Coba kamu ingat-ingat, pernahkah kamu disuruh membayar tissue toilet setiap akan buang air di WC umum? Kebanyakan tissue sudah jadi fasilitas wajib setiap toilet di tempat-tempat umum. Mau ambil sebanyak apapun juga gratis. Memang ada sih toilet yang berbayar, tapi mentok-mentok paling juga cuma Rp2.000 dan nggak ada batasan maksimal berapa banyak tissue yang boleh digunakan.

Sekarang, coba objek pertanyaannya diganti dengan pembalut. Pernahkah kamu dapat fasilitas pembalut gratis di toilet umum? Mari taruhan. Pasti sebagian besar atau bahkan semua jawabannya tidak pernah. Ya, di Indonesia dan banyak negara di dunia, pembalut, tampon, atau menstrual cup harus dibeli dengan uang. Harganya memang bervariasi, mulai dari di bawah Rp10.000 sampai ratusan ribu, tapi biasanya yang harganya murah juga kurang nyaman dipakai dan mungkin juga bahan-bahan pembuatnya kurang baik buat kesehatan. Jadi bisa dibilang kalau kita para cewek mau pembalut kualitas tinggi, ya harus siap keluar kocek tak sedikit.

Advertisement

Sulitnya sebagian orang mendapat pembalut ini jadi salah satu alasan kenapa pembalut seharusnya disubsidi atau bahkan gratis. Hipwee News & Feature telah merangkum alasan lainnya untuk kamu. Simak yuk!

1. Sudah kodrat sebagai wanita untuk mengalami siklus bulanan yaitu menstruasi. Jadi bisa dibilang nggak ada cewek yang nggak butuh pembalut

Semua cewek butuh pembalut via produkwish.com

Pembalut sudah seharusnya juga dianggap sebagai barang primer. Karena kalau dipikir-pikir nggak ada cewek yang nggak butuh pembalut. Setiap bulannya mereka mengalami menstruasi, ini nggak bisa dihindari lho. Jadi ya mau nggak mau mereka butuh pembalut. Mungkin bisa dibilang pembalut ini sama pentingnya kayak beras di Indonesia.

2. Sayangnya nggak semua orang paham situasi ini adalah normal. Di beberapa negara seperti India dan Nepal, masih banyak diterapkan budaya pengasingan cewek-cewek yang haid

Tradisi Chhaupadi via www.hipwee.com

Budaya pengasingan ini disebut Chhaupadi. Meski sudah banyak dilarang karena seringkali menelan korban, tapi tradisi ini sampai sekarang masih diterapkan di beberapa daerah pedalaman di India atau Nepal. Saat masa haid, perempuan di sana diasingkan di sebuah gubuk sempit atau kandang ternak, jauh dari rumah mereka agar keluarga nggak tercemar. Darah haid yang kotor dianggap bisa membawa malapetaka seperti matinya hewan ternak, gagal panen, sampai menularkan penyakit. Bahkan mereka juga nggak boleh melakukan aktivitas seperti berinteraksi dengan orang lain dan bersekolah!

Advertisement

Sayangnya tradisi ini seringkali menelan korban. Banyak dari mereka yang meninggal karena serangan hewan buas, keracunan asap dari api di gubuk, sampai dilecehkan secara seksual oleh para lelaki. Duh, susah banget ya jadi cewek di sana!?

3. Belum lagi bagi masyarakat miskin, pembalut jadi prioritas ke sekian. Padahal tiap bulan tamunya pasti datang ‘kan…

Pembalut jadi prioritas ke sekian. Sebagai gantinya biasanya mereka pakai kain bekas yang belum tentu kebersihannya terjamin via edition.cnn.com

Masih banyak orang yang nggak memasukkan pembalut dalam daftar belanja bulanan, terlebih bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Buat mereka pembalut jadi prioritas ke sekian. Padahal menstruasi selalu datang setiap bulan. Harga pembalut yang cukup mahal jadi alasannya. Terlebih jika jumlah perempuan di rumah mereka terbilang banyak. Anggap aja mereka cuma mampu beli yang Rp5.000 satu bungkusnya. Tentu nggak cuma butuh 1, tapi lebih.

Gimana dengan masyarakat pedalaman yang sama sekali nggak mampu beli? Boro-boro pembalut, makan aja mereka susah. Biasanya kalau gitu mereka akan mencari barang substitusi yang entah higienis atau nggak atau ya nggak pakai apa-apa. Padahal kalau haid nggak teratasi, ngaruhnya ke produktivitas. Mereka jadi nggak bisa sekolah, bekerja, atau melakukan apapun. Apa-apa susah, jadi terbatasi.

4. Saat bencana melanda, orang masih banyak yang fokus menyumbangkan kebutuhan pokok kayak beras, mie instan, dan lain-lain. Padahal di wilayah bencana cewek juga butuh pembalut

Apalagi di wilayah bencana, pembalut sering banget terabaikan via www.menstruationresearch.org

Belum lagi kalau bencana melanda. Mungkin hampir semua dari kita cuma kepikiran buat menyumbangkan barang-barang kebutuhan pokok kayak beras, mie instan, gula, atau baju-baju bekas. Jarang banget ada yang inisiatif nyumbang pembalut. Padahal nggak peduli bencana, cewek tetap akan datang bulan. Di daerah bencana jelas mereka kesulitan menemukan pembalut. Bayangkan aja di saat-saat hectic di wilayah bencana mereka haid dan nggak ada pembalut. Belum lagi pasti lingkungan mereka nggak bersih. Bisa jadi mereka rentan terkena infeksi atau penyakit reproduksi lainnya.

5. Meski di Indonesia masih jarang yang kepikiran buat mendorong pemerintah ngasih pembalut gratis, tapi di beberapa negara sudah ada yang menginisiasi gerakan semacam ini lho

Michelle Obama saat pidato gerakan “Let Girls Learn” via www.newsweek.com

Michelle Obama, sekitar pertengahan 2016 lalu mengumumkan sebuah gerakan yang ia inisiasi sendiri, namanya “Let Girls Learn”. Salah satu fokusnya adalah mendorong sekolah atau institusi untuk menyediakan pembalut atau tampon gratis di toilet-toiletnya. Menurutnya, nggak seharusnya cewek mengorbankan sekolah atau kesehatannya cuma karena menstruasi. Mereka punya hak yang sama dengan lelaki atau cewek lain yang sedang nggak haid; hak pendidikan, hak beraktivitas, hak berpendapat, dan lainnya. Di AS, setidaknya 1 dari 5 remaja usia 12-17 tahun hidup dalam kemiskinan. Mereka nggak mampu membeli pembalut atau tampon untuk mengatasi tamu bulanannya.

Dengan adanya gerakan tersebut, Michelle ingin agar para siswa tak perlu lagi khawatir jika siklus bulanannya datang. Ia mengharapkan agar siswa bisa tetap fokus belajar dan produktif. Ya kalau ternyata dengan memberikan pembalut gratis, remaja dan wanita di luar sana bisa lebih produktif, bukankah itu jadi sebuah investasi negara?

Bonus – toilet di sebuah kantor di Tel Aviv, Israel

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya