Penting, 4 Fakta Sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang Perlu Kamu Tahu

Dengan mengetahui fakta ini kamu bisa lebih baik meneladani apa yang menjadi semangat para pendiri bangsa

Sebagian besar dari kamu mungkin sudah tahu kalau setiap tanggal 20 Mei kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Peringatan yang menjadi momentum bangkitnya semangat nasionalisme pada tahun ini mengusung tema “Ayo Bangkit Bersama” agar Indonesia kembali jaya. 

Nah, meski sudah ikut memperingatinya setiap tahun, sebagian dari kamu mungkin masih ada yang belum tahu fakta-fakta di balik peringatan Harkitnas. Agar bisa lebih baik memaknai Harkitnas tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, yuk simak dulu 4 fakta berikut. 

1. Harkitnas diperingati berdasarkan tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo

Lukisan di jalanan tentang Kebangkitan Nasional | Photo by Nationaal Museum van Wereldculturen, CC BY 4.0 via Wikimedia Commons

Peringatan Harkitnas nggak lepas dari peran Boedi Oetomo, organisasi pergerakan pertama di republik ini yang bersifat nasional dan disusun dalam bentuk modern. Dilansir dari laman Direktorat Jenderal Kebudayaan, tanggal peringatan Harkitnas bahkan diambil dari tanggal berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.

Meski sudah berdiri sejak tahun 1908, tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas baru diputuskan setelah kemerdekaan pada tahun 1948 oleh presiden Soekarno. Peringatan Harkitnas pertama kali digelar di Yogyakarta yang pada masa itu merupakan ibu kota republik ini. 

2. Harkitnas diperingati karena semangat persatuan yang digagas Boedi Oetomo

Ilustrasi persatuan | Photo by Prostock-Studio from iStockphoto

Dilansir dari laman Museum Sumpah Pemuda, pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, bangsa ini mengalami banyak ancaman perpecahan antar golongan dan ideologi. Adalah semangat persatuan Boedi Oetomo yang menjadi solusi dalam menghimpun sekaligus mencegah perpecahan bangsa. 

Spirit tersebut sejalan dengan tujuan berdirinya Boedi Oetomo, yaitu mengejar ketertinggalan Indonesia dari bangsa-bangsa lainnya. Dalam upayanya, Boedi Oetomo berbeda dari organisasi pergerakan lain yang mengedepankan aksi kekerasan untuk melawan pemerintah kolonial.

Boedi Oetomo yang pada akhirnya berhasil menyatukan pergerakan di Indonesia dari yang bersifat kedaerahan menjadi nasional dengan tujuan akhir kemerdekaan, memilih aktif di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan tanpa melibatkan unsur politik untuk memupuk rasa nasionalisme. 

Masih dari laman Direktorat Jenderal Kebudayaan, Presiden Soekarno dalam setiap pidatonya terkait Harkitnas bahkan selalu menegaskan bahwa Boedi Oetomo merupakan awal kesadaran bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dengan cara berorganisasi.

3. Tokoh-tokoh berpengaruh di balik Hari Kebangkitan Nasional adalah para mahasiswa STOVIA

Gedung STOVIA | Photo by Tan Tjie Lan., CC BY 4.0, via Wikimedia Commons

Banyak yang mengira Boedi Oetomo didirikan oleh orang-orang dengan latar belakang pendidikan politik atau sosial. Sejatinya bukan. Dikutip Katadata dari buku “Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia”, Boedi Oetomo didirikan oleh para mahasiswa kedokteran yang belajar di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), di bawah pimpinan R. Soetomo.

Beberapa tokoh pendiri Boedi Oetomo selain R. Soetomo di antaranya adalah Soeradji Tirtonegoro, Wahidin Soedirohusodo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan lainnya. Berdirinya Boedi Oetomo berangkat dari misi ingin semua orang Indonesia mendapat pendidikan yang layak, dan mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi.

Lebih spesifik untuk kebangkitan nasional, dikutip dari Tirto.id, Boedi Oetomo meletakkan tiga cita-cita meliputi memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehidupan bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia, 

Anggota lain Boedi Oetomo adalah Ki Hajar Dewantara yang merupakan pelopor pendidikan bagi masyarakt Indonesia, HOS Tjokroaminoto yang saat bergabung menjabat sebagai komisaris, dr. Tjipto Mangunkoesoemo, M. Soelaiman, Soewarno I, R. Angka, R.M Goembrek, Moh. Saleh dan M. Soewarno.

4. Boedi Oetomo mempelopori organisasi pergerakan di masa selanjutnya

Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1937-1943, organisasi yang lahir setelah Boedi Oetomo dan masih eksis sampai sekarang| Photo by Unknown author, published by Central Board of Muhammadiyah, Public domain, via Wikimedia Commons

Konsep yang diterapkan oleh Boedi Oetomo sebagai organisasi pergerakan terbukti efektif memupuk rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Bahkan pemerintah kolonial menanggapi cara dan metode yang Boedi Oetomo jalankan secara positif. 

Perlahan setelah Boedi Oetomo, maka lahir pula sejumlah organisasi pergerakan dengan pendekatan serupa, seperti Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah. Dilansir dari Kompas.com, Muhammadiyah yang masih eksis sampai hari ini sebagai sebuah organisasi merupakan hasil interaksi Kyai Haji Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo. 

Itu dia 4 fakta sejarah di balik Hari Kebangkitan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 20 Mei. Bagaimana? Sekarang kamu punya sudut pandang yang baru kan, dalam memaknai Harkitnas?

Nah, nggak hanya sejarah mengenai Harkitnas, sebagai Gen-Sy yang didefinisikan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai generasi yang menilai penting keseimbangan hidup, kita juga perlu banyak membaca literatur dan meningkatkan literasi terkait sejarah bangsa Indonesia secara utuh, agar bisa lebih baik dalam memaknai hari-hari penting dan meneladani apa yang menjadi semangat para pendiri bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor