“Rum, kok cemberut sih? Senyum dong”

“Rum kok diem aja sih?”

Memiliki mimik muka dengan setelan default yang kalem (atau beberapa bilang seram) selalu memunculkan kesan bahwa saya adalah sosok pendiam. Ya meskipun nggak 100% salah sih. Tapi ungkapan itu akan kemudian dilanjutkan “Apah???? Kamu pernah jadi penyiar?” sambil melotot ala adegan di sinetron-sinetron. Saya ini memang aneh, kadang berhadapan dengan segerombolan orang bikin saya deg-degan, tapi berhadapan dengan ribuan yang lainnya saya biasa saja. Setelah banyak membaca ternyata saya ini termasuk golongan ambivert. Mirip-mirip dengan amfibi, bisa hidup di air dan di darat. Kalau saya sih di darat dan di udara. Nggak melulu menguntungkan tapi nggak melulu rugi juga kok.

Mungkin nggak sepopuler introver dan ekstrover, tapi mungkin kamu juga sudah nggak asing sama ambivert. Pokoknya ribet

Sampai cari di rak buku ilustrasinya via jakarta.tribunnews.com

Advertisement

Jika introver berarti lebih suka menyendiri dan tertutup, ekstrover justru sebaliknya. Orang dengan kepribadian ini cenderung menyukai keributan kayak warganet keramaian. Nah, ambivert ini berada di tengah-tengahnya. Saya bisa menikmati keramaian seperti mendatangi konser, pergi jalan-jalan bersama teman-teman, atau datang ke kampanye caleg biar dapat kaus partai gratisan. Tapi, ada kalanya energi saya habis dan hanya ingin di kamar scroll-scroll linimasa Twitter atau Instagram, ya ujung-ujungnya menyaksikan keributan juga sih.

Saya bisa deg-degan diajak kenalan orang baru, tapi lancar jaya ngobrol sama Luna Maya. Apakah kemiripan fisik juga berpengaruh?

Ternyata lebih mirip bonekanya via entertainment.kompas.com

Eits! Kok marah?

Cara menghadapi orang baru bagi orang-orang dengan kepribadian tertentu juga berbeda. Mungkin sedikit lebih susah bagi introvert karena dasarnya yang nggak suka bertemu orang atau justru perkara kecil bagi ekstrovert karena hal tersebut justru menyenangkan. Bagi ambivert, hal ini susah susah gampang untuk dilakukan. Saya bisa saja bertemu orang baru di tempat baru dan salah tingkah atau bahasa Jakselnya socially awkward, tapi bisa lancar jaya berbicara ngalor ngidul dengan orang yang akan saya wawancara saat masih di radio. Hmm bingung kan?

Berhadapan dengan satu orang saja deg-degan, bagaimana kalo jumlahnya ada ribuan?

Banyak sekalian via unsplash.com

Advertisement

Surprisingly, justru ini nggak masalah. Meskipun memang pemalu, saya menjadi MC juga lo beberapa kali. Yang dihadapi? Bisa ratusan sampai ribuan orang. Tapi, saya bisa seketika mati gaya saat harus menghadapi puluhan orang saja. Mungkin karena intensitasnya beda. Tapi, setelah saya amati bisa juga alasannya karena saya percaya dulu sama diri sendiri, akhirnya kepercayaan diri naik ditambah adanya briefing yang detail.

Menjadi pribadi yang ambivert justru bisa jaya baik di darat maupun di udara lo. Asal mau dipaksa dan lelah-lelah sedikit setelahnya

Pernah jadi penyiar radio?

Memiliki kualitas yang juga dimiliki baik introvert dan ekstrovert sesungguhnya bisa menjadi senjata ampuh bagi kita untuk berjaya.  Buktinya saya yang sering dibilang pendiam justru bikin orang-orang terdiam karena mendengar saya siaran atau justru sekali dua kali melayangkan pujian. Wow riya’. Di sisi lain, saya juga suka menulis, karena dengan menulis saya bisa banyak berbagi melalui tulisan yang nggak perlu saya keluarkan bersama energi yang sangat banyak terbuang saat saya berbicara.

Menjadi penulis nggak harus jadi introvert, ekstrovert atau ambivert, Gengs. Menjadi penulis hanya perlu menulis karena #SemuaBisaJadiPenulis

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya