Akhir-akhir ini tampaknya kita sering deh mendengar kontroversi dan pemberitaan negatif tentang sopir angkutan online. Dari yang adu mulut dengan penumpang, kesalahpahaman pemahaman sistem maupun pembayaran sampai bikin cekcok sampai kasus pelecehan. Selain mencoreng nama perusahaan, kejadian macam itu bisa membuat kita sebagai pengguna setia angkutan online, khawatir luar biasa. Apalagi penumpang cewek. Ya siapa yang nggak parno dengar berita soal pelecehan di ojek atau taksi online sedangkan sehari-harinya kita harus mengandalkan mereka untuk bepergian.

Lagi dan lagi, seorang wanita penumpang taksi online merasakan pengalaman buruk saat sedang dalam perjalanan pulang. Ia dibuat nggak nyaman dengan perlakuan si sopir taksi tersebut. Meski berada di situasi yang mencekam, ia masih sempat merekam kejadian itu lewat ponselnya. Video itu yang kemudian viral di dunia maya. Nggak sedikit warganet yang mengecam perlakuan si sopir taksi online yang diketahui bernama Micky tersebut. Simak selengkapnya bareng Hipwee News & Feature yuk!

Nama GrabCar disorot setelah seorang wanita inisial P menceritakan pengalaman kurang mengenakkannya saat menggunakan jasa taksi online tersebut

Seorang wanita pengguna jasa taksi online yang berinisial P, mendapat perlakuan yang sangat tidak sopan dari sopir yang bernama Micky. Peristiwa itu sendiri terjadi ketika P sedang dalam perjalanan dari Perum Pandawa Kelapa Gading menuju Komplek Sukapura, Jakarta Utara, Sabtu (30/9/2017) sekitar pukul 21.00 WIB. . Terlihat, sang sopir mencoba merayu penumpangnya itu untuk jalan-jalan bermalam minggu. Bahkan, sang sopir menyarankan kepada P untuk bermalam di mobilnya, yang bernopol B 1733 EKJ tersebut. Tentu saja, P menolaknya dengan alasan ingin cepat pulang. . Menurut kalian gimana, gaes?. _______ Jika kamu punya informasi berupa foto atau video menarik, langsung saja DM atau mention ke kami yak.. Makasih..😊🤗 . #infia #infiafact #viral #heboh #taksi #taxi #taksionline #taxionline #pelecehan

A post shared by INFIA – Fact (@infia_fact) on

Advertisement


Hari Sabtu (30/9) malam kemarin mungkin jadi hari yang tak terlupakan bagi mbak-mbak penumpang GrabCar. Bukan karena habis dapat bonus atau hadiah mewah, melainkan karena dirayu dan dilecehkan secara verbal oleh sopir taksi yang ia tumpangi. Saat itu dirinya sedang dalam perjalanan dari Perum Pandawa Kelapa Gading menuju Komplek Sukapura, Jakarta Utara. Tapi di tengah perjalanan si sopir bernama Micky tiba-tiba menanyakan usianya.

“Mukanya dewasa banget ya? Umur berapa?”, ujar Micky, seperti dilansir Kumparan.

Advertisement

Dengan berusaha tetap santai, wanita itu menjawab kalau usianya 31 tahun. Micky lantas berujar kalau umurnya nggak beda jauh dengannya. Setelah itu tanpa ba-bi-bu ia langsung mengajak wanita itu malam mingguan.

“Yaudahlah gak usah seperti orang tua, kaya anak muda seharusnya. Kita jalan aja, pulang rumah dulu kamu taruh-taruh (barang-barang) terus bawa baju ganti terserah.”

Namun si wanita mengelak dengan mengatakan kalau dirinya lelah dan ingin istirahat. Tapi si sopir masih kukuh bahkan menawarkan kalau dia bisa tidur di mobilnya. Salutnya, si wanita itu tetap bisa santai merespon rayuan sopir. Katanya, ini supaya si sopir nggak curiga kalau dirinya merekam kejadian tersebut.

Tapi kalau bicara rayuan ternyata nggak semua wanita sadar dirinya sedang mengalami pelecehan seksual verbal lho! Banyak yang malah mewajarkan

Dianggap wajar via www.sbs.com.au

“Wajar lah, namanya juga cewek!”

Fakta di atas terjadi karena di Indonesia sendiri melontarkan siulan, memanggil-manggil, atau sekedar bertanya ‘kemana neng?’ dengan mimik wajah genit, dari orang tak dikenal kepada wanita, justru dianggap hal yang lumrah. Padahal di beberapa negara tindakan itu dianggap pelecehan seksual secara verbal. Menurut Mariana Amiruddin, Kepala Subkomisi Bidang Partisipasi Publik Komnas Perempuan, masyarakat Indonesia baru sampai pada taraf mengenal lapisan luar dari kekerasan seksual, belum benar-benar memahami.

Hal di atas sejalan dengan penelitian yang dilakukan kelompok dukungan bagi penyintas atau korban kekerasan seksual, Lentera Sintas Indonesia, dan wadah petisi daring Change.org, serta media perempuan. Dalam riset tersebut, dari 25.213 responden baik dari kota maupun kabupaten, ternyata sebanyak 58% mengaku pernah mengalami pelecehan seksual verbal lho.

Masalah di atas tak hanya jadi PR pemerintah, tapi kita juga mesti mulai membuka mata supaya sadar kalau pelecehan seksual nggak cuma berbentuk sentuhan fisik aja

Jadi PR kita bersama via www.itpro.co.uk

Sudah jadi kewenangan negara untuk melindungi dan menjamin keselamatan setiap penduduknya, sampai taraf yang dianggap tabu sekalipun, seperti pada konteks seksual. Salah satu caranya mungkin pemerintah di setiap daerah bisa memberikan sosialisasi soal bentuk-bentuk pelecehan seksual dan cara menghadapinya. Selain dari pemerintah, kita sendiri sebagai pemilik hak atas tubuh kita sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki, harus menyadari kalau pelecehan seksual bisa terjadi dalam berbagai bentuk, serta tak mengenal tempat dan waktu.

Nggak hanya wanita, laki-laki pun juga bisa jadi korban. Jadi mulai sekarang, waspadalah. Sekalipun dengan orang-orang terdekat kita! 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya