Angka Kematian Akibat Kecelakaan di Tol Cipali Disebut Paling Tinggi di Dunia

Jalan bebas hambatan atau jalan tol seringkali menjadi pilihan jalan terbaik bagi pengendara. Selain bisa memangkas jarak, waktu perjalanan pun jadi lebih singkat. Kendati demikian, kecelakaan di jalan tol pun kerap terjadi, bahkan angka kasusnya cukup tinggi.

Advertisement

Melansir dari Detik, jalan tol tercatat memiliki fatalitas atau kematian tertinggi dengan rasio 0,30 per km. Angka itu lebih besar dari fatalitas jalan daerah yang memiliki rasio 0,15 km dan jalan nasional dengan rasio 0,22 km. Inilah kenapa jalan tol jadi penyumbang angka kematian akibat kecelakaan paling tinggi. Salah satu ruas tol paling sering terjadi kecelakaan hingga memakan korban jiwa adalah Tol Cipali.

Angka kecelakaan mematikan di Tol Cipali ternyata termasuk yang paling tinggi di dunia

Jalan tol sepanjang 116,75 km yang menghubungkan Cikopo dan Palimanan itu memang cukup sering menjadi lokasi kecelakaan. Mulai dari yang hanya menyebabkan kerusakan kendaraan, luka-luka ringan hingga parah, bahkan sampai memakan korban jiwa. Data Kementerian Perhubungan juga telah mengungkap bahwa angka kecelakaan yang menyebabkan kematian di Tol Cipali terus meningkat.

Kecelakaan maut terbaru terjadi di Tol Cipali KM 119.600 yang membuat Kepala BKD Jawa Barat menjadi korban tewas pada kecelakan 24 November 2022. Sehari sebelumnya, kecelakaan maut yang membuat sebuah minibus ringsek dan memakan korban jiwa juga terjadi.

Advertisement

Melansir dari Detik, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Hendro Sugiatno mengungkap bahwa Tol Cipali merupakan salah satu  tol yang memiliki fatalitas paling tinggi di dunia. Bahkan, data Kemenhub juga mencatat setidaknya ada satu korban jiwa per kilometer di Tol Cipali.

“Kecelakaan di jalan tol itu terus meningkat. Jalan Tol Cipali adalah jalan tol nomor satu di dunia yang menjadi jalan tol yang fatalitas kecelakaannya paling tinggi. Itu perhitungannya satu km berapa korban itu, ada hitungannya,” jelas Hendro dalam Rapat Kerja Bidang Perhubungan Darat, dinukil dari Detik.

Advertisement

Lebih lanjut Hendro juga menjelaskan, tingginya angka kematian akibat kecelakaan di Tol Cipali berkaitan erat dengan peningkatan jumlah kendaraan dan pesatnya pembangunan jalan tol.

Tingginya angka kecelakaan di Tol Cipali 86 persen disebabkan faktor manusia

Penyebab kecelakaan di jalan tol memang cukup beragam mulai dari kondisi kendaraan hingga faktor kelalaian manusia. Melansir dari Kompas, sepanjang periode tahun 2019 hingga 2021, telah terjadi 1000 kasus kecelakaan di ruas Tol Cipali, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 223 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 862 atau sekitar 86,1 persen kecelakaan disebabkan faktor manusia, seperti kurangnya antisipasi berkendara di jalan tol, mengantuk, dan berkendara melebihi batas kecepatan. Sementara kecelakaan karena kondisi kendaraan sebanyak 127 kasus, sisanya karena faktor cuaca.

Pahami jam maksimal berkendara untuk meminimalkan kecelakaan karena faktor manusia

Tingginya penyebab kecelakaan di Tol Cipali karena faktor manusia memang harus menjadi perhatian bagi setiap pengendara. Melansir dari DetikOto, seorang praktisi keselamatan berkendara sekaligus Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengungkap bahwa untuk meminimalkan faktor manusia dalam kasus kecelakaan, pemengemudi harus memahami soal jam maksmimal berkendara.

“Tol Cipali memangkas waktu dan jarak tempuh, tapi bukan berarti boleh bablas pol. Istirahat ini perlu dilakukan mengingat tubuh manusia punya keterbatasan kemampuan untuk fokus serta fit dalam mengemudi,” kata Sony.

Waktu dan jarak tempuh yang relatif singkat ketika melewati Tol Cipali membuat pengendara sering mengabaikan waktu istirahat. Sehingga, penting sekali manajemen perjalanan supaya bisa memanfaatkan waktu seideal mungkin untuk istirahat.

“Pastikan maksimal mengemudi 3 jam dan diselingi istirahat 15-20 menit,” jelas Sony.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan alasan berkendara maksimal tiga jam karena fokus pengemudi saat menyetir maksimal hanya tiga jam. Lebih dari itu pengemudi bisa mengalami ketidaklancaran aliran darah dan oksigen, yang bisa menyebabkan kantuk, dan penurunan konsentrasi. Selain itu, tiga jam berada di kabin kendaraan seringkali menyebabkan rasa terkungkung.

Apalagi berkendara di jalan tol juga berisiko pengendara mengalami gejala Highway Hypsosis, yakni kondisi ketika pengendara terlena dengan pemandangan dan aktivitas monoton di jalan tol. Hal tersebut membuat pengendara jadi telat mengantisipasi kecelakaan.

Sony juga menyarankan apabila persepsi jarak sudah nggak stabil dan berantakan, lebih baik segera beristirahat. Selain itu juga penting melakukan metode commentary driving atau berkendara sambil mengomntari keadaan sekitar.

“Dengan berkomentar, maka rahang akan bergerak dan oksigen terpompa ke otak. Sehingga pengendara dapat fokus, tidak mengantuk dan sigap mengantisipasi bahaya,” jelas Sony.

Tingginya angka kecelakaan yang mengakibatkan kematian di Tol Cipali memang harus menjadi perhatian serius baik pengelola maupun pengendara. Upaya penekanan angka kecelakaan itu juga berkaitan dengan rencana pengetatan aturan kendaraan dan pengendara yang melintasi tol. Apalagi tingginya faktor manusia juga harus menjadi pengingat kewaspadaan bagi setiap pengendara di jalan tol mana pun.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE