Belum reda duka kita bagi saudara-saudara yang ada di Lombok, gempa serupa baru terjadi lagi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa bermagnitudo 7,7 ini juga diikuti gelombang tsunami setinggi 5 meter yang mencapai Teluk Palu. Beredar beberapa video saat air laut mencapai pemukiman warga dan merendam bangunan-bangunan di sekitarnya. Belum lagi rumah dan gedung juga banyak yang hancur akibat diguncang gempa dahsyat tersebut. Dari data yang terkumpul, sejak kemarin sudah ada 832 korban meninggal dunia.

Rentetan bencana yang terus terjadi sejak dahulu kala ini membuat kita sadar kalau ternyata ‘rumah’ kita ini termasuk daerah rawan bencana. Segala bencana bisa dibilang pernah terjadi di Indonesia; gempa, tsunami, longsor, banjir, gunung meletus, dll. Tapi bagusnya sih kita nggak begitu aja pasrah sama takdir. Ada kok sederet panduan hidup buat kita yang memang hidup di kawasan rawan bencana. Simak yuk ulasan Hipwee News & Feature berikut ini.

1. Pertama, kita memang harus sadar bahwa kita hidup di daerah rawan bencana. Nggak perlu paranoid, hal yang perlu kita lakukan adalah selalu waspada dan teredukasi soal ‘rumah’ yang kita tinggali ini

Peta ancaman tsunami di Indonesia via geospasial.bnpb.go.id

Advertisement

Pahami dulu ‘rumah’ yang kita tinggali ini. Indonesia tuh lokasinya memang berada di pertemuan lempeng tektonik lho, ada Lempeng Indo-Australia , Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Ketiga lempeng besar itu terus bergerak tiap tahunnya, kurang lebih 5-10cm per tahun. Inilah alasan kuat kenapa negara kita mudah banget kena gempa. Biasanya gempa juga dikaitkan dengan peristiwa tsunami. Di Indonesia, wilayah yang bisa dibilang cukup aman dari tsunami itu dikit banget; Kepulauan Riau, Bangka Belitung, sebagian besar Kalimantan Tengah ke Barat, dan sebagian kecil pulau-pulau besar.

Selain itu, Indonesia juga punya setidaknya 129 gunung berapi aktif. Sebut saja Merapi, Bromo, Krakatau, Tambora, dan Sinabung. Fakta ini hendaknya nggak membuat kita jadi menyesal lahir dan besar di Indonesia. Daripada meratapi nasib, lebih baik kita mengedukasi diri dengan info-info penting soal ini.

2. Pernah dengar istilah ‘cincin api’? Negara kita ternyata termasuk di dalamnya lho. Jadi ya wajar kalau bencana demi bencana terus menghampiri bumi pertiwi ini

Peta kawasan ring of fire via www.clickondetroit.com

Nah, entah kita harus sediki lega atau gimana, tapi yang jelas, Indonesia nggak sendirian. Ada juga beberapa negara yang ‘bernasib’ sama kayak kita, berada di kawasan rawan bencana, seperti Jepang, Filipina, dan Chili. Ini karena negara-negara itu masuk dalam wilayah ‘cincin api’ atau ‘ring of fire‘. Jadi wilayah ini memang termasuk kawasan yang dipenuhi gunung berapi dan aktivitas seismik seperti gempa bumi di sepanjang Samudera Pasifik. Lansiran NatGeo menyatakan, 90% gempa bumi di dunia terjadi di kawasan ini. Dan ternyata wilayah ‘cincin api’ ini juga jadi rumah bagi 75% gunung berapi dunia lho!

3. Pemerintah mungkin selama ini sudah berusaha mengambil tindakan preventif, kayak memasang alat pendeteksi tsunami. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang malah mencurinya buat keuntungan pribadi

Alat pendeteksi tsunami yang nggak berfungsi dan sering dicuri via okberita.com

Advertisement

Saat berita soal gempa dan tsunami Palu ramai diperbincangkan, banyak orang bertanya, “Kok pemerintah nggak punya alat buat pendeteksi gempa atau tsunami sih?”. Kita sebenarnya punya. Alat pendeteksi tsunami atau tsunami buoy ini sudah dipasang di tengah laut, fungsinya sebagai sistem peringatan dini tsunami. Tapi sayangnya, menurut kabar, alat-alat ini banyak yang dicuri. Selain itu, sejatinya, alat-alat detektor ini nggak benar-benar berfungsi dengan baik. Malah menurut Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tsunami buoy di Indonesia sudah nggak beroperasi sejak 2012! Diperkirakan alat ini nggak bisa dipakai karena keterbatasan biaya.

4. Alangkah lebih baik lagi kalau pemerintah bisa membuat sistem terintegrasi gitu, khususnya informasi. Selain masyarakat bisa mendapat info langsung dari pemerintah, kita semua juga jadi terhindar dari hoax

Harusnya ada sistem informasi terintegrasi via www.medanbisnisdaily.com

Selain perlunya membenahi sistem atau alat pelacak dan pendeteksi bencana, agaknya pemerintah juga perlu memperbaiki sistem informasi terintegrasi, semacam SMS satu pintu untuk peringatan bencana. Kalau di Jepang dan Korea, sistem semacam itu bisa diandalkan banget buat para warganya mengantisipasi hal-hal buruk terjadi. Kan kalau ada SMS resmi pemerintah gitu, kita juga nggak perlu sibuk mencari di internet yang salah-salah malah bisa terjebak hoax. Kadang hoax justru bikin makin panik dan nggak fokus lho.

5. Kalau udah tahu tinggal di daerah rawan ya harusnya saling paham peran masing-masing lah. Bagi warga biasa kayak kita, selain harus support kerja pemerintah, sebaiknya membekali diri dengan tips-tips menghadapi bencana

Emergency bag ala orang Jepang via soranews24.com

Ya, meski pemerintah juga masih banyak kurangnya, tapi kita sebaiknya saling memahami peran satu sama lain. Biarkan pemerintah bekerja sesuai porsinya. Kita sebagai warga negara ya mau nggak mau harus mendukung. Selain itu, yang bisa kita lakukan adalah membekali diri dengan tips-tips menghadapi situasi darurat saat bencana. Misalnya kalau di Jepang, orang terbiasa menyiapkan 1 tas besar yang berisi barang-barang penting. Kalau-kalau ada bencana datang, mereka cuma tinggal angkat tas itu dan pergi menyelamatkan diri.

6. Terakhir mungkin kita juga perlu “bersahabat” dengan alam, artinya nggak malah merusak hutan atau buang sampah sembarangan, karena justru memicu banjir dan bencana lain

Stop buang sampah ke sungai! via thejak.co

Sederhananya sih, sebenarnya kita cuma perlu “bersahabat” dengan alam. Apa yang jadi pemicu suatu bencana, ya jangan dilakukan. Misalnya, kalau nggak mau banjir ya jangan buang sampah di sungai. Kalau nggak mau ada kebakaran lahan, ya jangan asal tebang pohon. Sesimpel itu. Tapi kalau untuk bencana tertentu, seperti gempa dan gunung meletus, kita nggak bisa sih menghindarinya, karena memang kondisi geografis yang nggak bisa diubah. Yang bisa kita lakukan cuma membekali diri dengan sederet panduan ketika situasi sedang genting.

Kurang lebih itulah panduan beserta catatan penting untuk kita semua yang sama-sama hidup di kawasan rawan bencana. Sekarang, mari kita terus berdoa untuk saudara-saudara kita yang ada di Palu, Donggala, Lombok, atau di manapun, agar duka ini bisa cepat berlalu…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya