Baru Senin (27/11) kemarin Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis pernyataan adanya siklon atau badai tropis bernama Cempaka yang bergerak ke wilayah pesisir selatan Pulau Jawa. Siklon tersebut dapat menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah. Benar saja, sejak dua hari lalu, hujan deras turun tanpa henti di kota-kota di Jawa, termasuk Yogyakarta. Akibat cuaca ekstrem tersebut, banjir dan longsor dilaporkan melanda beberapa daerah seperti Gunungkidul, Kulonprogo, dan Bantul. Tak sedikit rumah, jembatan, atau pohon tumbang karena hujan yang disertai angin kencang tersebut.

Selasa (28/11) kemarin sekitar pukul 16.55 WIB, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi dua korban yang tertimbun longsoran talud Sungai Winongo di daerah Gedongtengen, Yogyakarta. Kedua korban yang merupakan nenek dan cucu itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Berikut ulasan selengkapnya dari Hipwee News & Feature.

Nenek berusia 40 tahun itu ditemukan tewas dalam posisi memeluk cucunya yang masih 3 bulan

Tim SAR gabungan saat mengevakuasi korban via www.tribunnews.com

Advertisement

Dilansir Kompas, sebuah talud yang terletak di atas Sungai Winongo, di Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta, ambrol akibat hujan deras yang mengguyur daerah tersebut. Material longsor menimpa sebuah rumah warga RT 01 RW 01 Jlagran. Petugas gabungan dari Polri, TNI, Basarnas, SAR DIY, dan relawan melakukan evakuasi sore harinya dan berhasil menemukan jenazah seorang nenek yang diketahui bernama Ambar, dalam posisi memeluk cucunya, Aurora.

“Saat ditemukan, almarhumah Ambar posisinya sedang meringkuk seperti sujud sembari memeluk Aurora. Tampak melindungi cucunya,” kata Wahyu, Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, dilansir Suara.com.

Hibur Pintono, Ketua RW 1 Jlagran, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Yogyakarta mengatakan bahwa rumah yang tertimbun longsor itu milik Barjono (70), suami Ambar. Hingga pukul 19.15 kemarin, Tim SAR gabungan masih berusaha mencari jenazah Barjono di antara timbunan longsor.

Dampak badai siklon Cempaka tak hanya dirasakan warga Jogja saja. Kabarnya Pacitan justru jadi daerah terparah yang dilanda banjir dan longsor

Banjir Pacitan via suryamalang.tribunnews.com

Advertisement

Bencana banjir dan longsor juga melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tinggi genangan air bervariasi mulai dari 50 sampai 150 cm. Dilansir Tirto, setidaknya ada 3 kecamatan yang terkena banjir paling parah, yakni Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Pacitan, dan Kecamatan Arjosari. Banjir tersebut berasal dari luapan Sungai Lorok dan Sungai Grindulu yang tak mampu menampung debit air yang terus meningkat. Sejumlah warga bahkan dinyatakan hilang. Diduga kuat karena terbawa arus.

Akibat bencana parah itu akses jalan dari dan ke Pacitan tak bisa dilalui. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dan Badan SAR Nasional yang akan membantu proses evakuasi sampai terjebak di Ponorogo. Bantuan logistik pun juga terhambat karena beberapa ruas jalur yak ditutup.

Cuaca ekstrem yang mulai dirasakan akhir-akhir ini tak hanya mengancam Indonesia saja lho, tapi juga beberapa negara di dunia

Banjir besar di Thailand 2011 merendam ratusan mobil yang diparkir  via sidomi.com

Cuaca ekstrem yang sering kita rasakan belakangan ini adalah buah dari perubahan iklim yang mengancam dunia. Dampak perubahan iklim paling besar dirasakan negara-negara kepulauan, termasuk Indonesia. Hal ini karena negara pulau rentan mengalami kenaikan permukaan air laut atau abrasi parah, yang berujung pada banjir atau longsor. Selain Indonesia, beberapa negara seperti Filipina, Vietnam, atau Thailand harus bersiap dengan datangnya cuaca ekstrem belakangan ini.

Filipina sendiri sering dijuluki negeri seribu badai dan topan. Dalam dua dekade terakhir, setidaknya 283 bencana terhitung telah ‘menyambangi’ negara tersebut. Yang terparah adalah badai Haiyan pada 2013 yang menewaskan 10.000 orang. Vietnam juga nggak kalah. Sebanyak 206 fenomena ekstrem telah terjadi di sana dalam dua dekade terakhir. Sedangkan pada 2011, Thailand pernah mengalami banjir parah yang menenggelamkan 20.000 kilometer persegi sawah dan perkebunan, serta melenyapkan rumah milik 13,6 juta penduduk.

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem memang tak bisa dihindari. Fenomena ini perlu penanganan khusus dari pemerintah. Sebagai masyarakat yang tinggal di negara kepulauan, sudah seharusnya kita bersiap dengan segala tantangan dan ancaman bencana yang ada. Salah satunya bisa dengan mengikuti pelatihan tanggap bencana. Stay safe ya guys, dimanapun kalian berada!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya