Pernahkah kamu membayangkan jika semua hal di dunia ini serupa antara satu dan lainnya? Nggak usah jauh-jauh deh, misalnya saja, ketika pasanganmu punya preferensi dan kebiasaan yang sama persis denganmu, apa yang terjadi? Mungkin di beberapa hal akan terasa menyenangkan, tapi di sisi lain, kesamaan ini justru membosankan.

Memang betul, harus diakui bahwa kita hidup berdampingan dengan segala macam perbedaan yang ada. Apa pun itu. Tapi, mengakui saja belum cukup. Kita diimbau juga untuk menghargai. Atau misalkan pun belum bisa di tahap menghargai, setidaknya berusaha untuk tidak ‘alergi’.

Perbedaan itu anugerah. Harusnya disyukuri, bukan dianggap rival yang lantas disaingi

perbedaan adalah anugerah via theoriticaleyes.blogspot.com

Advertisement

Kita ini cuma manusia. Bisanya apa sih kalau nggak menerima dan menyikapi apa-apa yang diberi oleh-Nya? Pemberian itu nggak semata-mata berwujud, yang nggak bisa diraba pun termasuk. Pun nggak selalu berupa hal-hal yang menggembirakan. Kadang-kadang kita juga ‘dipaksa’ untuk menerima perkara yang bertolak belakang.

Nah, perbedaan ini, boleh jadi dianggap sebagai hal yang bertolak belakang — yang secara nggak langsung menciptakan batasan-batasan. Tapi jangan lupa, bahwa perbedaan sudah menjadi fitrahnya manusia, bahkan sejak dilahirkan di dunia. Ini adalah bentuk kuasa yang nggak bisa dilawan. Ini anugerah. Karena sejatinya perbedaan adalah harmoni yang membuat hidup lebih berarti.

Jangan sampai alergi, perbedaan bukan kuman penyakit!

jangan sampai alergi via ilovelife.co.id

Alkisah ada seseorang yang berbeda keyakinan dengan keluarga besarnya. Ketika Hari Raya, orang ini selalu mengenakan kain panjang untuk menutupi kepalanya, sama seperti yang dilakukan saudara-saudaranya yang lain. Ketika tiba saatnya berdoa, orang ini juga ikut berdoa — dengan cara yang sama seperti yang dilakukan kerabatnya yang lain. Ketika ditanya, “Kamu kan beda agama, kenapa ikut berpenampilan dan beritual seperti kami?”. Lalu jawab orang ini, “Aku hanya berusaha menghargai dan membuat orang lain lega hati. Tapi ketika berdoa atau beritual lainnya, segenap hatiku tetap kutujukan pada Tuhan yang kuyakini.”

Advertisement

Tiap orang tentu punya cara pandangnya masing-masing untuk melihat perbedaan. Cara pandang inilah yang sangat menentukan bagaimana orang tersebut menyikapi perbedaan. Terlepas dari aturan-aturan yang mengikat — yang mengharuskanmu untuk tetap taat, berusaha untuk tidak ‘alergi’ terhadap segala macam bentuk perbedaan itu, pada dasarnya adalah perbuatan yang baik. Dan manusiawi.

Ketika dirimu sudah berdamai dengan perbedaan dan mengesampingkan ego untuk saling merangkul mereka yang berseberangan, kamu boleh menyebutnya sebagai sebuah ‘prestasi’

berdamai dengan perbedaan via www.guideposts.org

Meski perbedaan sudah jadi kodratnya manusia, nggak bisa dimungkiri bahwa kita ini punya keakuan diri yang sulit dikendalikan. Sadar atau pun nggak, kita akan lebih nyaman ketika berinteraksi dengan mereka yang satu kampung halaman, satu hobi, satu pendapat, satu pilihan, satu keyakinan, dan satu-satu yang dianggap serupa lainnya. Adalah persoalan berat dan nggak gampang ketika kita diminta untuk menyamankan diri dengan kondisi yang sama sekali nggak punya kedekatan secara personal.

Itulah kenapa ketika berhasil berdamai dengan situasi dan mampu menempatkan diri untuk memanusiakan manusia dengan segala perbedaan yang ada, kita bisa menyebutnya sebagai prestasi. Sebuah pencapaian yang pada akhirnya akan menaikkan derajatmu sebagai manusia.

Harapannya, tulisan ini dibaca oleh orang-orang dengan pemikiran yang cukup terbuka. Jadi ending-nya bukan memperdebatkan suatu paham dengan paham lain yang berbeda — karena bagaimana pun akan tetap berbeda, melainkan termotivasi untuk menyediakan diri menjadi jembatan di antara jurang perbedaan. Bukankah kita semua rindu akan kedamaian?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya