Bagi sebagian orang, kata “ospek” mungkin terdengar begitu menakutkan. Sampai-sampai belum berangkat ospek aja, kepikirannya udah yang nggak-nggak. Soalnya memang sering banget kita dengar berita ospek yang disertai tindak kekerasan. Biasanya sih dilakukan oleh kakak tingkat kepada adik tingkatnya. Bahkan nggak jarang juga yang sampai kehilangan nyawa gara-gara dipukuli. Padahal ospek semacam ini udah dilarang dan tercantum jelas di peraturan menteri pendidikan.

Belum hilang perpeloncoan dalam tubuh ospek, baru-baru ini terjadi lagi penyimpangan yang melibatkan tindak asusila alias mesum! Kabar ini mulai menyeruak pertama kali dari sebuah video yang diunggah akun Lambe Turah di Instagram. Komentar negatif pun mengalir di unggahan yang kini sudah dihapus itu. Melihat betapa buruknya citra ospek di Indonesia, Hipwee News & Feature sudah merangkum informasi terkait hal ini untuk kamu. Yuk, simak, biar bisa jadi pembelajaran bersama.

Bukannya mendidik, ospek yang kabarnya dilakukan di Manado ini malah mengajarkan hal yang mengarah ke tindak asusila

Advertisement

Sebuah video ospek yang kabarnya terjadi di sebuah universitas ternama di Manado, baru aja menggegerkan dunia maya. Apalagi setelah akun fenomenal Lambe Turah yang diikuti lebih dari 5 juta pengguna itu, ikut mengunggah video itu. Bukan ospek penuh aksi kekerasan di mana anak-anak baru dipukuli seniornya seperti yang dulu sering terjadi, tapi video ospek kali ini justru sarat dengan unsur asusila.

Peserta ospek terlihat dipaksa untuk berbaring diantara paha temannya lalu diinstruksikan untuk menggesek-gesekkan kepalanya di sekitar selangkangan dan alat vital temannya tersebut. Para senior dan panitia tampak menertawakan peserta yang terlihat malu dan tidak nyaman dengan posisi memalukan itu. Tindakan ini jelas mengundang kritik pedas . Kalau dipikir-pikir juga tujuannya apa sih? Benar-benar nggak ada unsur pendidikannya, yang ada malah berujung ke tindak asusila.

Padahal kalau balik ke arti ospek itu sendiri, ‘kan harusnya diisi kegiatan pengenalan lingkungan kampus, biar maba lebih siap menapaki perjalanan baru

Harusnya diisi kegiatan positif via nasional.sindonews.com

Ospek: Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

Advertisement

Dari kepanjangannya aja udah jelas kalau ospek ini harusnya diisi kegiatan-kegiatan positif yang gol akhirnya bisa membuat maba lebih siap menjalani hari-hari di kampus baru. Nggak usah jauh-jauh ke tindak asusila atau kekerasan deh. Sebenarnya pemberian tugas yang memberatkan misalnya membawa tempe yang harus dipotong sebesar sekian milimeter, atau membawa papan nama yang membentuk sudut sekian derajat, dan sebagainya itu juga jauh dari tujuan ospek itu sendiri. Ya, apalagi yang mengandung kekerasan atau asusila. Nggak ada faedahnya…

Masalahnya mereka tuh membawa nama lembaga pendidikan lho. Institusi yang harusnya bisa membentuk generasi penerus bangsa, yang gara-gara kasus ini malah jadi tercoreng

Membawa nama lembaga pendidikan via www.sipayo.com

Namanya aja institusi pendidikan, tentu aja harus mendidik dong. Tujuan lembaga-lembaga kayak sekolah atau universitas ini dibangun ‘kan untuk mencetak generasi-generasi emas penerus bangsa. Tujuan itulah yang jadi harapan para orangtua di luar sana ketika menyekolahkan anaknya mahal-mahal. Setelah lulus, mereka pengen anaknya bisa jadi dokter, seniman, penulis, direktur, atau profesi lain yang bermanfaat. Gara-gara kasus ini, image lembaga pendidikan yang mulia itu harus tercoreng.

Mungkin sebenarnya ospek semacam ini udah sering dilakukan sebelumnya. Karena udah membudaya jadinya pada mikir biasa aja

Sudah membudaya via nasional.tempo.co

Sebenarnya perpeloncoan dalam ospek ini sudah jadi ‘lagu lama’, mengakar dan membudaya, sampai akhirnya malah jadi biasa aja. Mungkin di beberapa institusi/jurusan, kalau ospeknya nggak ekstrem akan dianggap kurang afdol. Soalnya menurut mereka ya dari dulu sudah seperti itu. Jadi semacam ada standar tertentu.

Bahkan nggak sedikit juga yang merasa punya kewajiban untuk ‘membalas’ perlakuan kakak tingkatnya dulu kepada mereka, dengan cara melakukan hal serupa ke adik tingkatnya. Begitu seterusnya. Padahal hal ini bisa jadi salah satu alasan kenapa perpeloncoan dalam ospek baik sekolah atau universitas terasa begitu sulit dihapuskan. Mungkin ke depannya perlu ada 1 generasi yang rela memaafkan, jadi budaya turun-temurun macam ini bisa benar-benar dihapuskan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya