Siapa coba yang nggak tahu kartun Putri Duyung besutan Disney itu? Tokoh bernama Ariel berambut merah dengan setengah badan mirip ikan ini jadi favorit hampir setiap anak perempuan. Tapi ternyata manusia dengan kaki menyatu seperti ekor ikan ini nggak cuma ada di cerita dongeng lho. Beberapa bayi memang terlahir dengan kondisi tersebut. Sejauh ini bayi duyung yang paling lama hidup adalah Tiffany Yorks. Ia mendapat operasi pemisahan kaki sebelum usia 1 tahun. Tapi tulang kakinya sangat rapuh dan ia harus tutup usia pada umur 27 tahun.

Tepat seminggu yang lalu, seorang ibu di India juga melahirkan bayi duyung. Karena kedua kakinya tertutup, bayi ini jadi nggak bisa diketahui jenis kelaminnya. Bayi ini jadi bayi kedua yang lahir dengan sindrom tersebut di India dan kelima di dunia. Sayang, bayi malang itu cuma bertahan selama 4 jam. Sebenarnya kenapa sindrom ini bisa terjadi? Hipwee News & Feature sudah merangkumnya buat kamu. Berikut ulasannya.

Sindrom mermaid ini bisa dibilang cacat lahir alias gangguan perkembangan bawaan yang cukup langka. Salah satu tandanya kedua kaki menyatu, membentuk ekor

Macam-macam tipe sirenomelia via dmm.biologists.org

Advertisement

Sindrom mermaid dalam dunia medis juga disebut sirenomelia. Kelainan ini bisa dibilang langka karena terjadi pada 1 dari 100.000 kelahiran. Selain bisa dilihat dari kondisi kaki yang nggak sempurna, sirenomalia juga ditandai dengan anomali pada tulang belakang bawah dan tungkai bawah. Meski begitu, tubuh bagian atas bayi biasanya berfungsi normal. Saat lahir, kebanyakan dokter nggak bisa menentukan jenis kelaminnya karena bagian paha hingga kaki menyatu. Bayi dengan sindrom ini bisa punya satu kaki, atau tanpa kaki sama sekali.

Belum pasti apa penyebabnya. Tapi sebagian besar ahli medis percaya kalau sindrom ini karena faktor lingkungan dan genetik

Tiffany Yorks, penderita sindrom sirenomelia yang bisa dipisahkan kakinya via the-sun.on.cc

Sebagian besar kasus sirenomelia terjadi secara acak, tanpa alasan yang jelas. Meski penyebab pastinya belum diketahui, tapi para peneliti dan ahli medis sepakat menyebut faktor lingkungan dan genetik punya andil besar dalam mempengaruhi perkembangan gangguan tersebut. Tapi berdasarkan keterangan dokter kandungan di Rumah Sakit Sahi Ram India, Vandana Arya, adajuga beberapa faktor lain yang diduga jadi penyebab sindrom ini, seperti berlebihan minum obat, kekurangan vitamin, hingga diabetes pada ibu.

Selain kelainan fisik, bayi dengan sindrom ini juga akan mengalami berbagai macam kelainan organ dalam

Rentan komplikasi via cloudmind.info

Seperti dikutip Kompas, Lindsey Fitzharris dari Universitas Oxford mengatakan sindrom ini terjadi akibat dari tali pusat gagal membentuk dua arteri. Hal inilah yang menyebabkan janin nggak mendapat pasokan darah yang cukup, sehingga darah dan nutrisi cuma terpusat pada tubuh bagian atas saja. Sedangkan bagian paha ke bawah nggak berkembang. Setelah lahir, bayi sirenomelia juga hampir pasti mengalami kelainan organ, seperti ginjal dan kandung kemih yang nggak berfungsi dengan baik. Selain itu, usus, anus, kantong empedu, atau sumsum tulang belakang juga mengalami masalah. Nggak jarang juga ada yang sampai cacat jantung dan komplikasi paru-paru.

Komplikasi yang kerap mengintai, membuat bayi dengan sindrom ini nggak banyak yang bisa bertahan lama

Shiloh Pepin via www.thesun.co.uk

Advertisement

Berbagai komplikasi yang dialami itu membuat mayoritas bayi dengan sindrom ini banyak yang nggak bertahan lama. Selain Tiffany Yorks seperti yang sudah disebut di atas, ada juga bayi lucu asal AS bernama Shiloh Pepin yang terlahir dengan kaki duyung. Ia juga lahir tanpa kandung kemih, rahim, rektum, vagina, dan cuma punya seperempat ginjal, satu ovarium, dan 6 inci usus besar. Lahir tahun 1999, Pepin pun menghembuskan nafas terakhir tahun 2009 silam karena infeksi paru-paru.

Penderita sindrom ini butuh penanganan berupa serangkaian operasi. Tentunya ini butuh kerjasama yang baik antara dokter anak, ahli bedah, ahli jantung, ahli ortopedi, ahli bedah ortopedi, spesialis ginjal, dan ahli medis lainnya. Sindrom ini memang tergolong langka, terjadi di 1 dari 100.000 kelahiran. Semoga ke depannya ada terobosan medis yang bisa membantu meningkatkan harapan hidup penderitanya ya guys!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya