Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, terkadang suatu hal yang buruk juga menyimpan sebuah kebaikan. Seperti ganjaGanja merupakan satu dari sekian jenis narkotika yang secara hukum dilarang keras di Indonesia. Efeknya begitu berbahaya karena bisa membuat orang kehilangan kesadaran dan kecanduan. Namun zat adiktif yang sering disebut perusak generasi muda ini, ternyata juga mampu menyelamatkan nyawa seseorang. Seperti kisah mengharukan seorang ibu tunggal yang berhasil melalui perjuangan melawan kanker dengan didampingi ganja.

Ganja jadi bagian penting dari keberhasilan ibu dua anak ini melawan habis penyakitnya. Penggunaan ganja sebagai obat penahan rasa sakit untuk keperluan medis, memang masih jadi perdebatan. Meski sudah ada segelintir negara yang melegalkan ganja untuk tujuan medis tersebut, kebanyakan negara lain masih melarang keras penggunaan ganja dalam bentuk apapun. Jadi serba sulit dan dilematis juga ya perdebatan ini. Yuk simak kisah selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Berkat ganja, seorang ibu dan kedua anaknya berhasil sembuh dari penyakitnya. Bagi mereka, ganja tak ayal merupakan penyambung kehidupan

Keluarga yang selamat berkat cannabis via www.instagram.com

Advertisement

Foto tersebut adalah karya seorang fotografer National Geographic bernama Lynn Johnson. Sang ibu, yaitu Shannan berjuang melawar kanker, seperti terlihat di foto, ia bahkan sudah kehilangan kedua payudaranya akibat kanker. Ganja yang ia konsumsi membantunya bertarung dengan rasa sakit luar biasa ketika perawatan kanker. Putranya Joseph yang berusia 9 tahun merupakan penderita autisme, ganja membantunya meredakan kegelisahan. Sedangkan Oliver yang masih berusia 7 tahun menggunakan ganja sebagai pencegahan terhadap berkembangnya tumor dalam tubuhnya.

Ganja memang selama ini dikenal sebagai tanaman yang juga berguna dalam pengobatan medis. Namun penggunaannya harus sesuai dosis tertentu dan didampingi oleh tenaga medis yang berpengalaman. Bahkan dengan pengawasan ketat sekalipun, penggunaan ganja untuk kepentingan medis tetap saja memiliki risiko adiksi. Makanya harus hati-hati banget!

Sayangnya status ilegal ganja di Indonesia ini pernah membuat seorang lelaki dipenjara karena berusaha mengobati sakit istrinya

Pengadilan Fidelis Ari via www.suratkabar.id

Sekitar delapan bulan yang lalu, warga asal Sanggau Kalimantan Barat diamankan polisi karena kedapatan menanam ganja di pekarangan rumahnya. Adalah Fidelis Ari, seorang suami yang memiliki cinta begitu besar pada sang sitri dan rela menggunakan ganja untuk membantu sang istri menghadapi penyakit Syringomyelia. Selama bertahun-tahun Fidelis sudah kehilangan cara, hingga ia pun merawat sendiri istrinya di rumah. Namun naas, selang waktu satu bulan semenjak ia tak lagi bisa merawat sang istru karena berada di bui, sang istri meninggal dunia.

Advertisement

Permasalahan ini pun jadi dilema besar bagi pemerintah kita dan pemegang regulasi di Indonesia. Status ganja sebagai narkotika golongan I, tak bisamelepaskan Fidelis dari jerat hukum karena menanam tumbuhan ilegal di pekarangan rumahnya. Meski tujuan dari penggunaan ganja itu nantinya untuk menyelamatkan nyawa istrinya sendiri.

WHO baru-baru ini mengumumkan jika penggunaan medis ganja dan marijuana aman dan tidak berisiko ketergantungan

Cannabidol, pemanfaat ganja untuk keperluan medis via www.medicalmarijuanainc.com

Selama ini banyak orang dibayang-bayangi risiko ketergantungan yang akan dtimbulkan oleh ganja dan marijuana meski hanya digunakan untuk keperluan medis saja. Melansir dari Live Science, pada 14 Desember 2017 WHO telah menyatakan bahwa penggunaan ganja dan marijuana untuk keperluan medis tidak akan menimbulkan risiko ketergantungan seperti yang selama ini banyak dikhawatirkan. Tentu saja penggunaan ini haruslah dengan dosis yang sesuai, seperti misalnya dengan cannabidol atau CBD. CBD merupakan obat dengan bahan dasar ganja yang aman untuk penggunaan medis. WHO juga mengklaim penggunaan obat ini tidak akan menimbulkan berbagai dampak penyalahgunaan dan ketergantungan.

Status ganja memang beda di berbagai negara. Ada negara yang sudah melegalkan ganja, ada yang melegalkan penggunaan medisnya saja, dan ada pula yang melarangnya sama sekali

Sajian daun cannabis via www.tripsavvy.com

Indonesia adalah salah satu negara yang melarang legalitas ganja. Bahkan untuk keperluan medis, penggunaan ganja dan marijuana tidak berpayung hukum. Kasus Fidelis Ari membuat banyak aktivis dan ahli hukum tergerak untuk mendiskusikan kembali posisi ganja dan peraturan hukum yang berlaku di negara ini. Kisah mengharukan Fidelis Ari tidak bisa dimungkiri membuat dirinya sebenarnya tidak bersalah di mata sosial, namun di mata huku kepemilikannya terhadap barang ilegal sulit untuk dilepaskan.

Sementara itu di Uruguay dan beberapa negara bagian Amerika Serikat, ganja sudah legal dan bebas dikonsumsi layaknyaa rokok disini. Pemerintah juga mengatur kepemilikan ladang ganja. Sedangkan di beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Belanda, penggunaan ganja legal di tempat tertentu dengan beberapa aturan ketat yang dimiliki. Begitu pula untuk penggunaan medisnya.

Mengingat manfaat ganja yang memang bisa membantu pengobatan berbagai penyakit mematikan, tak ayal jika banyak pula yang memperjuangkan legalitasnya. Namun di sisi lain, celah penyalahgunaannya juga akan semakin terbuka lebar jika ganja diperbolehkan. Setidaknya dengan penggunaan yang tepat, ganja sudah menyelamatkan banyak nyawa dan membantu penderita penyakit mematikan untuk berjuang melawan penyakitnya layaknya keluarga Shannan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya