Cerita Kecil Soal Jujur dan Tidak Merasa Murahan, Selepas Tidak Lagi Perawan

Selepas tulisan ‘Tentang Melepas Keperawanan dan Hal-hal yang Tak Pernah Dibicarakan Orang’ dirilis di sini, saya menyadari bahwa Hipwee bisa menjadi wadah untuk berbincang dengan silent reader yang sedang menjalani proses sama di luar sana.

Walaupun di kolom komentar banyak yang bertanya, ‘Kok bisa ya aib diumbar?’, ‘Ah…ini kan cuma pembenaran dari wanita murahan.’  saya putuskan untuk terus menulis. Toh diam tidak akan menyelesaikan masalah. Dan siapa tahu dari tulisan ini gadis-gadis lain yang sedang mengalami proses yang sama di luar sana merasa menemukan kawan yang bisa diajak berbagi.

Kali ini saya akan bercerita soal bagaimana saya bercerita pada pria selanjutnya bahwa saya sudah tidak perawan, reaksi mereka, serta bagaimana semua itu mengubah pandangan saya soal relasi antara manusia.

Sekali lagi, tulisan ini tidak saya buat untuk mempengaruhi siapapun melepas keperawanan mereka. Ini tubuhmu. Ini hidupmu. Saya menghargai pilihanmu. Saya harap kamu pun begitu.

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Cap ‘murahan’ dan ‘bisa dipakai’ (anehnya) tidak saya rasakan. Semua kembali ke pembawaan

shutterstock_391663060

Hidup berjalan seperti biasa setelah hubungan itu selesai. Langkah pertama yang saya lakukan adalah bercerita ke circle terdekat saya bahwa kini saya sudah bukan lagi perempuan yang sama. Selaput tipis di bawah sana sudah tidak lagi ada.

Beberapa kawan dekat saya kaget, tapi untungnya tidak menyudutkan. Mereka bertanya apa yang membuat saya memutuskan mengambil langkah itu. Kemudian mengajak saya berbincang tentang apa rencana hidup saya selanjutnya. Saat itu saya bilang belum punya rencana apa-apa. Yang jelas hidup tidak boleh berhenti hanya karena sekarang ada bagian dari tubuh saya yang tak lagi sama.

Selepas pengakuan itu cap murahan atau cewek bisa dipakai tidak pernah saya rasakan. Karena toh saya tidak pernah menjajakan diri ke mana-mana. Bekerja, mengerjakan tugas, keluar bersama kawan secara biasa tetap saya lakukan.

Hidup berubah. Tapi harga diri saya tidak berpindah.

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Ada pria yang memilih pergi. Ada yang bertanya, ‘Kamu mau begitu lagi sama aku?’. Ada pula yang menganggap itu cerita biasa. Lalu fokus ke hal lainnya

shutterstock_398856970

Berbagai reaksi dari pria yang saya temui selepas memutuskan melepas keperawanan akan sangat menarik jika dibukukan. Saya tidak bercanda, karena dari reaksi mereka akhirnya saya tahu bagaimana standar pria memperlakukan wanita.

Selepas dekat, keluar beberapa kali, kemudian memilih menceritakan apa yang terjadi beberapa pria memilih pergi. Mereka menganggap saya sudah tidak lagi utuh. Gadis yang di depannya adalah guci retak yang tidak bisa diselamatkan lagi.

Reaksi kedua yang tak kalah banyak saya dapat selepas mengeluarkan pengakuan adalah pertanyaan, ‘Kamu mau begitu lagi sama aku sekarang?’

Pertanyaan macam ini biasanya saya tanggapi dengan tertawa. Lah, memang seks itu makanan cepat saji? Baru ketemu dua kali, baru ngobrol sebentar kok sudah mengajak begituan. Hubungan intim juga membutuhkan koneksi dan kedekatan.

Reaksi ketiga yang paling jarang saya dapatkan adalah mereka yang menganggap cerita saya ini seperti cerita kalau saya pernah pergi ke Nepal. Menarik, berbeda, tapi ya sudah. Berhenti di situ saja. Mereka tidak tertarik membahas terlalu lama. Move on ke topik selanjutnya. Pria jenis ketiga ini biasanya mengucapkan terima kasih atas kejujuran saya. Mau mendengar jika saya bercerita, tapi tidak mengorek cerita selanjutnya.

ADVERTISEMENTS

ADVERTISEMENTS

Bercerita adalah proses menyembuhkan diri. Saya memilih bersuara sebab di luar sana banyak gadis yang merasa terpasung karena ini

shutterstock_262331861

Berani bertaruh. Di luar sana ada banyak gadis yang memilih melepas keperawanan secara sadar, kemudian menyesal dan merasa hidup mereka selesai setelah berpisah dengan pria yang dia biarkan mengambil keperawanannya.

Kekesalan dan ketakutan yang mereka rasakan tidak pernah diungkapkan. Mereka memilih diam dan berusaha berdamai dengan diri sendiri. Padahal salah satu cara berdamai yang paling ampuh adalah dengan menjadi berani — lalu menceritakan apa yang kamu lalui, menjadikan itu identitas yang melekat padamu. Menerima dirimu.

Saya memilih bercerita karena saya tidak mau terpasung oleh pertanyaan. Saya memilih bercerita sebab dengan ini saya bisa memperoleh kebebasan. Saya memilih bercerita karena menyembunyikan hal ini sama saja tidak mencintai diri saya sendiri.

Kini saya mengerti kalau cinta tidak harus sepaket dengan bercumbu. Bukan pengalaman seksual yang menentukan harga dirimu

shutterstock_317205041

Proses terbuka pada pria yang datang selepas saya tak lagi perawan mengajarkan banyak hal. Ada beberapa pria yang menganggap selaput tipis di vagina itu segalanya. Saya menghargai prinsip mereka, angkat topi pada kejujuran dan ketegasannya.

Beberapa pria lain merasa gadis yang kehilangan selaput dara berarti sudah kehilangan harga dirinya. Dia pasti mau diajak melakukan apa saja. Kepada jenis pria ini sesungguhnya saya ingin mengajak mereka duduk lalu ngopi. Supaya mereka bisa melihat sesuatu yang lebih dari sekadar ngobrol, ke kamar, lalu mengakses sesuatu yang berada diantara kaki.

Jenis pria ketiga membuka mata saya soal arti lain harga diri. Mau masih perawan atau tidak, kamu — saya — kita  — tetap berharga. Kita maish bisa bekerja, bisa menelurkan karya, bisa diajak diskusi panjang soal buku atau karya seni. Harga diri dan nilai kita tidak lantas luntur hanya karena selaput di bawah sana sudah tidak ada lagi.

Hubungan bukan cuma soal pernah atau belum pernah berhubungan seks saja. Akan tetap ada dia yang menghargaimu apa adanya. Dia yang menganggap pengalaman seksualmu layak didengar, lalu dihargai saja.

Semoga cerita ini bisa mewakili perasaan gadis-gadis lain di luar sana yang merasakan hal sama. Untukmu yang masih merasa kakinya terpasung karena urusan keperawanan, ayo kita sama-sama memeluk diri sendiri. Hidup selalu lebih luas dari sekadar mengurusi hal ini 🙂

Baca sepuasnya konten-konten eksklusif dari Hipwee dan para konten kreator favoritmu, baca lebih nyaman bebas dari iklan, dengan berlangganan Hipwee Premium.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE