Jika dilihat dari perspektif biologis, hakikat menyusui tampak sama di mana-mana, yakni proses pemberian ASI kepada bayi atau anak kecil melalui payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk menempel pada payudara ibu dan menelan ASI yang keluar dari sana. Begitupun sebaliknya, sebagai seorang wanita yang lahir dengan payudara, naluri keibuan mereka akan membimbingnya untuk bisa menyusui tanpa perlu belajar sebelumnya.

Pada kenyataannya, menyusui itu nggak mudah. Pengalaman menyusui sangat bervariasi nggak hanya antar wanita tapi juga dari budaya ke budaya. Dari tradisi budaya hingga hukum, kali ini kita akan mengeksplorasi perbedaan yang membentuk cara menyusui di seluruh dunia. Berikut Hipwee News & Feature membeberkan tradisi menyusui yang unik dari berbagai negara meskipun proses yang dilalui cenderung sama, seperti dilansir dari laman Mothering.

1. Anggap menyusui itu kultur dari negara-negara miskin, ibu-ibu di Britania Raya jarang yang mau menyusui anaknya lama-lama

Tingkat menyusui di Britania Raya rendah via www.unicef.org.uk

Advertisement

Sebagai negara maju, Britania Raya termasuk ke dalam daftar negara di dunia dengan tingkat menyusui yang rendah. Hanya satu dari 200 bayi di Britania Raya yang tetap menyusui setelah berusia 1 tahun. Angka yang rendah ini dikaitkan dengan kesalahpahaman wanita Britania Raya yang menganggap bahwa menyusui hanya diperuntukkan untuk negara-negara miskin. Secara budaya, wanita Britania Raya nggak didorong dan dianjurkan untuk terus menyusui. Mereka juga kurang mendapat dukungan menyusui dari pasangan. Bahkan, norma umum yang berlaku adalah sebisa mungkin membuat jadwal tidur bayi agar ibu bisa kembali bekerja. Dengan ini, diharapkan ibu bisa kembali menjalani hidup layaknya sebelum memiliki bayi secepatnya.

2. Para ibu di Guatemala meyakini bahwa ASI pertama yang mengandung kolostrum nggak aman untuk diminum sang bayi

Para ibu terbiasa membuang kolostrum dari ASI via www.mayanfamilies.org

Kurangnya pendidikan dan kesalahpahaman seputar menyusui sangat terlihat nyata di Guatemala. Di negara bagian Amerika Tengah yang berada di selatan Meksiko ini, banyak wanita membuang kolostrum mereka lantaran percaya bahwa kolostrum merupakan ‘susu tua’ yang kotor dan nggak aman untuk diminum. Mirisnya, wanita Guatemala mengatakan bahwa hal ini sudah menjadi budaya. Alih-alih memberi makan kolostrum bayi mereka, banyak wanita asli Guatemala memberikan air kopi, air gula, soda, dan tepung jagung yang dicampur dengan air pada bayi mereka.

3. Nggak hanya menyusui anaknya, para ibu di India juga menyusui anak rusa sebagai bukti kecintaan terhadap makhluk hidup

Wanita Bishnoi menyusui anak rusa sebagai bukti kecintaan terhadap makhluk hidup via www.indiasamvad.co.in

Salah satu kelompok yang mendukung praktik menyusui di India adalah Bishnoi, kelompok religius yang hidup di Gurun Pasir Thar di India Barat, yang juga merupakan negara bagian utara India. Mereka mengikuti filsafat ‘praan daya’ yang berarti kasih sayang untuk semua mahluk hidup. Sebagai bukti kecintaan terhadap mahluk hidup, ibu menyusui di suku Bishnoi diketahui menyusui anak rusa. Anak rusa yang ditinggal mati induknya atau terluka, seringkali dibawa pulang untuk disusui oleh ibu di Bishnoi hingga sehat kembali. Wanita suku Bishnoi meyakini bahwa merawat anak hewan adalah tanggung jawabnya, sama seperti tanggung jawab kepada anak sendiri.

4. Di Kongo, seorang ayah juga ‘menyusui’ untuk memberikan kenyamanan pada sang anak

Ayah-ayah di Kongo tidak segan ‘memberikan’ puting kepada anaknya  via www.mothering.com

Advertisement

Suku Aka adalah orang-orang kerdil nomaden dari negara Republik Kongo yang terletak di Afrika Tengah. Dengan total populasi 20.000 orang, suku ini merepresentasikan kesetaraan gender yang lebih besar dibanding budaya di negara lain. Menurut seorang profesor antropologi bernama Barry Hewlett yang pernah menjalani hidup bersama suku tersebut, peran wanita dan pria di suku ini bisa ditukar.

Anak-anak suku Aka sangat dekat dengan orangtuanya, nggak hanya pada ibu namun juga ayahnya. Bahkan, suku ini memiliki tingkat kedekatan ayah dan anak yang banyak dianggap tabu oleh negara lain. Selama penelitiannya, Profesor Hewlett memperhatikan pria suku Aka juga menerapkan praktik ‘menyusui’ untuk memberikan kenyamanan pada sang anak. Meski pria nggak bisa mengeluarkan ASI, namun mereka dengan senang hati memberikan putingnya untuk menenangkan si anak.

5. Para ibu di Jepang menerapkan tradisi kuno dalam mengasuh anak, termasuk menggambari payudaranya saat menyapih

Ibu di Jepang menggambari payudaranya untuk menyapih anak, seperti gambar kartun Doraemon via www.mothering.com

Tradisi menyusui kuno di Jepang tetap dipraktikkan hingga sekarang, contohnya adalah pijat payudara yang disebut metode oketani. Pijat ini berfungsi untuk merangsang produksi ASI, mencegah dan menghilangkan saluran tersumbat, bahkan mengatasi produksi ASI berlebih. Oketani dirancang sebagai metode memompa ASI dengan tangan. Hampir 300 bidan oketani terlatih melakukan praktek di Jepang saat ini, sehingga pijat payudara adalah hal yang umum dilakukan di sana.

Penemu metode oketani juga merancang cara unik untuk menyapih anak. Yakni dengan melukis wajah aneh atau bentuk warna-warni pada payudara untuk membuat anak enggan menyusu karena bingung dan takut melihat wajah yang tergambar di payudara.

6. Para ibu di Kenya percaya bahwa bertengkar dengan tetangga membuat ASI jadi beracun

Mitos menyusui di Kenya via mombloggersforsocialgood.com

Tradisi menyusui di Kenya dipenuhi dengan mitos dan tahayul yang sering membatasi proses menyusui itu sendiri. Contohnya, para ibu dari suku etnik Luo dan Luhya percaya jika mereka bertengkar dengan tetangga, bisa membuat ASI menjadi beracun. Jika pertengkaran dengan tetangga ini terjadi, mereka akan menjalani ritual pembersihan ASI dengan tanaman herbal yang dinamakan ‘manyasi’ sebelum melanjutkan menyusui. Jika ritual ini nggak dijalankan, maka ibu akan berhenti menyusui anaknya.

7. Budaya Mongolia menganggap ASI adalah nutrisi yang berharga dan bisa diminum oleh siapa saja nggak terkecuali orang lain selain keluarga

ASI menjadi kebutuhan semua orang via aljazeera.com

Negara yang berbatasan dengan Rusia dan Tiongkok ini merupakan negara yang memiliki tradisi menyusui yang sangat maju untuk ukuran negara berkembang. ASI eksklusif hingga enam bulan dan memberikan ASI hingga 2 tahun merupakan norma yang umum. Di negara ini, ibu yang menyusui dan memompa ASI di tempat umum adalah hal yang wajar, bahkan dipuji. Setiap orang dari lapisan masyarakatnya memberikan dukungan penuh pada ibu menyusui di tempat publik.

Selain itu, budaya Mongolia menganggap ASI adalah nutrisi yang berharga. Bahkan, orang dewasa pun meminumnya. Nggak jarang, ibu menyusui memberikan segelas ASI pada suaminya. ASI dibagikan dengan bebas, bahkan di luar keluarga inti. Beberapa ibu di Mongolia pun menukar ASI untuk kebutuhan rumah tangga seperti roti dan telur.

Berikut adalah beberapa tradisi menyusui yang unik dan nyata di beberapa negara di belahan dunia. Menurutmu, apakah Indonesia sudah masuk ke dalam negara yang mendukung proses menyusui?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya