Jerman, keputusan tersebut menjadi ikhtisar atas ketulusan yang telah ditunjukkan Nakata sepanjang kariernya.

Hidetoshi Nakata: Tsubasa di Dunia Nyata, sang Samurai Terakhir

Ucapan ulang tahun untuk Nakata, legenda di Parma via parmacalcio1913.com

Nakata, masih merupakan pemain Asia paling berbakat yang pernah diekspor ke Eropa. Ia menunjukkan bahwa untuk berkarier di Eropa memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi karena itulah, penggemar sepakbola seperti saya wajib bersyukur karena sempat menyaksikan Nakata di puncak permainannya. Bak samurai terakhir Nakata telah memperlihatkan apa artinya menjadi pejuang sejati, kesuksesannya di Italia dan timnas Jepang memberikan suntikan inspirasi bagi generasi muda di Asia. Antara tahun 1998 dan 2005 ia membawa nyala bagi banyak calon Tsubasa baru di Asia dan permainannya telah memberi penggemarnya kenangan indah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis