6 Bahaya yang Mengintai ‘si Oversharing’ di Media Sosial, Dampaknya Nggak Terpikirkan

bahaya oversharing

“Media sosial itu ibaratnya rumahmu. Semua kegiatan ada di dalamnya, tapi tidak sembarang kegiatan perlu dibagikan. Urusan pribadi rasa-rasanya tidak perlulah diumbar.”

Semakin maju teknologi yang kita cecap hari ini, semakin gesit pula perkembangan platform digital menyesuaikan target pasar dengan fitur-fiturnya. Sebut saja Instagram yang tidak pernah kehabisan peminat. Fitur-fitur kekinian yang ditawarkan tidak sanggup ditolak para penikmat platform satu ini.

Berbeda dengan sejumlah platform terdahulu, Instagram menjanjikan para penggunanya untuk bisa berbagi baik kabar maupun informasi pribadi yang tidak hanya berbentuk teks saja, tetapi juga  dalam bentuk gambar dan video pada pengikutnya.

Selain memudahkan terkoneksi dengan relasi baru, Instagram juga berperan aktif dalam memajukan bisnis dan menciptakan peluang pasar yang bersaing. Tidak berhenti di situ, Instagram nyatanya mempermudah pengguna untuk berbagi aktivitas terkini melalui siaran live, foto, video maupun yang terbaru menggunakan fitur reels

Bijak dalam membagikan setiap aktivitasmu di dunia maya | Photo by Lisa on Pexels

Namun, ada satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, amankah kita berbagi di sana? 

Seperti kita ketahui, tidak semua pengikut di media sosial adalah orang-orang yang familier bagi kita alias lebih dari setengahnya kemungkinan besar merupakan orang-orang asing. Meski memang Instagram menjamin keamanan data pribadi, tapi sadar atau tidak, terkadang kita sendirilah yang membagi-bagikan data dan informasi pribadi itu. Sekali tekan tombol share, hanya butuh sepersekian detik untuk informasi dan aktivitas kita tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Mirisnya, dewasa ini rasa-rasanya makin terasa janggal dan kurang afdol bila membagikan satu aktivitas saja. Sehingga, sadar atau tidak, dalam sehari seseorang bisa membagikan aktivitasnya sampai tiga kali atau malah lebih. Unggahannya pun beragam, mulai dari liburan, menghadiri acara, atau terkadang hal-hal sepele seperti unboxing paket yang dibungkusnya masih tertera alamat lengkap.

Setelah saya renungkan kembali, fenomena oversharing bagai pisau bermata dua. Bisa dikatakan positif bila niatnya hanya memberikan kabar atau membagikan informasi yang menambah wawasan. Akan tetapi, sisi negatifnya tidak kalah mencengangkan. Fenomena oversharing membuka peluang besar untuk hal-hal yang tidak diharapkan terjadi dan mungkin orang masih menyepelekan risiko ini.

Untuk itu, yuk, simak 6 renungan akan bahaya apa saja yang mengintai apabila terlalu berlebihan dalam membagikan aktivitasmu di media sosial. Mungkin, selama ini ada yang belum pernah kepikiran.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini