Orang bilang 1 gambar bisa berbicara 1000 kata. Dari foto tempat-tempat indah seperti Bali atau Hawaii yang selalu buat kita ingin pergi ke sana, sampai foto dan video bom di Surabaya kemarin yang membuat seluruh rakyat Indonesia merasa tercekam. Saking berpengaruhnya foto, video, dan gambar mengerikan itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah menghapus 1.200 konten berhubungan dengan aksi teror Surabaya dari Facebook.

Berbeda dengan persebaran gambar mengerikan tanpa sensor yang hanya akan memperparah situasi teror seperti kejadian minggu lalu, terkadang memang ada foto-foto mengerikan yang harus ‘disampaikan’ kepada publik. Seperti foto perang dan krisis kemanusiaan. Tanpa adanya gambar langsung dari medan perang atau pusat konflik, masyarakat umum seperti kita tidak akan tahu apa yang terjadi di Afghanistan atau Palestina. Di balik tiap foto itu, ada wartawan perang yang bertaruh nyawa untuk bercerita dan memperlihatkan realita yang terjadi di tempat-tempat konflik tersebut.

Tetap harus siap memotret meskipun di tengah ledakan via www.aljazeera.com

Advertisement

Apa yang dirasakan para wartawan saat benar-benar ada di medan perang? Berikut Hipwee News & Feature telah merangkum potret kehidupan wartawan yang belum banyak diketahui.

1. Para wartawan perang melakoni profesi itu bukan semata-mata karena suka menguji adrenalin. Tapi lebih ke “panggilan hati”. Mereka ingin membuktikan kalau tragedi kemanusiaan itu benar-benar nyata

Jadi saksi kejahatan kemanusiaan via imemc.org

War journalists are not all addicted to adrenaline. It’s a calling.” – Lynsey Addario, jurnalis foto yang bekerja di daerah-daerah konflik, dilansir The Guardian.

2. Saat turun di medan perang, mereka dihadapkan pada banyak sekali risiko berbahaya. Entah ada berapa banyak jurnalis yang terkena ledakan granat saat meliput perang

Risikonya sangat besar via egyptianstreets.com

“Saya telah berada di Afganistan selama sebulan ketika saya menginjak ranjau darat. Saat saya menurunkan kaki saya, saya mendengar bunyi klik logam dan saya terlempar ke udara.” – pengakuan João Silva, seorang fotografer yang meliput perang di Afganistan, 2010, dilansir The Guardian.

3. Serangan gas air mata juga sering terjadi. Padahal mereka harus tetap bisa mengambil momen-momen penting, bagaimana pun keadaannya

Gas air mata dimana-mana via journo.com.tr

Advertisement

Saya mencoba untuk tidak mencium bau daging yang terbakar dan mengambil beberapa foto lagi, tetapi saya kehilangannya dan menyadari bahwa kerumunan orang dapat berbalik pada saya kapan saja.” – Greg Marinovich, jurnalis perang, dikutip The Guardian.

4. Belum lagi kalau sudah terjadi baku tembak antara dua pihak yang bertikai. Kemungkinan peluru nyasar juga nggak bisa dihindari

Bekerja dengan dikepung lontaran peluru via barneymccoy.wordpress.com

“Saya bekerja di Afrika Selatan selama bertahun-tahun dan ditembak tiga kali. Cedera keempat dan terakhir, di Afganistan pada tahun 1999, bukan yang terburuk, tetapi saya memutuskan, cukup sudah.” – Greg Marinovich, dalam The Guardian.

5. Meskipun menurut Konvensi Jenewa, pers termasuk orang-orang yang dilindungi saat terjadi perang, tapi fakta di lapangan nggak sedikit wartawan yang ikut disandera

Besar kemungkinan diculik via www.aljazeera.com

I was kidnapped in Fallujah in 2004.” – Lynsey Addario, dalam The Guardian.

6. Apalagi kalau dia cewek, kemungkinan dilecehkan dan diculik lebih besar! Banyak lho jurnalis senior yang mengaku pernah mendapat perlakuan nggak senonoh

Jurnalis wanita terluka via www.alaraby.co.uk

Mereka mulai meraba-raba saya dengan sangat agresif, menyentuh payudara dan pantat saya. Kemudian kami diikat, ditutup matanya, dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain selama enam hari.” – pengakuan Lynsey Addario, saat meliput perang di Libya, dilansir The Guardian.

7. Pekerjaan ini nggak bisa dipandang sebelah mata. Butuh kemampuan khusus untuk bisa bertahan di tengah medan perang. Mereka dituntut tetap profesional meski dikepung peluru dan granat

Pekerjaan yang nggak bisa dianggap enteng via felesteen.ps

Saya ingat saya merasa sangat ketakutan karena masih ada letupan, desis dan ledakan kecil, dan gedung itu runtuh. Itu masih sangat segar di ingatan, dan ada risiko bom lain.” – Adam Ferguson, fotografer yang meliput perang di Afganistan 2009, dilansir The Guardian.

8. Belum lagi mereka juga harus bisa mengontrol emosi terlebih saat melihat teman sesama wartawannya gugur saat bertugas

Nggak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan via twitter.com

“Selain itu, dalam situasi yang ekstrem memungkinkan hubungan antar sesama menjadi lebih kuat. Dalam situasi sama-sama terjepit, setiap orang secara naluriah akan saling tolong.” – Rauli Virtanen, koresponden senior dari Finlandia yang pernah mengunjungi 194 negara untuk meliput perang, dilansir Detik.

9. Wartawan perang butuh ketahanan fisik dan psikologis di atas rata-rata. Ini karena mereka bisa saja dihadapkan pada kondisi ekstrem yang sering terjadi tanpa terduga

Kondisi ekstrem bisa terjadi kapanpun dan dimanapun via www.middleeasteye.net

“Seperti pekerja kemanusiaan, para wartawan juga membekali diri dengan pelatihan-pelatihan khusus bagaimana bisa survive dalam kondisi ekstrem.” – Rauli Virtanen, dalam Detik.

10. Saat kembali dari lokasi perang, para wartawan atau fotografer perang dilarang memanipulasi sedikitpun foto atau video hasil liputannya. Ini dilakukan untuk menghindari subjektivitas berita

Dilarang memanipulasi hasil liputan via btnews.online

Kewaspadaan jadi satu-satunya hal yang nggak boleh dilupakan para wartawan perang saat bertugas. Beda dengan wartawan biasa yang meliput peristiwa atau kejadian umum sehari-hari. Wartawan perang dituntut bisa mengendalikan diri, peka terhadap lingkungan sekitar, dan bisa melakukan pendekatan personal dengan pihak-pihak yang bertikai, di tengah menunaikan kewajibannya mengumpulkan data-data di medan perang. Salut banget deh buat mereka yang mendedikasikan diri dan mengorbankan nyawanya demi sebuah potret nyata kejahatan kemanusiaan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya