Jawa Tengah Diguyur Hujan Lebat, Banjir Warna Merah di Pekalongan Jadi Sorotan. Apa Pemicunya?

Banjir merah Pekalongan

Potensi cuaca ekstrem di Indonesia pada awal 2021 sudah diprediksi oleh BMKG, curah hujan yang lebat bahkan berdampak ke sejumlah wilayah tanah air karena faktor kondisi iklim. Januari 2021 lalu tentu kita masih ingat dengan banjir di Aceh, Kalimantan Selatan hingga Sulawesi Utara yang menyebabkan kerusakan cukup parah.

Advertisement

Beberapa minggu setelah kejadian itu, curah hujan yang tinggi kembali menyebabkan luapan air di wilayah Jawa Tengah. Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kota Semarang, setidaknya ada 76 kelurahan yang terdampak banjir pada Sabtu (6/2).

Selain Semarang, Kendal hingga Kudus juga turut kebanjiran. Luapan Air berwarna merah di Pekalongan bahkan disoroti warganet dan media asing

Banjir membuat aktivitas di Kota Semarang hampir lumpuh. Sejumlah rute perjalanan kereta api harus dialihkan dan menyebabkan ditutupnya Bandara Ahmad Yani. Sejumlah wilayah di kota tersebut di antaranya, Semarang Utara, termasuk komplek Kota Lama, kawasan Tanah Mas, kawasan Mangkang di Semarang Barat dan Semarang Timur.

Advertisement

Selain itu, sederet kota di Jawa Tengah juga terdampak banjir akibat curah hujan yang tinggi, termasuk Kudus, Pekalongan dan Pati. Kemarin, ramai di media sosial perihal unggahan warga Pekalongan yang memperlihatkan banjir berwarna merah tepatnya di kawasan permukiman Kelurahan Jenggot, Pekalongan Selatna. Lantas banyak yang bertanya dari mana timbulnya warna tak wajar tersebut. Beberapa media asing seperti CNN Internasional, Reuters, US News hingga CBC turut memberitakan peristiwa itu.

Tak lama, Kepala BPBD Kota Pelakongan menugaskan pihaknya untuk memeriksa langsung bersama polisi dan warga setempat untuk menelusuri penyebab warna air banjir yang tak lazim itu.

Setelah ditelusuri, sumber warna merah itu ternyata berasal dari obat batik milik pengrajin yang larut terbawa arus banjir

Advertisement

Dilaporkan dari detikcom, asal muasal banjir merah di Pekalongan  bukan karena limbah pabrik melainkan bahan perwarna batik milik pengrajin yang terseret ketika banjir.

“Banjir yang berwarna merah tadi, disebabkan karena obat batik yang berasal dari home industry batik atau pranggok, yang hanyut,” ucap Kapolsek Pekalongan Selatan KompolBasuki, Sabtu (6/2/2021).

Ia mengatakan sebelum terjadi banjir, pemilik industri batik di Pekalongan biasanya membungkus perwarna dengan plastik. Sebab bungkus plastiknya mudah robek, isinya diduga hanyut saat banjir melanda. Polisi akhirnya mengamankan bungkusan plastik berwarna merah untuk melanjutkan penyelidikan.

“Tadi kita temukan juga bungkusan obat batik yang hanyut. Untuk sementara ini bukan karena faktor senagaja. Namun obat batik yang hanyut terbawa banjir,” jelasnya.

Di kesempatan berbeda, BPBD Kota Pekalongan bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan langsung mengambil tindakan dengan menurunkan truk tangki untuk penyedotan.

Menanggapi banjir yang terjadi di  Jawa Tengah khususnya Semarang,  ahli hidrologi menyebut salah satu alasannya karena penurunan muka tanah

Ahli hidrologi Universitas Gadjah Mada, Pramono Hadi mengatakan kepada Kompas salah satu penyebab banjir di Semarang karena penurunan muka tanah. Ia mengimbau diperlukannya revisi tata ruang agar kejadian serupa tak terulang.

“Semarang sudah darurat banjir karena land subsidence. Bahkan empat hari dalam satu minggu, wilayah Semarang bagian utara kota merupakan langganan banjir,” tuturnya.

Menurutnya Pramono, mustahil air dapat mengalir dengan lancar dan tidak nggak terjadi banjir pada situasi seperti saat ini. Untuk itu dibutuhkan revisi tata ruang terkait air untuk mengatasi sistem polder dan tanggul sungai.

“Sistem polder atau tanggul sungai juga menjadi solusi, tapi mahal, seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) 1 dan PIK 2 di Jakarta,” lanjutnya.

Bukan hanya banjir, longsor juga terjadi di ibu kota Jawa Tengah ini. Diketahui 1 orang tewas akibat tanah longsor di Kampung Jomblangsari Kota Semarang.

Semoga penanggulangannya bisa cepat teratasi, dan Indonesia segera pulih serta dijauhi dari bencana alam yang lain.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE