Tuntutan sekelompok mahasiswa di Makassar agar penayangan film Dilan 1991 dibatalkan tampaknya masih terus berlangsung. Setelah sebelumnya mereka menggelar demo di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar, kemarin aksi pemboikotan bioskop dilakukan di salah satu mall di Makassar. Di media sosial, banyak beredar video bukti kericuhan yang terjadi di sana. Gerombolan pendemo ini memaksa masuk ke dalam bioskop yang dijaga ketat oleh security mall.

Video kericuhan di XXI Mall Panakkukang, Makassar, beredar luas di media sosial. Dalam video itu tampak sekelompok mahasiswa memaksa masuk gedung bioskop untuk memboikot film Dilan 1991

Advertisement

Sejumlah video yang diambil dari angle berbeda-beda, memperlihatkan betapa ricuhnya aksi pemboikotan bioskop yang dilakukan sekelompok mahasiswa di Makassar. Namun siapa oknum yang terlibat dalam keributan ini masih simpang siur. Pemberitaan awal menyebutkan mereka yang protes di kantor Dinas Pendidikan kemarin berasal dari Komando Mahasiswa Merah Putih (Kompi) Sulawesi Selatan –tapi laporan Kumparan memberitakan kalau kelompok yang terlibat kericuhan di bioskop adalah Laskar Aliansi Mahasiswa 98 Indonesia. Berbeda lagi dari laporan Merdeka yang menyebut Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan Nasional (AMPPN). Ya mungkin saja, aksi ini merupakan aksi gabungan tapi yang jelas mereka menuntut hal yang sama yakni menuntut agar pihak XXI membatalkan penayangan film Dilan 1991.

Selain karena film Dilan 1991 dianggap penuh adegan kekerasan, mereka juga beralasan kalau film ini melecehkan profesi guru sebagai tenaga pendidik dan mempertontokan adegan yang melanggar hukum

Adegan seperti ini yang dikritik — melanggar hukum karena berboncengan tidak pakai helm via www.idntimes.com

Dalam demo yang berlangsung di kantor Disdik Makassar, Rabu 27 Februari kemarin, sekelompok mahasiswa yang menolak penayangan Dilan 1991 beralasan film ini tidak sesuai dengan budaya Bugis-Makassar, karena penuh dengan kekerasan. Ternyata, itu bukan satu-satunya alasan. Dikutip Merdeka.com, gerombolan mahasiswa itu juga menganggap film drama remaja ini melecehkan profesi guru sebagai tenaga pendidik. Mika, salah satu pendemo bahkan mengatakan Dilan 1991 telah melanggar UU No 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman. Film itu dinilai telah mempertontonkan adegan melanggar hukum, seperti saat Dilan dan Milea berboncengan tanpa menggunakan helm.

Tapi lucu juga sih, saat mereka gembar-gembor menolak film Dilan 1991 karena berpotensi meningkatkan kekerasan, mereka justru menyampaikan aspirasinya dengan cara menimbulkan kericuhan~

Mencontohkan dengan cara yang salah… via www.wowkeren.com

Aksi demo ugal-ugalan yang terjadi di Mall Panakkukang itu ternyata berlangsung malam hari sekitar pukul 19.20 lo. Selain memaksa masuk bioskop yang sudah dihalau sejumlah security, mereka juga terlihat merusak properti di sana dengan maksud menggunakannya untuk menutup pintu bioskop. Mereka sadar nggak ya kalau aksinya itu malah menimbulkan kericuhan dan mengganggu pengunjung lain? Padahal alasan mereka menolak Dilan 1991 itu ‘kan karena banyak adegan kekerasan di dalamnya… Hadeh, maunya apa to?

Advertisement

Untungnya sih kelompok mahasiswa ini gagal memasuki bioskop. Tapi kalau dikutip Kumparan, Mahmud, salah satu pendemo berteriak mengancam akan datang lagi dengan massa lebih banyak kalau film Dilan 1991 belum juga dibatalkan penayangannya. Hmm…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya