Menakar Anggaran Sosial Zaman Sekarang. Berapa sih Angka Ideal Ngamplopin Orang-orang?

besaran anggaran sosial

Kalau ngomongin soal tradisi saling membantu tanpa diminta, orang Indonesia juaranya. Sifat kayak gini memang udah identik sejak zaman dulu, bahkan berlangsung hingga sekarang. Buktinya, melihat orang tengah kesulitan di jalanan pun banyak yang langsung turun tangan untuk menolong, padahal belum tentu pernah mengenal bahkan bertemu sebelumnya. Apalagi, kalau sudah saling mengenal selama beberapa waktu.

Hubungan yang erat antara satu dengan lainnya mampu membuat seseorang jadi merasa punya tanggung jawab untuk memberikan kebahagiaan yang sama. Misalnya saja, kebiasaan pemberian amplop atau sumbangan saat perayaan. Mulai dari pesta pernikahan, ulang tahun, hingga momen hari raya tak luput dari yang namanya sumbang uang.

Nggak bisa dimungkiri kalau kebiasaan tersebut memang sudah lumrah terjadi di lingkungan kita. Maka dari itu, banyak yang akhirnya menyisihkan pendapatan untuk pos kepentingan berjudul “Anggaran Sosial” ini.

Lantas, sebenarnya apa sih yang menjadi latar belakang dari tradisi pengeluaran untuk kepentingan sosial? Kok bisa ya hal ini berhasil jadi kebiasaan di masyarakat? Nah, karena penasaran dengan ‘standarnya’, Hipwee Premium melakukan riset kecil-kecilan soal anggaran sosial ini ke beberapa pihak. Yuk, langsung simak jawaban mereka!

Tradisi ngamplop saat pernikahan bukan hal yang istimewa. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk ucapan selamat dan terima kasih sudah dilibatkan

Ngobrolin soal syukuran pesta pernikahan, ada satu hal yang nggak bisa terlepas dari itu. Yup, apalagi kalau bukan amplop kondangan atau sumbangan. Hal ini termasuk lumrah di masyarakat, lihat saja dari adanya kotak yang biasanya disediakan di depan pintu masuk untuk menyambut para tamu.

Kalau hajatan yang digelar cukup besar, pemberian amplop bahkan semakin modern dengan barcode scan tanpa tanya nomor rekening. Didorong rasa penasaran, Hipwee Premium pun bertanya perihal tradisi ngamplop ini dan berapa rata-rata anggaran yang dihabiskan dalam sekali undangan.

“Aku sih ikuti kondisi keuangan, karena gaji masih UMR kalau yang mengundang sekadar kenal dan nggak akrab gitu amplopin-nya Rp50 ribu, tapi kalau teman dekat dan akrab itu minimal Rp100 ribu. Belum lagi kalau patungan kado sama teman-teman, pengeluarannya sekitar Rp50 ribuan lah,” kata Zhafira (23) saat dihubungi Hipwee Premium.

Ia pun menjelaskan bahwa pemberian uang kepada mempelai merupakan bentuk ikut merasakan kebahagiaan, terlebih sudah menyertakan namanya untuk diundang.

“Sebagai ucapan selamat, terus misalkan yang mengundang nggak dekat banget, sebagai ucapan terima kasih sudah diundang. Dengan artian, untuk menghargai acara mereka,” sambungnya.

Di sisi lain, ada juga yang menganggap tradisi amplop saat nikahan ini minimal menutup biaya hidangan yang disantap. Bahkan, jika merasa mampu, memberikan lebih banyak tak masalah karena bisa sekaligus bersedekah.

“Tergantung seberapa dekatnya hubungan kita, minimal bisa menutup biaya hidangan yang dimakan. Lihat juga mereka hanya kenalan atau saudara, kalau orang dekat dilebihin karena niatnya juga ingin membantu. Rp200 ribu sampai Rp500 ribu jika acaranya digelar di venue besar,” ungkap sosok bernama Tasya (27).

Kehadiran bridesmaid sudah bukan jadi fenomena baru lagi. Tradisi kekinian yang satu ini juga nggak kalah menguras kantong, lo

Anggaran jadi bridesmaid | Credit: Katelyn MacMillan on Unsplash

Masuk usia kepala dua, undangan pernikahan hingga ajakan menjadi bridesmaid pun tak sedikit yang mengalami. Biasanya kerabat pengantin akan memakai busana serupa selama momen sakral berlangsung. Sebenarnya, kebiasaan yang satu ini bukan tradisi asli Indonesia, melainkan diadaptasi dari budaya Romawi kuno. Namun, masifnya penggunaan media sosial memang menjadi salah satu faktor tren bridesmaid begitu lumrah di negara +62.

Pengantin akan memberikan gaun atau pakaian seragam berupa kain untuk dijahit. Makanya, mereka yang menerima perlu memikirkan desain yang cocok hingga mencari tahu tempat jahit yang sesuai. Kepada Hipwee PremiumAthaya menceritakan pengalaman pertamanya menjadi seorang pendamping pernikahan.

“Aku baru pertama kali, senang jadi bagian di hari bahagianya sahabat. Apalagi, acaranya juga lumayan privat, nggak semua diundang jadi berasa ekslusif gitu. Awalnya ada tekanan buat cari model gaun terbagus. Takut ngecewain gitu, lo,” pungkas perempuan berusia 23 tahun ini.

Penggambaran bridesmaid yang mesti tampil paripurna membuatnya mempersiapkan sedetail mungkin, dari mulai jahit seragam, pemberian kado, hingga perlengkapan penunjang selama acara berlangsung. Kalau ditaksir, satu kali berpartisipasi menjadi bridesmaid mampu menguras kantong di atas Rp500 ribu.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini