Berbicara tentang Indonesia yang masyarakatnya menganut “banyak anak, banyak rejeki”, hal ini berbeda dengan negara lain. Ya, di beberapa negara ternyata warganya malah ogah-ogahan punya anak. Alasan warga negaranya pun beda-beda, tapi mayoritas karena biaya hidup yang tinggi.

Melihat pertumbuhan generasi penerus yang kian menurun, pemerintah di tiap negara pun membuat kebijakan untuk mendorong angka tersebut. Karena jika tidak, dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kestabilan negara. Yuk, simak enam negara mana saja yang warganya ogah-ogahan punya anak dalam ulasan ini.

1. Warga negara Amerika Serikat ternyata nggak suka punya anak. Melemahya kondisi ekonomi di sana mejadi salah satu penyebabnya

Kondisi ekonomi melemah via unsplash.com

Advertisement

Amerika Serikat terkenal sebagai negara adidaya dengan segala hal yang mumpuni. Nggak heran kalau banyak orang yang pengen tinggal di sana meraih “American dreams”-nya. Tapi kenyataannya, warga negara AS cenderung nggak ingin punya anak atau miliki sedikit anak saja. Hal ini karena melemahnya kondisi ekonomi di sana, apalagi biaya pendidikan seperti kuliah yang selangit. Begitupun dengan biaya perawatan anak yang tinggi.

Biaya yang dikeluarkan orangtua di AS sekitar 10 ribu dollar AS (sekitar Rp144 juta) tiap tahun. Sedangkan pemasukan orangtua pun masih dianggap kurang, seperti yang dialami para wanita yang punya anak di usia antara 25-35 tahun. Dengan di usia tersebut sudah punya anak, ternyata mereka malah memiliki pendapatan yang tak mencukupi kebutuhannya. Karena itu, para wanita di AS cenderung punya anak di atas 35 tahun.

2. Saking sedikitnya angka kelahiran dibanding kematian, pemerintah Spanyol sampai menunjuk seseorang untuk menjadi “Menteri Urusan Seks” untuk mengatasi persoalan ini

Ini dia menterinya via www.elespanol.com

Percaya atau tidak, pada Februari 2017 lalu pemerintah Spanyol telah menunjuk seseorang untuk menjadi “Menteri Urusan Seks”. Dia adalah Edelmira Barreira Diz yang bertugas mengatasi persoalan angka kelahiran yang lebih sedikit dibanding kematian. Ya, jumlah generasi penerus di Spanyol memang memprihatinkan. Bahkan, di beberapa kota malah sudah nggak ada lagi anak muda. Rendahnya jumlah kelahiran ini disebabkan salah satunya kelelahan yang dialami para suami-istri. Terlalu lama di kantor dan jam kerja sampai lembur menjadi alasan warga Spanyol enggan memiliki anak. Dikhawatirkan, malah akan memperburuk keadaan dengan kehadiran anak saat mereka kerap dilanda kelelahan.

3. Meski sudah diberikan iming-iming mobil dan uang dari pemerintah, warga Rusia tetap ogah-ogahan punya anak

Angka kelahiran lebih rendah dari kematian lantaran konsumsi alkohol dan overdosis dari masyarakat via unsplash.com

Advertisement

Masyarakat Rusia bisa dibilang cukup dimanjakan dengan iming-iming dari pemerintah. Bukan cuma cuti saja, warga Rusia pun bisa dapatkan mobil dan sejumlah uang seperti yang terjadi dikota Ulynovsk. Dikabarkan kalau anak yang lahir pada Hari Rusia (12 Juni), maka orangtuanya akan dapatkan hadiah mobil. Sedangkan jumlah uangnya sebesar US$13 ribu (Rp177 juta). Meski sudah diiming-imingi, tetap saja tak membuat warga Rusia berubah pikiran. Banyak dari mereka yang tetap kekeuh untuk tidak punya anak atau miliki anak sedikit saja. Angka kelahiran yang lebih rendah dari kematian pun turut disebabkan faktor overdosis dan minuman beralkohol yang kerap dikonsumsi masyarakat.

4. Lebih sering melihat para lansia di Jepang daripada anak mudanya? Biaya hidup yang tinggi membuat para wanita Jepang memilih untuk berkarier dulu, bahkan ada yang betah single seumur hidup

Lebih utamakan karier via www.pexels.com

Jepang merupakan salah satu negara dengan biaya hidup yang tinggi. Sehingga, para wanita Jepang pun nggak mau menganut paham “menikah karena sudah umurnya”. Biaya hidup yang selangit membuat mereka cenderung menyiapkan kariernya secara matang. Apalagi lulusan S1, S2, dan S3 di Jepang pun memperoleh pendapatan yang biasanya hanya cukup memenuhi kebutuhan sendiri. Begitupun dengan keterbatasan wanita saat sudah menikah, karena para suami biasanya meminta istri untuk full time di rumah. Maka dari itu, wanita di Jepang akan memilih single dibanding menikah tapi belum ada kesiapan finansial yang mumpuni.

Sekalipun menikah, suami-istri di Jepang nggak langsung ingin punya anak. Mereka akan mempertimbangkan secara matang kondisi keuangan sudah mencukupi keperluan atau belum. Terlebih banyaknya lansia di Jepang yang hidup sendiri lantaran anak-anaknya sibuk bekerja membuat pasangan suami-istri berpikir dua kali untuk punya anak.

5. Korea Selatan pun mengalami hal serupa. Kondisi keuangan yang nggak stabil dan pasangan yang memilih punya anak di atas 30 tahun menjadi alasannya

Wanita Korea Selatan belum mau menikah muda via unsplash.com

Selain Jepang, ada Korea Selatan yang mengalami permasalahan populasi negara. Di Korea Selatan, mereka cenderung menikah dan punya anak di atas 30 tahun. Kamu bisa lihat kehidupan pribadi para artis K-Drama maupun K-Pop yang memang kebanyakan menikah saat usianya lebih dari 30 tahun. Hal ini terjadi lantaran kondisi finansial yang nggak stabil membuat pasangan suami-istri Korea Selatan enggan punya anak.

Dalam menyikapi hal ini, pemerintah pun berikan iming-iming uang bagi pasangan yang miliki anak lebih dari satu. Begitupun dengan pembatasan jam kerja khusus hari Rabu yang dijadikan sebagai “Family Day”. Namun, tetap saja belum mendongkrak angka kelahiran di Korea Selatan yang sigifikan.

6. Negara tetangga seperti Singapura juga mengalami persoalan rendahnya populasi penduduk karena harga-harga di sana yang tinggi

Serba mahal via unsplash.com

Negara kecil, tapi maju, membuat Singapura menjadi salah satu tujuan untuk meneruskan pendidikan dan karier. Di sisi lain, negara tetangga Indonesia ini mengalami krisis populasi sejak puluhan tahun lalu. Alasannya yaitu harga-harga di sana yang melambung tinggi menjadi alasan para warga nggak mau punya anak. Contohnya yaitu harga apartemen yang berukuran kecil saja sudah cukup mahal, lalu jika harus punya anak, maka akan pindah ke apartemen yang lebih besar. Inilah yang dikhawatirkan pasangan Singapura. Ditambah lagi tekanan di tempat kerja yang tinggi, jam kerja yang panjang, dan biaya penitipan anak yang nggak murah menjadi persoalan pasangan di Singapura. Karena itu, makin ke sini warganya makin memprioritaskan karier, sehingga ampai umur 35 tahun pun masih banyak yang melajang.

Walau sudah diberikan fasilitas dan kemudahan dari pemerintah, tetap saja para warga negara lain ini ogah-ogahan punya anak. Sampai sekarang pun berbagai terobotas telah diterapkan oleh pemerintah setempat demi menstabilkan kondisi negara di masa depan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya