5 Remaja Bercerita tentang Dampak Covid-19 yang Dialami Sehari-hari

Dampak Covid-19 bagi remaja

Pandemi Covid-19 memang telah memaksakan banyak perubahan dalam hidup kita. Dampaknya terasa di seluruh lini kehidupan. Siapa yang sudah kangen nongkrong bareng teman-teman, ngobrol sembari minum boba, tanpa rasa was-was? Walau rasa kangen sudah numpuk-numpuk, tahan diri sedikit lagi, ya. Soalnya meskipun saat ini proses vaksin, terutama untuk nakes, sudah berjalan, kita masih harus tetap patuh pada protokol kesehatan, lho.

Kita semua merasakan dampak Covid-19, termasuk para remaja yang tinggal di daerah. Karena pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan juga sampai ke daerah-daerah yang secara fasilitas baik kesehatan, pendidikan, dan lain-lain lebih terbatas. Karena itu, dampak Covid-19 yang dirasakan oleh para remaja ini tentu sedikit berbeda dengan yang tinggal di kota, meskipun sama-sama menyulitkan. Hipwee sudah ngobrol dengan beberapa siswi yang tinggal di beberapa kabupaten di Indonesia terkait dampak Covid-19 yang mereka rasakan. Berikut ceritanya!

1. Sebagian besar sekolah menerapkan sistem daring sejak pandemi merebak di awal tahun 2020. Berbulan-bulan di rumah, kangen juga dengan suasana sekolah

Ilustrasi: bosan belajar di rumah (foto: Annie Spratt/ Unsplash) via www.hipwee.com

Jika dihitung mundur, kita sudah berhadapan dengan Pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020. Sejak saat itu, sudah banyak sekolah yang menerapkan sistem belajar daring. Kalau dulu biasanya sepulang sekolah ada kegiatan les ini itu, atau setidaknya jajan dulu bareng teman-teman, sekarang hanya menghadapi laptop, komputer, atau ponsel saja. Yang tadinya bisa berdiskusi langsung dengan guru atau teman, sekarang harus puas via grup WhatsApp.

Bosan? Jelas. Kangen sekolah? Tentu. Namun, semua itu tentu harus ditahan karena pandemi Covid-19 memang bukan hanya mengada-ada. Seperti cerita Debora, siswi SMA Negeri 1 Kupang.

“Jujur, saya sangat ingin kembali ke sekolah seperti biasanya, tentunya karena saya lebih suka. Namun menimbang keadaan sekitar, di mana saya mendengar bahwa banyak orang-orang terdekat saya yang terkena covid bahkan harus pergi (baik untuk isolasi maupun meninggal dunia – red) karena covid, semakin menimbulkan efek pada diri saya bahwa covid itu nyata, sehingga saya rasa untuk saat ini, yang paling tepat adalah sekolah daring hingga kondisi lebih membaik,” ungkap Debora.

2. Belajar daring pun bukan tanpa halangan. Mulai dari materi semakin susah dipahami, sampai sinyal internet yang jadi akhir segalanya

Ilustrasi: internet jadi kendala terbesar (foto: Franck / Unsplash) via www.hipwee.com

Bagi sebagian siswa yang terbiasa belajar daring, sekolah daring tentu bukan masalah besar. Namun, bagi siswa yang seumur hidupnya terbiasa dengan metode belajar tatap muka, lalu dipaksa beradaptasi dengan cara, media, dan juga motivasi baru pastinya butuh penyesuaian. Belum lagi ada banyak aplikasi atau website pembelajaran yang digunakan. Belajarnya jadi dobel, materi sekolah dan cara mengoperasikan aplikasi-aplikasi itu. Yah, kalau dilihat dari sisi positifnya, pandemi ini memaksa kita untuk melek teknologi.

Ambar, siswi SMKN 2 Pacitan bercerita bahwa sekolah daring ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Dan jika diminta memilih, tentu ia akan lebih memilih sekolah secara tatap muka.

“Daring ini selain membosankan, jaringannya juga susah. Menurut saya, saya justru jadi lebih sibuk saat belajar dari rumah atau daring. Selama dari bulan Juni sampai sekarang, saya masih belum menemukan asyiknya belajar dari rumah,” ungkap Ambar.

Ambar juga bercerita bahwa selain masalah jaringan, sekolah daring juga lebih sulit karena ia harus berusaha memahami materi sendiri. Sedangkan biasanya di sekolah tatap muka, proses memahami materi dipandu oleh pengajar.

Namun, sekolah daring juga bukannya tanpa keuntungan kok. Misalnya yang dialami oleh Fatmawati, siswi MAN Bondowoso. Berbeda dengan Ambar, Fatma mengaku lebih menyukai sekolah daring karena dari segi waktunya lebih efektif.

“Sebenarnya kalau kita belajar dari rumah itu lebih efektif mengatur waktunya, karena itu terserah kita kapan mau belajar, kapan mau mengerjakan tugas atau untuk hal-hal lain, daripada kita di sekolah biasa. Kalau di sekolah biasa, dari jam 6.30 atau jam 15.00 atau ada ekstra lain, sampai jam 5 mentok ada di sekolah. Kita tenggelam dalam rutinitas itu semua. Kalau belajar daring kita bisa mengatur sendiri. Jadi, badan rasanya nggak terlalu capek ngikutin rutinitas dibandingkan sekolah biasanya,” cerita Fatma.

Meski begitu, Fatma juga mengakui kalau sekolah online banyak tantangannya. Mulai dari sinyal internet yang jadi kendala, juga hilangnya rasa berkompetisi. Dulu saat sekolah offline biasa dulu-duluan mengumpulkan tugas, sekarang pas mau mengumpulkan tugas, internetnya lemot. Alhasil, motivasi belajar jadi menurun juga.

3. Pandemi memang banyak dampaknya, mulai dari yang sesepele nggak bisa kumpul bareng teman sampai berubahnya seluruh rencana

Ilustrasi: perubahan sistem akibat Covid-19 (foto: Avery Evans / Unsplash) via www.hipwee.com

Kita sudah tahu bahwa Covid-19 membawa banyak dampak di berbagai sistem. Mulai ekonomi, pariwisata, kesehatan, sosial, dan tentunya pendidikan. Para remaja ini juga merasakan dampak dari Covid-19. 

Talita, siswa SMKN Negeri 1 Banyuwangi bercerita bahwa sekolahnya sempat diperbolehkan tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat saat Banyuwangi masuk ke zona kuning. Namun, saat ini, dengan meningkatnya angka positif Covid-19 di seluruh daerah di Indonesia, sistem tatap muka pun ditiadakan lagi. Siswi tidak diperbolehkan ke sekolah tanpa ada keperluan yang benar-benar penting.

“Nggak bisa bebas beraktifitas atau berorganisasi seperti biasanya, jadi bosen di rumah aja,” ungkap Talita.

Nggak jauh beda dengan Talita, Neha, siswi SMKN 1 Pasirian, juga berpendapat bahwa dampak Covid-19 yang paling terasa adalah pada hubungan sosial. Jika sebelumnya silaturahmi bisa bebas bertemu, kini hanya bisa melepas kangen via telepon ataupun media sosial. Berbeda dengan Talita dan Neha, Debora merasakan dampak lain yang cukup serius, yaitu berubahnya rencana yang sudah disusun sebelum-sebelumnya. Khususnya terkait rencana pendidikan.

“Yang saya rasakan adalah arah hidup saya berubah. Semua rencana yang telah disusun 1 atau 2 tahun sebelumnya, berubah begitu saja, dan harus membuat rencana baru, saya pikir ini yang paling saya rasakan,” cerita Debora.

Debora bercerita bahwa ia seharusnya mengikuti program pertukaran pelajar KL-YES ke Amerika Serikat sejak bulan Agustus 2020. Program ini nantinya akan berlangsung selama satu tahun. Namun, karena situasi pandemi masih berlangsung, program yang sempat diundur pada bulan Januari 2021 itu akhirnya harus dilakukan secara daring saja. 

Apa yang dirasakan Neha juga dirasakan oleh Ambar dan Fatmawati yang duduk di kelas XII. Harusnya di masa-masa ini mereka mulai belajar extra persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Ikut les di lembaga bimbingan belajar atau rutin ikut pengayaan di sekolah. Sekarang jika ada bimbingan belajar pun hanya bisa via daring. Apalagi semua sistem ujian masuk perguruan tinggi juga serba online. Mau tidak mau, harus menyesuaikan diri.

4. Apa sih yang bisa dilakukan oleh remaja dalam mencegah penyebaran Covid-19?

Ilustrasi: remaja lawan Covid-19 (foto: iStockphoto) via www.hipwee.com

Rasa bosan di rumah saja, kesulitan memahami materi, emosi karena kendala internet, ternyata nggak membuat mereka ngotot untuk beraktivitas di luar kok. Kelima remaja ini sepakat, Covid-19 memang berbahaya dan kita harus melakukan berbagai hal agar tidak tertular. Caranya tentu selalu mematuhi protokol kesehatan dan menghindari keluar rumah jika memang nggak ada urusan yang penting. Kalaupun terpaksa keluar rumah, jangan lupa untuk memakai masker, membawa hand sanitizer, dan membersihkan diri setibanya di rumah.

Menurut Fatmawati, sebagai remaja ia juga perlu mensosialisasikan pentingnya melakukan protokol kesehatan kepada orang-orang terdekat. Karena faktanya, masih ada orang-orang yang belum mendapatkan informasi yang lengkap mengenai pandemi Covid-19 dan pencegahannya. Bahkan menurut Fatma, masih banyak orang-orang di sekitarnya yang nggak sepenuhnya percaya dengan pandemi Covid-19.

“Minimal kita keluar, kita harus pake masker. Minimal kita menyuarakan hal itu kepada keluarga kita. Ayo Pak, Bu, pake masker,” kata Fatmawati. 

Wah, boleh nih kita meneladani apa yang dilakukan oleh Fatma. Karena rasa tidak percaya itu bisa jadi muncul karena nggak ada informasi yang jelas. Apalagi sekarang hoax bisa menyebar dengan mudah lewat grup WhatsApp keluarga. Sebagai kaum muda yang lebih kritis dan melek internet, kita bisa membantu untuk menyeleksi informasi yang benar dan meneruskannya ke orang-orang terdekat.

5. Menjaga daya tahan tubuh wajib hukumnya, termasuk mengonsumi Tablet Tambah Darah agar terhindar dari anemia

Ilustrasi: jaga daya tahan dengan rutin olahraga (foto: iStockphoto) via www.hipwee.com

Ngobrolin dunia remaja, nggak lengkap kalau nggak ngomongin soal anemia. Pasalnya, remaja terutama remaja putri sangat rentan mengalami anemia. Padahal anemia bisa merembet ke masalah-masalah kesehatan lain. Salah satunya adalah daya tahan tubuh yang menurun, karena anemia membuat tubuh mudah lemas, letih, lesu, lelah, dan lalai. Ujung-ujungnya mudah terkena penyakit dan infeksi. Padahal daya tahan tubuh buruk membuat kita rentan terkena Covid-19.

Lantas apa yang harus dilakukan remaja untuk mencegah penularan Covid-19? Yang pasti menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, menjaga pikiran agar nggak mudah stres, rutin olahraga fisik, membiasakan hidup bersih, dan pastinya minum Tablet Tambah Darah untuk mencegah anemia.

“Terutama tetap patuhi 3M yang sekarang bermutasi menjadi 5M. Lalu menjaga kesehatan tubuh dengan bantuan dari tablet tambah darah. Karena tubuh remaja yang mudah lemas, letih, lesu, lelah, dan lalai itu sangat rentan terkena dampak covid-19,” ungkap Neha tentang apa yang harus dilakukan remaja untuk mencegah penularan Covid-19.

Terkait pemberian TTD harus diakui bahwa pandemi menghambat distribusi. Soalnya, dulu biasa diberikan dari sekolah secara rutin seminggu sekali, kini terpaksa disesuaikan karena aktivitas sekolah juga terhenti. Ada yang berhenti total selama pandemi, ada yang bisa diambil bergantian pada petugas UKS yang piket, dan ada juga yang diambil bersamaan dengan pengumpulan tugas. 

Neha, yang kebetulan merupakan salah satu tim kader UKS SMKN 1 Pasirian berbagi cerita tentang program Dewi Srikandi di sekolahnya. Program ini muncul karena banyaknya siswi SMKN 1 Pasirian yang mengalami gejala anemia. Akhirnya para kader pun berusaha mensosialisasikan terkait pencegahan anemia dan masalah gizi lainnya dengan cara yang menarik seperti membuat poster, hasta karya daur ulang dari bungkus TTD, hingga membuat film tentang manfaat TTD dan bahaya yang dialami remaja jika tidak meminumnya. Di masa pandemi ini, Neha bercerita bahwa pemberian TTD dilakukan langsung untuk stok satu bulan. TTD diberikan secara bergantian saat siswa piket ataupun mengumpulkan tugas di sekolah. 

“Kader uks yang bergerak. Jadi, semboyan kita ada dari kami untuk kita semua remaja putri SMKN Pasirian bebas anemia dan masalah gizi,” pungkas Neha.

Ambar, yang tinggal di Pacitan juga bercerita bahwa di daerahnya terdapat Posyandu Remaja. Di sana, para remaja putri dapat memantau berat badan ataupun cek kesehatan lainnya. Selain itu, para remaja putri juga diberikan TTD secara rutin. Di Puskesmas Tanjungsari Pacitan, Nutrition International bekerja sama dengan bidan desa untuk membentuk Kader Puskesmas. Para kader ini nantinya akan berkunjung dari rumah ke rumah untuk mendistribusikan TTD bagi remaja dan menghimbau orang tua untuk memastikan para remaja mengonsumsinya dengan tepat.

Itulah kisah teman-teman remaja kita yang tengah menghadapi pandemi Covid-19. Meski sekarang vaksin sedang dipersiapkan, tetap patuhi protokol kesehatan, jaga asupan makanan, dan jangan lupa minum tablet tambah darah, ya!

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi