Memiliki hubungan sedarah alias inses hingga ke jenjang pernikahan (yang memungkinkan adanya hubungan seksual) bukan hanya jadi hal yang tabu, tapi juga ilegal. Di Indonesia sendiri, perkawinan yang dilakukan oleh dua orang yang berhubungan darah dinyatakan terlarang dan diatur dalam UU Perkawinan. Pernikahan sedarah yang banyak terjadi pada zaman kerajaan zaman dulu, ketika anggota kerajaan ingin menjaga ‘kemurnian’ keturunannya. Banyak juga yang dilakukan secara nggak sengaja, mereka baru sadar kalau bersaudara setelah merunut garis keluarganya. Seperti halnya Bapak Evolusi, Charles Darwin, yang menikah dengan sepupu pertamanya Emma, seperti lansiran The Guardian.

Bukan hanya dianggap menyalahi norma dan mendapatkan sanksi sosial, pasangan yang berhubungan sedarah berisiko mengalami gangguan kesehatan, terutama bagi keturunannya kelak. Bahkan beberapa hewan maupun tanaman tertentu pun menghindari perkawinan sedarah atau dengan individu lain yang punya kemiripan secara genetik, demi mempertahankan lebih banyak keanekaragaman keturunannya.

Advertisement

Jadi, bukan hanya terjegal oleh norma masyarakat, ini lho alasan berisiko bagi keturunan yang dihasilkan dari pernikahan sedarah.

Keturunan hasil inses berisiko terkena penyakit bawaan yang berasal dari gen rusak kedua orangtuanya

Keturunan berpotensi besar membawa gen buruk dari orangtuanya via www.youtube.com

Setiap orang memiliki lima atau sepuluh gen rusak bersembunyi di DNA mereka. Keturunan dari pasangan yang bukan sedarah, di mana keduanya memiliki dua pasang gen yang berbeda, misalnya versi normal dan versi rusak atau cacat, risikonya lebih kecil untuk terkena penyakit bawaan orangtuanya. Karena ketika anak ini membawa gen rusak yang membawa penyakit tertentu misalnya, maka dia masih punya salinan gen normal sebagai cadangan yang akan menutupi kekurangan dari gen rusak tersebut.

Berbeda dengan keturunan hasil inses. Debra Lieberman dari University of Hawaii menyebutkan bahwa salah satu bahaya yang bisa timbul dari perkawinan sedarah adalah sulit untuk mencegah terjadinya penyakit yang terkait dengan gen buruk orangtuanya, seperti dikutip dari Livescience. Karena masih satu keluarga, maka gen yang dibawa juga hampir sama dan nggak saling melengkapi. Jika terdapat gen rusak yang mengandung penyakit bawaan, maka otomatis akan diturunkan ke anak-anaknya.

Efek samping lain dari perkawinan sedarah adalah meningkatnya risiko infertilitas dan cacat lahir pada keturunannya

Kondisi fisik King Tut sebagai hasil hubungan inses via mentalfloss.com

Advertisement

Selain berefek pada peningkatan infertilitas baik pada orangtua maupun keturunannya, keragaman genetik yang sangat minim pada keturunan dari perkawinan sedarah akan berdampak buruk bagi kesehatannya. Kemungkinan terkena kondisi tertentu yang dikenal sebagai autosomal recessive disorders atau penyakit genetik seperti anemia, albino, cystic fibrosis, juga akan meningkat secara signifikan.

Menurut temuan yang dilansir Hello Sehat, menyebutkan bahwa 40 persen anak hasil hubungan sedarah antara dua individu tingkat pertama (keluarga inti) lahir dengan kelainan berupa cacat fisik bawaan atau cacat intelektual parah. Seperti halnya Tutankhamun, alias King Tut yang punya beragam kondisi yang diakibatkan dari keterbatasan variasi kode genetik gen dari hubungan inses orangtuanya. King Tut dilaporkan memiliki bentuk tengkorak yang memanjang, bibir sumbing, tonggos (gigi depan atas lebih menonjol daripada gigi depan bawah), kaki pengkor (club foot), kehilangan salah satu tulang dalam tubuhnya, dan skoliosis.

Kurangnya variasi dalam DNA bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga keturunan hasil inses kesulitan untuk melawan penyakit dengan baik

Sistem kekebalan tubuh tergantung pada komponen penting dari DNA yang disebut Major Histocompatibility Complex (MHC) yang terdiri dari sekelompok gen yang bertugas sebagai penangkal penyakit. Agar MHC bisa bekerja dengan baik melawan penyakit adalah dengan memiliki keanekaragaman tipe alel (versi berbeda dari gen) sebanyak mungkin. Semakin beragam alel, semakin baik tubuh memerangi penyakit.

Nah, karena rantai DNA keturunan hasil inses nggak variatif, maka alel MHC-nya pun lebih terbatas. Tubuhnya pun jadi kesulitan mendeteksi beragam material asing, sehingga mereka pun lebih cepat jatuh sakit karena sistem imun tubuhnya nggak bekerja optimal untuk memerangi beragam jenis penyakit.

Hal-hal di ataslah yang menjadi risiko penyakit atau kondisi genetik tertentu akibat pernikahan sedarah atau memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat. Jadi bukan hanya sekadar tuntutan sosial saja. Makanya, sangat penting bagimu yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan genetik terlebih dahulu agar bisa mencegah dampak yang mungkin terjadi pada keturunannya. Siapa tahu, pasangan idamanmu itu punya hubungan keluarga? Semoga nggak terjadi, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya