Beberapa orang mengernyitkan kening ketika mengetahui apa yang ingin kujalani dalam hidup. Tidak seperti orang kebanyakan, buatku menjadi dewasa tidak sesederhana lulus kuliah – bekerja – menikah – punya anak – membesarkan keluarga sambil berdamai dengan kemacetan  — lalu sudah.

Hatiku mengatakan ada pencapaian lain yang harus dijalani saat aku masih bisa fight sekuat tenaga. Aneh bagi kebanyakan orang, ini melibatkan keputusan tidak membesarkan anak dalam tubuhku sendiri.

Advertisement

Tidak banyak yang bisa mengerti. Tapi masih banyak juga suara yang belum disuarakan dengan lantang soal ini. Kali ini ijinkan aku menjelaskan kenapa aku memutuskan tidak mengandung anak sendiri, tapi memilih adopsi.

Apa hubungan antara mengejan dan cinta? Siapapun yang diberi Tuhan semestinya diterima

shutterstock_243260572

Pertanyaan yang paling sering datang padaku adalah, “Aneh banget kok mau nggak punya anak? Emang yakin bisa sayang sama anak yang nanti diadopsi?”

Dalam kamusku jatuh cinta tidak perlu berbagai syarat rumit macam itu. Bersama dengan keponakan atau anak teman yang lucu saja sudah membuatku merasa dekat dengan mereka. Tidak penting rasanya mereka keluar dari tubuhku atau bukan, harus dikeluarkan dengan cara mengejan atau operasi sesar. Siapapun yang datang pastinya akan kucintai. Tidak ada pengecualian dalam hal ini.

Yang lebih menakutkan dari tidak punya keturunan? Terpaksa menghasilkan keturunan hanya karena tuntutan

shutterstock_441293683

Advertisement

Sudah lebih dari hitungan jari pertanyaan, “Gak takut nyesel kalau memilih nggak punya anak?” mampir ke telingaku. Entah karena orang sangat perhatian atau rasa ingin tahu yang berlebihan. Jelas, sebagai manusia biasa aku pun menanyakan ini pada diriku sendiri.

Bagaimana kalau nanti aku makin tua lalu tiba-tiba rasa ingin punya anak muncul? Bagaimana kalau aku bertemu pria yang mencintaiku, tapi ingin mendapatkan buah hati dari tubuhku?

Tapi selalu ada yang lebih menakutkan dari tidak bisa punya keturunan. Merasa punya kewajiban untuk menghasilkan keturunan hanya karena tuntutan. Merasa tidak lengkap sebagai manusia hanya karena tidak punya mulut kecil yang memanggil ‘Bunda.’ Menyamaratakan keberhasilan dengan pertumbuhan manusia lain yang kita anggap hadiah Tuhan. Menitipkan hidup pada orang lain yang seharusnya punya kehendak bebasnya sendiri.

Menyerah pada omongan orang yang berkata, “Loh? Kok sayang banget nggak pernah hamil?”

Melihat kawan-kawan menggendong bayi kecilnya, aku ikut bahagia. Nampaknya rasa bahagia itu tetap bisa kurayakan apapun caranya

shutterstock_243260560

Bohong kalau aku tidak senang saat mengunjungi teman yang baru saja berjuang melahirkan putra atau putrinya. Aroma bayi yang khas, menyentuh kulit mereka yang tampak keriput tapi lembut, tersenyum otomatis karena gerakan-gerakan kecil yang lucu menciptakan rasa hangat di dada. Jika ditanya apakah aku ingin mengikuti jejak yang sama, menciptakan kebahagiaan dari membawa manusia baru ke dunia — entah kenapa masih ‘Tidak’ jawabnya.

Mungkin hanya tidak sekarang. Mungkin suatu hari nanti panggilan yang sama itu akan datang.

Satu yang bisa kupastikan. Rasa bahagia yang sama akan tetap bisa dirayakan lewat berbagai cara. Apapun nanti cara datangnya, aku akan tetap mencintai anak yang kelak memanggilku Ibu atau Bunda. Tinggal serumah dengannya 24 jam tiap hari, aku pasti akan tetap jatuh hati.

Dibutuhkan kesiapan untuk jadi Ibu kandung dari anak sendiri. Butuh hati yang besar saat memutuskan memilih adopsi

shutterstock_441293698

Apapun jalannya, jadi Ibu bukanlah keahlian yang bisa dilakukan hanya karena intuisi. Butuh kewarasan untuk menghadapi anak yang sedang tantrum atau rewel karena teething. Tetap perlu pengetahuan agar tidak seenaknya bilang “Noo” atau “Nggak boleh!” ke anak balita yang sedang bandel-bandelnya.

Ceritanya akan sedikit berbeda jika anak datang dari proses adopsi. Ada proses cocooning dan bonding yang tidak bisa di-skip dari perjalanan seumur hidup. Mengenal manusia baru yang sudah punya kehendak dan kemauan sendiri butuh seni yang beda lagi.

Saat kesiapanmu dihantam dalam proses menjadi Ibu dari anak kandung sendiri, proses adopsi membutuhkan hati yang besar dan cerdiknya strategi. Tidak ada yang lebih mudah dari dua pilihan ini. Aku memilih percaya semuanya mesti disiapkan dengan sepenuh hati.

Apapun caranya dia datang nanti, kini saatnya berhenti egois hanya mau mencintai dia yang lahir dari rahim sendiri. Hidup tidak sedangkal ini

shutterstock_159314891-1

Saat nanti dia datang aku hanya berharap bisa mencintainya sedalam aku pernah mencintai pria yang kupilih menjadi ayahnya. Dia bisa datang ketika aku sudah tidak sekuat dulu lagi. Keyakinan memilikinya bisa muncul saat kemampuan finansialku tidak seleluasa sebelumya.

Memilih menjalani pilihan adopsi untuk mendapatkan keturunan membuatku punya kontrol atas semua pilihan. Tapi juga menciptakan ruang menunggu yang panjang. Tiap hari aku menggaungkan doa ini demi dia yang datang nanti:

Saat nanti kami sudah mampu menapakkan kaki, masuk ke rumah disambut tatapan cemas Bapak dan Ibu yang lama menunggu kamu datang demi menggenapkan kami. Kami selalu tahu ada ruang untukmu di sini.

Saat kamu datang nanti Ibu berharap bisa menyediakan apapun yang kamu butuhkan. Bukan cuma soal botol susu dan berpak-pak pampers tiap bulan. Ibu lebih berharap bisa punya waktu untuk membacakan buku-buku Pram bahkan sebelum kamu bisa membaca. Walau belum paham artiya Ibu ingin kamu tumbuh jadi manusia yang sudah bertingkah adil semenjak kecil dari dalam pikirannya. Ibu berharap bisa menyediakan ruang untukmu didengar tanpa terganggu urusan kerja. Semoga Ibu dan Bapak bisa menjawab pertanyaan dan menanggapi celotehanmu tanpa disela memelototi gadget demi tuntutan profesional manusia dewasa.

Dear Nak kesayanganku,

datanglah dengan caramu sendiri. Masuklah ke dalam hidup kami lewat langkah yang kau tentukan bersama Sang Maha Pemberi. Waktu kau datang ketika Ibu masih sibuk sekali sementara Bapak sering tidak ada di sisi, akan Ibu pastikan kau ada di tangan ternyaman yang semesta bisa beri. Saat kau datang ketika Ibu dan Bapak tak bisa seleluasa dulu mengajakmu bermain ke sana kemari, mohon maklumi. Akan kami usahakan kau mendapat keceriaan yang sama seperti yang anak-anak lain jalani. Ibu tidak bisa menjanjikan hidup yang sempurna. Ibu dan Bapak hanya bisa berjanji bahwa kami akan berusaha.

Sampai nanti kita bertemu, Nak. Biarkan kini Bapak dan Ibu membenahi hidup dulu. Ketahuilah ada kamu yang selalu jadi alasan kami membuka mata lebih lama demi menuntaskan urusan kerja. Ada kamu dalam setiap pertengkaran dan doa.

Sun sayang. Semoga di saat yang tepat kamu datang.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya