“I-ni Bu-di”

“I-ni i-bu Bu-di”

“I-ni ba-pak A-ni”

Nama ‘Budi’ dan ‘Ani’ mungkin sudah tidak asing lagi di telinga generasi 90-an. Bagaimana tidak, hampir di setiap buku paket pelajaran terutama Bahasa Indonesia, dua nama itu sering sekali disebut. Kalau di pelajaran Bahasa anak kelas 1 SD, nama itu dipakai untuk belajar mengeja atau membaca. Tapi tidak jarang juga dua tokoh fenomenal itu disebut di pelajaran Matematika sebagai bagian dari soal cerita. Misalnya: “Ani membeli 2 buah buku, Budi 1 buah buku. Berapa jumlah buku Ani dan Budi?”. Kira-kira seperti itulah~

Advertisement

Nah, pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa ya kok buku-buku pelajaran banyak yang memakai nama Budi dan Ani? Tapi sekarang nama-nama Budi dan Ani itu justru sudah tidak dipakai lagi sejak tahun 2013 dan diganti nama-nama lain. Wah nama-nama lainnya apa ya? Yuk, simak ulasan Hipwee News & Feature ini bareng-bareng!

Tokoh fiksi Ani dan Budi pertama kali muncul di buku yang terbit tahun 1980-an. Penciptanya merupakan seorang guru lo!

Pertama kali muncul tahun 1980-an via www.goodnewsfromindonesia.id

Ternyata, tokoh fiksi Ani dan Budi ini “lahir” sekitar tahun 1980-an. Namanya dipakai di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang berjudul “Ini Budi” karangan seorang guru SD bernama Siti Rahmani Rauf, seperti dikutip dari Good News From Indonesia (GNFI). Wanita kelahiran Padang, 5 Juni 1919 ini juga pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Tanah Abang 5, Jakarta Pusat. Ia memulai karir di dunia pendidikan sejak sebelum tahun 1937.

Siti Rahmani Rauf via www.goodnewsfromindonesia.id

Pemakaian nama Ani dan Budi ini bukan tanpa sebab lo, ternyata ada alasan ilmiah di baliknya. Intinya sih untuk memudahkan anak-anak dalam belajar

Tidak asal diciptakan via www.goodnewsfromindonesia.id

Buku yang memakai nama Ani dan Budi sebagai tokoh fiksi ini katanya sih buku Bahasa Indonesia pertama yang menerapkan metode Struktur Analitik Sintetik (SAS). Metode itu dipakai dengan memadukan unsur dunia anak-anak dengan materi pembelajaran, tujuannya agar mereka lebih mudah memahami. Nama Budi dan Ani dianggap cocok dengan metode SAS karena keduanya termasuk mudah dieja, ditulis, dan diingat. Jadi bukan semata-mata karena Budi dan Ani termasuk nama umum kala itu.

Advertisement

Buku “Ini Budi” sangat laris di pasaran dan dijadikan buku wajib belajar Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar dari 1980-an sampai 2000-an. Tentunya dengan melalui proses revisi berulang kali. Meski begitu, nama Budi dan Ani tidak diubah.

Sampai akhirnya tahun 2013, dua tokoh fiksi populer itu tidak boleh lagi dipakai dalam buku mata pelajaran apapun. Ketentuan ini berlaku sejak kurikulum 2013

Tapi sekarang sudah tinggal kenangan~ via www.inovasee.com

Agaknya kita generasi 90-an harus bersedih hati karena buku-buku pelajaran sekarang tidak lagi boleh memakai nama Ani atau Budi sebagai tokoh fiksi. Dikutip dari Republika, Kemendikbud mulai melarang praktik monoton guru dalam mengajar, termasuk “budaya” memasukkan nama Budi di buku-buku pelajaran SD. Ke depannya, tidak akan ada lagi nama-nama lawas yang selalu muncul di setiap cetakan buku paket, seperti Budi atau Ani.

Dalam kurikulum 2013 akan diperkenalkan tokoh-tokoh fiksi baru yang merepresentasikan keberagaman dan nasionalisme, seperti Edo si keriting dari Papua, Siti yang berjilbab, Dayu dari Bali, Lani si sipit keturunan Tionghoa, dan Beni orang asli Batak. Dengan keberagaman tokoh fiksi di buku-buku paket ini, diharapkan nilai toleransi antar suku dan agama bisa terbentuk sejak kecil.

Yah, sedih sih ya, Budi, Ani, dan Ibu Bapaknya sudah dihapuskan. Meski begitu, dua nama ini tetap akan selalu terkenang di hati mereka yang pernah belajar mengejanya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya