Cokelat dan Valentine’s Day memang tidak lagi bisa dipisahkan. Sama seperti tahun baru yang identik dengan kembang api atau lebaran yang identik dengan ketupat dan opor ayam, cokelat adalah salah satu hal yang paling melekat pada perayaan Valentine. Setiap bulan Februari tiba, toko-toko di mal mulai berlomba memajang cokelat yang ditawarkan dengan berbagai paket menggiurkan. Saat Valentine’s Day tiba, pasti ada yang bersiap memberi cokelat untuk kesayangan dan ada yang diam-diam berharap dapat cokelat dari gebetan.

Akibatnya, cokelat juga menjadi hadiah yang identik dengan cinta. Katanya, barang siapa yang memberikan cokelat kepada pasangan maka dia sudah fix romantis dan layak dipertahankan. Ternyata popularitas cokelat dalam dunia cinta-cintaan ini tidak instan. Seperti yang dibahas oleh smithsonianmag, ada sejarah panjang mengapa akhirnya cokelat dan Valentine’s Day tidak bisa dipisahkan.

Di era suku Aztec dan Maya, cokelat adalah hadiah mewah untuk kelas atas. Biji cokelat sama berharganya dengan emas

biji cokelat yang sangat berharga

Biji cokelat yang sangat berharga via blog.crowdfooding.co.uk

Advertisement

Cokelat dikenal sejak peradaban Mesoamerican atau abad pertengahan di benua Amerika. Bagi kalangan elit suku Aztec dan Maya yang terkenal dengan ramalan akhir zamannya, cokelat pertama kali dikonsumsi sebagai minuman. Biasanya dicampur dengan dengan jagung, vanila, madu, dan cabai. Di era itu, biji cokelat dianggap sebagai komoditas yang sangat berharga. Bila sekarang kita bayar pajak pakai uang dan di era kerajaan dulu pajak dibayar dengan emas dan perak, di peradaban Aztec dan Maya cokelat bisa digunakan untuk bayar pajak.

Menyeberang ke Eropa, cokelat mulai dikenal sebagai ‘minuman cinta’. Keluarga kerajaan mengonsumsinya sehari-hari

Minuman Cokelat

Minuman cokelat via www.washingtonpost.com

Popularitas cokelat mulai merambah Eropa di tahun 1600-an. Saat itu kedai cokelat mulai menjamur dan menjadi saingan untuk kedai-kedai kopi yang sudah eksis duluan. Untuk orang Eropa, cokelat dikenal sebagai minuman suku Indian yang bisa menyembuhkan dan melindungi tubuh dari beragam penyakit. Namun lambat laun, cokelat juga dikenal sebagai minuman cinta. Di Perancis, Raja Louis IV menjadikan cokelat sebagai minuman sehari-hari. Dan bagi beberapa kalangan madame-madame di Perancis, mereka menggunakan cokelat untuk merangsang pasangannya.

Hubungan antara cokelat dan Valentine’s Day dimulai pada masa Ratu Victoria menguasai Britania. Hobi sang ratu memberi hadiah cokelat pada Valentine’s Day mulai menjadi tradisi

Misteri kotak cokelat

Misteri kotak cokelat

Valentine’s Day dan cokelat sesungguhnya adalah gabungan dari dua fenomena. Sejarah Valentine’s Day selama ini dirujuk sebagai penghormatan kepada 3 santo yang menjadi martir pada era Gereja Katolik. Ketiganya dihukum karena memperjuangkan cinta. Konsep kasih sayang dan cinta pada Valentine’s Day ini juga didukung oleh puisi di abad ke-14 karya Gaoffrey Chauser, Parlement of Foules. Chauser dalam puisinya menggambarkan situasi alam yang indah, politik yang damai, hasrat seksual manusia, makna cinta, dan dorongan kepada seluruh manusia untuk menemukan pasangannya. Puisi ini diakhiri dengan pujian kepada Santo Valentine.

Advertisement

Saat Ratu Victoria berkuasa di Inggris tahun 1837, Valentine’s Day mulai dikukuhkan sebagai hari yang layak dirayakan. Pada momen tersebut sang Ratu ternyata hobi memberikan hadiah cokelat kepada orang-orang terdekatnya. Begitulah cerita singkat bagaimana hari Valentine akhirnya menjadi tradisi yang selalu diperingati di seluruh dunia. Dan bagaimana juga cokelat muncul sebagai hadiah yang selalu identik dengan perayaan tersebut.

Cokelat yang awalnya hanya berupa minuman, menjadi makanan di tangan Richard Cadbury. Bukan lagi hanya diminum, tapi juga dibungkus secara romantis

Cokelat Cadbury

Cokelat Cadbury jadi merek cokelat ternama di dunia via www.pinterest.com

Adalah Richard Cadbury yang pertama kali mengubah konsep dari minum cokelat menjadi makan cokelat. Sebagai pelakon perusahaan cokelat milik keluarga Cadbury, Richard memutar otak agar cokelat bisa lebih mudah dikemas dan dipasarkan. Akhirnya Richard mengemas cokelat dalam kotak berbentuk hati yang dia desain sendiri. Dengan sedikit sentuhan gambar cupid yang melambangkan cinta, cokelat dikukuhkan sebagai ikon cinta. Sementara cokelatnya dimakan, kotak kemasannya bisa disimpan sebagai kenang-kenangan tanda cinta.

Setelah Inggris, Amerika pun memulai masa-masa komersialisasi Valentine’s Day dan cokelat. Semua perusahaan berlomba mengeluarkan produk cokelat bertema cinta

Penuh simbol hati dan warna pink

Tiap produsen cokelat punya edisi khusus penuh simbol hati dan warna pink via amazon.com

Di Amerika, komersialisasi Valentine’s Day dan cokelat dimulai pergantian abad ke-19 dan 20. Diawali oleh pendiri cokelat Hershey’s yang kita kenal selama ini, Milton Hershey yang menggabungkan cokelat dengan karamel. Produknya yang paling legendaris adalah ‘kisses’, cokelat dan karamel yang berbentuk seperti butiran air mata yang saat proses produksinya mengeluarkan suara seperti orang ciuman. Produk bertemakan cinta ini dibangun seputar kedekatan filosofis antara cokelat dan cinta, yang terbukti bisa efektif jadi strategi pemasaran.

Pendiri merk cokelat lain, Mrs. Stover Bungalow Candies melakukan hal yang sama. Russel dan Clara Stover membangun pabrik cokelatnya di Kansas City dan mulai menjual produk cokelat Valentine-nya yang dikemas dalam kotak berbentuk hati dari toko ke toko. Produknya yang paling legendaris adalah Secret Lace Heart, kemasan kotak cokelat yang dibalut dengan sutra dan renda hitam dan dikenal sebagai ‘Lingerie Box’. Wah, semakin kuat deh identifikasi cokelat dengan cinta dan hasrat.

Tidak hanya berhenti di bentuk cokelat batangan, seiring penyebarannya ke seluruh dunia perayaan Valentine’s Day dan cokelat berpadu dengan budaya lokal

Nasi Kari cokelat

Nasi Kari cokelat yang hidangan spesial Valentine di Jepang

Bila kebanyakan cokelat Valentine’s Day adalah cokelat biasa yang dikemas dengan bentuk romantis, di Jepang berbeda. Menjelang 14 Februari, orang-0rang di Jepang mulai berburu menu Chocolate Curry alias nasi kari cokelat. Nasi kari memang populer di Jepang. Namun nasi kari yang umumnya terdiri dari daging dan sayuran, digantikan dengan cokelat khusus untuk perayaan Valentine’s Day. Pisang lumat, tumisan bawang, gula, kacang chutney, bubuk bawang merah, bubuk kari, dan rempah digabungkan dengan cokelat hitam yang sudah dilelehkan, menghasilkan campuran rasa unik yang ternyata digemari banyak orang. Meski sulit dibayangkan oleh lidah orang Indonesia, tapi menu ini jadi favorit untuk pasangan Jepang yang sedang memadu kasih di hari cinta.

Sebenarnya asal muasal hubungan cokelat dan hari Valentine itu tidak sepenuhnya romatis atau dalam maknanya, tak lebih dari keberhasilan marketing dari pelaku bisnis yang jeli ambil peluang

kontroversi Valentine's Day

Kontroversi Valentine’s Day via www.inquisitr.com

Seiring dengan globalisasi ekonomi, perayaan Valentine’s Day berubah menjadi fenomena dan tren global. Khususnya bagi generasi muda, merayakan hari kasih sayang setiap tanggal 14 Februari sudah dianggap sebagai keharusan. Ditengah meluasnya Valentine’s Day melintasi batasan negara, tentu ada budaya-budaya tertentu yang menentang perayaan khusus ini. Termasuk Indonesia.

Negara-negara seperti Iran, Malaysia, Pakistan, dan India juga melarang perayaan Valentine’s Day karena dinilai tidak cocok dengan budaya muslim ataupun budaya lokal. Tapi dilarang-larang pun tak semua menurut. Di Arab Saudi misalnya, pengusaha dan pemilik toko cokelat tak pernah kalah piawai mengatur strategi untuk tetap meraup keuntungan meskipun dilarang.

Menelisik jauh ke sejarahnya, Valentine’s Day bukan soal budaya ataupun sejarah Santo Valentine yang identik dengan umat Kristiani. Sejarah hubungan keduanya lebih berbau bisnis dan strategi promosi yang spektakuler dari produsen cokelat dengan membuat konsep Valentine’s Day identik dengan cokelat. Jadi bila tetap ingin memboikot perayaan Valentine’s Day, mungkin cara termudah adalah dengan berhenti beli cokelat di tanggal 14 Februari.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya