Beberapa dari kalian mungkin sudah ada pada level gemas terhadap kualitas tontonan televisi di Indonesia. Terbukti dengan banyaknya orang yang mengadukan buruknya tayangan TV kita ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Meski begitu, nyatanya memang ada juga yang menikmati tontonan di TV Indonesia lo, entah karena suka atau karena memang nggak ada tontonan lain.

Kurang berkualitasnya produk televisi kita ini berakibat pada lebih loyalnya orang-orang terhadap produk dari luar negeri. Contohnya saja, drama Korea, serial televisi Amerika, bahkan terkadang serial India dan Turki yang ditayangkan di televisi kita pun jauh lebih digandrungi masyarakat. Tapi kalau boleh jujur sih tontonan di layar kaca kita memang kalah jauh dibandingkan sinetron luar negeri. Kira-kira apa ya penyebab sinetron kita nggak kunjung membaik? Yuk simak uraian Hipwee News and Feature berikut biar bisa ambil hikmahnya.

1. Alasan pertama bisa jadi karena sinetron Indonesia kurang biaya produksi. Dengan biaya yang terbatas, produk yang dihasilkan ya gitu-gitu aja~

Proses di balik layar via i.ytimg.com

Advertisement

Bukan rahasia lagi, seringnya sektor perfilman kita memang kekurangan biaya. Investor enggan mengeluarkan dana banyak karena kurang percaya dengan potensi yang dimiliki kreator di Indonesia. Sebaliknya, pihak yang bermaksud membuat tayangan pun tidak berani melakukan produksi ideal karena merasa tidak ada biaya. Namun, justru disinilah seharusnya seniman kita bisa mengembangkan kreativitas, bahwa dengan biaya yang tidak seberapa banyak sisi yang masih bisa diusahakan seperti dalam segi cerita dan kedisiplinan plot.

2. Atau bisa jadi kita tidak kekurangan biaya, namun pembuat sinetron merasa tayangan sudah cukup komersil

Ada yang masih ingat? via brilio.net

Bisa jadi, niat pembuat sinetron di Indonesia memang nggak bikin karya bagus yang dikenang orang, melainkan membuat tayangan laris yang ditonton banyak orang. Iklan yang mengalir deras, dan artis yang populer bisa menaikkan rating sebuah sinetron dan bikin aliran uang semakin lancar. Karena sudah merasa cukup menghasilkan, pembuat sinetron pun tidak terlalu memedulikan kualitasnya. Terbukti banyak sinetron laris yang hanya berisi soal kehidupan remaja yang tidak semestinya, seperti hura-hura, berpacaran, bolos sekolah, dan lain-lain. Tidak sedikit sinetron-sintron yang memprihatinkan ini ditegur oleh KPI.

3. Alasan lain ya mungkin saja selera masyarakat Indonesia memang itu-itu saja. Kita jadi sulit menerima tontonan cerdas nan mendidik

Udah ganteng, kaya raya, alim, berantem selalu menang pula. Padahal dunia nyata nggak sefana itu via oketekno.com

Tingkat pendidikan di Indonesia ini tergolong sangat beragam. Banyak kalangan yang sebenarnya nggak terlalu suka tayangan bagus, atau lebih tepatnya karena punya selera yang rendah. Bukannya bermaksud menjelekkan kecerdasan bangsa kita lho! Beberapa yang merasa muak dengan tontonan produksi dalam negeri akhirnya lari dan menonton serial dari luar negeri. Lihat saja bagaimana animo anak muda terhadap serial Game of Thrones, Sherlock Holmes, drama Descendants of the Sun, Goblin, dan lain-lain.

4. Belum lagi jumlah episodenya itu lo, bahkan kadang sampai ribuan. Kan capek nontonnya…

Awalnya menarik, lama-lama jadi malas melirik via www.lensaremaja.com

Advertisement

Sementara serial di Amerika rata-rata 10 episode, drama korea rata-rata 20 episode, sinetron Indonesia bisa sangat luar biasa, menayangkan ribuan episode dan tayang setiap harinya. Jadi kesannya, setiap episode nggak terlalu berharga, isinya cuma bercanda dan konflik sepele. Ini dipicu karena memang sinetron disini kebanyakan ingin menghasilkan lebih banyak uang dalam waktu singkat. Meskipun script aslinya cuma 50 episode, kalau laku keras ya lanjut dong. Pokoknya sikat!

5. Jadi, salahkah kalau dunia hiburan kita jadi berkiblat ke barat dan Korea Selatan?

Judulnya aja kaya’ cuma pakai Google translate via www.kompasiana.com

Sebenarnya ini bukan tentang salah atau benar Guys. Cuma keadaannya memang sangat sulit. Kalaupun anak zaman sekarang dipaksa buat menonton tayangan televisi apa adanya, seharusnya orang tua dan orang dewasa di sekitarnya bisa memberikan pengarahan bahwa nggak semua adegan di sinetron itu layak jadi panutan.

Tapi dengan kemudahan akses internet, seringnya kita pun terlena akan produk tayangan yang ditawarkan oleh orang Barat dan Korea Selatan. Kita pun merasa semakin berjarak dengan produk tayangan kita sendiri. Gimana ya, tayangan mereka lebih menarik sih! Mirisnya lagi, akhirnya banyak sinetron Indonesia yang sengaja meniru jalan cerita tayangan luar negeri, bahkan judul dan tokohnya sama. Hmm…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya