• 23 Oktober 2019
  • Ubud, Bali

Penyelenggaraan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2019 sudah semakin dekat. Setelah pada bulan Juli lalu UWRF meluncurkan tiket Early Bird dan mengumumkan 16 nama pembicara tahap awal, pada hari ini, Selasa (13/08/2019), perhelatan sastra danseni terbesar di Asia Tenggara ini resmi meluncurkan Main Program dan daftar lengkap nama lebih dari 180 pembicara yang terdiri dari penulis, jurnalis, seniman, sutradara, pegiat,dan tokoh penting lainnya yang berasaldari 30 negara. Pada tanggal 23-27 Oktober mendatang, mereka akan hadir dalam lebih dari 170 program di lebih dari 70 lokasi di Ubud, yang tahun ini menempati urutan keenam dalam daftar 15 Kota Terbaik di Dunia versi Travel + Leisure.

Dari Indonesia hingga Italia, Kolombia hingga Kamerun, Thailand hingga Turki, Portugal hingga Pakistan dan puluhan negara di antaranya, program lima hari penuh percakapan, panel diskusi, acara spesial, pertunjukkan musik dan seni, lokakarya penulisan, dan banyak lainnya ini akan menunjukkan kepada para pencinta sastra dan penggemar seni mengapa The Telegraph menyebut UWRF sebagai salah satu dari lima festival sastra terbaik dunia untuk tahun 2019. Nama pembicara tahap awal nasional yang diumumkan pada bulan lalu termasuk sastrawan terkemuka Indonesia Seno Gumira Ajidarma, sastrawan Aceh penulis Kura-kura Berjanggut, novel ambisius mengenai lada, bajak laut, dan bangkitnya kolonialisme Azhari Aiyub,penulis dan jurnalis pemenang penghargaan Laksmi Pamuntjak, serta peneliti yang bertekad untuk mengangkat kaum minoritas dan terpinggirkan di Indonesia Andreas Harsono.

Advertisement

Dengan bangga, Festival juga menyambut nama-nama menarik lainnya seperti penulis fiksidan non-fiksi yang mengetuai Komite Dewan Kesenian Jakarta sejak 2016 Yusi Avianto Pareanom,dan mantan jurnalis Kompas sekaligus jurnalis pertama penerima penghargaan Yap Thiam Hien untuk HakAsasi Manusia kategori Human Right Educator tahun 2003 Maria Hartiningsih. Sebagai wadah utama bagi Indonesia untuk menjembatani para penulis dan senimannya kehadapan dunia, selain lima penulis yang memenangkan kompetisi Emerging Writers tahun ini, dengan bangga Festival juga akan menyambut penulis kumpulan puisi dan novel Faisal Oddang, yang baru saja menerbitkan novel Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa, penulis kumpulan puisi Theoresia Rumthe, perancang mode yang mendedikasikan dirinya untuk memajukan arah mode tekstil Indonesia dan Asia Didiet Maulana, seniman patung dan instalasi, sekaligus penggagas ogoh-ogoh tanpa styrofoam Marmar Herayukti, serta seniman pertunjukan yang dikenal secara internasional yang karyanya fokus pada aspek budaya, sosial dan politik Melati Suryodarmo.

Beberapa ilustrator muda yang namanya semakin dikenal masyarakat karena karya-karyanya yang menarik pun akan ikut meramaikan UWRF. Selain seniman visual Lala Bohang yang dikenal dengan serial ilustrasinya The Book of Siblings, UWRF akan menyambut ilustrator yang berkolaborasi dengan Dewi Lestari untuk sampul buku Aroma Karsa Hezky Kurniawan, pencipta karakter ChooChoo dalam buku You’re Not As Alone As You Think Citra Marina, serta ilustrator yang fokus pada proyek berkisah dan yang berhubungan dengan buku Kathrin Honesta. Tidak ketinggalan, Rizka Ramli, pelajar dan ilustrator dari Makassar yang menjuarai Kontes Komik Superhero Sekolah UNICEF.

Sebagai Festival sastra yang secara konsisten mendukung dan mengikuti arus perkembangan industri film Indonesia, UWRF juga akan menghadirkan sutradara kawakan Indonesia Garin Nugroho, sutradara film eksperimental sekaligus novelis Richard Oh, serta penulis skenario di balik film-film paling menakjubkan Indonesia Rayya Makarim. Mereka hadir untuk membuka mata pengunjung Festival akan sisi paling menarik sekaligus menantang dalam berkarya di balik industri perfilman. Sementara itu, beberapa nama pembicara yang pernah hadir dalam Festival pada tahun sebelumnya dipastikan kembali untuk berbagi ilmunya dalam UWRF2019. Mereka adalahpenulis sekaligus jurnalis Indonesia yang karyanya selalu memetik pujian Leila S. Chudori, penulis sekaligus pelopor Kelas Cerpen Kompas Putu Fajar Arcana, serta penulis, seniman, sekaligus pegiat gender Eliza Vitri Handayani.

Advertisement

Dari internasional, deretan pembicara tahap awal UWRF termasuk penulis makanan asal Inggris Yotam Ottolenghi, penulis buku terlaris asal Amerika Susan Orlean, serta jurnalis, cendekiawan, sekaligus penulis pemenang pernghargaan berdarah Kurdish-Iran Behrouz Boochani, yang saat ini masih ditahan di Pusat Detensi Pengungsi Australia di Pulau Manus dan akan hadir melalui siaran langsung. Di antara lebih dari 180 nama pembicara yang diumumkan hari ini, ada penulis Trainspotting yang legendaris Irvine Welsh, pegiat feminis dan penulis opini di New York TimesLindy West, senimanhip-hop pemenang BAFTA, penulis, sekaligus pengusaha sosial Akala, jurnalis, penulis, dekaligus finalis Pulitzer PrizeMegan K.Stack, serta penyair sekaligus penulis naskah drama pemenang penghargaan Lemn Sissay.

Mereka akan bergabung dengan penulis Iran-Amerika terkenal dan cendekiawan agama Reza Aslan, penulis memoar terlaris Kanada Lindsay Wong, jurnalis dan penulis Pakistan Sanam Maher, penulis sekaligus penerjemah Turki Nazli Karabiyikoglu, dan penulis yang dinominasikan untukMan Booker Prize dan pembuat film dokumenter Guy Gunaratne. Seperti sebelumnya, Festival juga akan memberikan ruang bagi suara-suara berani dan parajurnalis berkomitmen darikawasan Asia dan sekitarnya, yang pada tahun ini termasuk Pitchaya Sudbanthaddari Thailand, penyair Eunice Andradadari Filipina, ahli strategi global Parag Khanna dari Singapura, penulis dan jurnalis Karoline Kandari Tiongkok, penulis dan jurnalis Patrick Winnyang menetap di Bangkok, jurnalis dan analis Erin Cook yang menetap di Jakarta, serta penulis dan jurnalis Michael Vatikiotis yang menetap di Singapura.

Festival juga akan menyambut beberapa sosok dariAustralia untuk menjadi pembicara UWRF. Tahun ini, akan hadir Pendiri Lonely Planet Tony Wheeler, penulis dan pegiat penampilan Carly Findlay, penulis pemenang penghargaan Toni Jordan, dan penulis pemenang penghargaan, penyunting sekaligus kritikus Fiona Wright. “Pencapaian kami tahun ke-15 padatahun lalu sangatlah istimewa,” komentar Pendiri danDirektur UWRFJanet DeNeefe.

“Akan sulit dilampaui. Namun, ada beberapa hal yang telah kami siapkan saat ini untuk mengobati keingintahuan dan berbagi suara-suara hebat dari beberapa daerah yang kurang dikenal, untuk karya-karya terjemahan oleh orang-orang kulit berwarna, untuk cerita-cerita yang membuka mata kita ke dunia yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini kita tinggali.”

“Selama 16 tahun, UWRF bangga berbagikisah-kisah ini, dan sekarang kami merasa komunitas sastra global akhirnya mengikuti langkah kami. Saya pikir sudah menjadi sebuah fakta bahwa acara yang relatifkecil dan intim di Indonesia, yang diprakarsai oleh sebuah yayasan nirlaba ini, sekarang berada di antara festival sastra terbaik dunia. Hal ini benar-benar luar biasa,” lanjut Janet DeNeefe. “Jika Anda adalah seorang pencinta kisah-kisah menarik, gagasan-gagasan berani dan wawasan unik dari berbagai belahan dunia yang luar biasa ini, datang dan nikmati tahun ke-16 ini bersama kami, dan rasakan berbagai keajaiban yang menjadikan kami dikenal hingga saat ini.”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya