• 17 Desember 2017

Bagaimana rasanya menjadi ibu muda yang baru melahirkan? Bahagia tentu. Apalagi dengan semarak media sosial, banyak ibu-ibu muda yang mengunggah kebahagiaan mengurus anak pertama. Membuat banyak orang ingin juga segera merasakan kebahagiaan yang sama.

Namun di balik senyum bahagia seorang ibu di media sosial, ada sejuta cerita yang tidak diungkapkan. Ada setumpuk konflik pasca melahirkan yang dihadapi oleh seorang ibu muda. Bukan hanya soal minimnya pengalaman mengurus anak, baby blues, tapi juga konflik akibat perbedaan pendapat dengan orang tua.

Dear Moms

Advertisement

Perubahan zaman tak pelak menjadi akar persoalan. Kemajuan digital mau tidak mau memberi nuansa dalam pemikiran ataupun pola asuh ornag tua masa kini. Sumber informasi yang mudah diakses, membuat tren parenting senantiasi diperbarui sehingga menghasilkan temuan baru dalam hal merawat anak, yang mematahkan teknik-teknik asuh orang tua zaman dahulu.

Di sisi lain, Menurut Psikolog Tiga Generasi, Inez Kristianti, kehadiran cucu bagi seorang nenek di usia senja seperti mengembalikan makna hidup mereka. Sangat wajar apabila mereka ingin terlibat dalam mengurus cucunya. Akan tetapi para ibu dari kaum milenial tetap mempercayai gaya pengasuhan era sebelumnya yang sudah terbukti dan sukses dipraktikkan sendiri. Perbedaan inilah yang kemudian memicu konflik pasca melahirkan antara ibu baru dengan orang tuanya. Tak pelak konflik ini sangat mempengaruhi mood ibu baru.

“Kadang-kadang, konflik dengan orang tua sendiri, justru lebih banyak timbul terutama saat kita sudah menjadi ibu. Misalnya, saat orang tua masih pro mitos, meminta kita menerapkan pola asuh yang berbeda dengan keinginan kita, dan sebagainya,” ungkap Vendryana, seorang ibu baru juga Influencer dan Founder dari Dearmoms.id, dalam Talkshow Dear Moms di area Mom+Me Market, West Mall Grand Indonesia, Jakarta.

Damai Bersama Ibu

Advertisement

Bila tidak dikelola dengan baik, konflik ibu-anak ini bisa menimbulkan perselisihan dan keretakan hubungan keluarga yang berkelanjutan. Oleh karena itulah, ibu baru harus bisa menghadapi perbedaan dengan orang tua, serta bijak dalam mengelola konflik pasca melahirkan karena gap generasi tersebut.

“Perubahan mood di 1-2 minggu pascamelahirkan, memang umum terjadi pada kaum wanita. Sekitar tujuh puluh persen ibu, mengalami postpartum blues. Bila perasaan ini ditambah dengan tanggungjawab baru menjadi ibu, bukan tak mungkin akan membuat ibu baru menjadi lebih sensitif. Salah satunya, ketika menghadapi orangtua atau mertua yang memiliki  cara tersendiri dalam merawat bayi,” jelas Inez Kristianti, M.Psi, seorang psikolog Tiga Generasi.

Seorang ibu baru harus memperhatikan beberapa hal ketika menghadapi konflik pasca melahirkan, diantaranya: 1) Memahami bahwa baik ibu ataupun nenek memiliki tujuan dan maksud yang baik demi sang buah hati 2) Mengomunikasikan setiap perbedaan sehingga ada kesepakatan 3) Memberi izin sekaligus memberikan batas yang disepakati berdua, sejauh mana nenek boleh terlibat 4) Rajin mencari sumber dan data untuk metode pengasuhan tertentu, sehingga bisa menjelaskan dengan sopan kepada nenek tentang alasan pemilihan gaya pengasuhan tersebut.

Menyadari bahwa persoalan gap generasi yang bisa menimbulkan konflik pasca melahirkan ini, Dearmoms.id mempersembahkan sebuah film pendek bertajuk Damai Bersama Ibu yang akan tayang perdana pada tanggal 17 Desember 2017 di channel Youtube Dead Moms. Film yang disutradarai oleh Benazio (@benakribo) dan cco director Vendryana ini, terinspirasi dari kisah nyata beberapa ibu milenial yang mengalami percekcokan dengan ibu sendiri saat hamil dan melahirkan.

Yuk tonton dan belajar bareng-bareng! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya