Mengenal Daging Rekayasa Laboratorium, Tren Daging Lebih Ramah Lingkungan

Pembuatan daging jenis ini didapatkan dengan mengambil sel-sel induk dari hewan tanpa menyakitinya

Banyak cara telah dilakukan demi menangani krisis lingkungan yang semakin hari kian memburuk. Berbagai sektor perusahaan mulai mengambil kontribusi positif sesuai badan usaha yang dijalankan. Salah satunya industri makanan yang menciptakan daging hasil rekayasa laboratorium.

Advertisement

Teknologi yang semakin modern memungkinkan orang untuk menciptakan daging tanpa menyembelih hewan. Tren ini semakin diminati karena dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan proses produksi daging konvensional. Daging lab memang baru populer di beberapa negara saja. Wajar kalau masih banyak orang yang mungkin bingung tentang cara membuat daging tanpa hewan ini. Supaya kamu nggak ikutan bingung, yuk kenalan dulu dengan tren daging lab satu ini.

Profesor Mark Post, ilmuwan di balik eksperimen daging rekayasa lab

Istilah daging rekayasa lab memang tergolong baru. Upaya merekayasa ini diawali oleh Profesor Mark Post, akademisi dari Maastricht University, Belanda. Ia bersama beberapa ilmuwan lainnya merancang burger berbahan daging rekayasa lab pertama di dunia.

Dilansir dari Tirto, Profesor Mark dan timnya sudah mulai membudidayakan daging rekayasa lab untuk burger sejak Mei 2013. Cara produksinya yaitu dengan mengambil sel induk seekor sapi, lalu menumbuhkannya menjadi potongan-potongan otot, dan digabungkan menjadi burger. Dalam satu burger terdapat 20.000 jaringan otot kultur dengan berat 140 gram.

Advertisement

Pada 5 Agustus 2013, hasil eksperimen ini dipublikasikan dalam sebuah konferensi pers di London, Inggris. Konferensi tersebut menghadirkan para kritikus makanan serta penulis buku kuliner untuk mencicipi secara langsung.

Dihasilkan dari sel-sel hewan, daging rekayasa lab dinilai lebih ramah lingkungan

Daging rekayasa lab lebih ramah lingkungan

Daging rekayasa lab lebih ramah lingkungan | Photo by LikeMeat on Unsplash

Berbeda dengan daging biasa, daging rekayasa lab punya proses produksi tersendiri yang akhirnya membuat daging ini lebih ramah lingkungan. Tim peneliti dari Oxford University menemukan bahwa jenis daging ini memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah daripada daging yang diproduksi secara konvensional lewat peternakan.

Advertisement

Selama proses budidaya di lab, daging rekayasa lab memproduksi emisi gas rumah kaca hingga 96% lebih rendah, energi 45% lebih sedikit, penggunaan lahan 99% lebih rendah, dan penggunaan air 96% lebih rendah daripada daging dari peternakan.

Dampak lingkungan yang jauh lebih kecil ini jugalah yang menginspirasi Profesor Mark Post untuk memulai eksperimennya tahun 2013 silam. Ia ingin mengurangi dampak industri peternakan terhadap lingkungan. Limbah peternakan hasil dari penyembelihan hewan setiap harinya banyak yang belum diolah tapi langsung dibuang begitu saja. Alhasil, kebersihan udara, air, dan tanah jadi taruhannya.

Mungkin daging rekayasa lab ini belum bisa kamu konsumsi dalam waktu dekat. Tapi, kamu tetap bisa mulai menjaga lingkungan dengan ikut mengurangi konsumsi daging sehari-hari. Selain ikut berkontribusi meminimalisir dampak lingkungan, mengurangi konsumsi daging juga jadi solusi untuk gaya hidup sehat.

Salah satu cara biar kamu konsisten mengurangi makan daging adalah dengan mengikuti program Meatless Monday. Tenang, program ini nggak akan mengganggu kenikmatan makanmu kok. Karena di dalamnya udah dirancang resep-resep lezat supaya kamu tetap bisa mengurangi konsumsi daging setiap hari Senin.

Tren ini semakin populer. Singapura bahkan resmi menyetujui penjualan daging ayam hasil rekayasa lab untuk umum

Produk Good Meat

Produk Good Meat | Credit: Instagram @goodmeatinc

Tahun 2020, Singapura jadi negara pertama di dunia yang melegalkan penjualan daging ayam hasil rekayasa lab. Izin tersebut dikeluarkan untuk perusahaan startup pangan asal San Fransisco, Eat Just Inc. Sebelumnya, Singapore Food Agency sudah melakukan penelitian selama dua tahun hingga akhirnya mengeluarkan izin penjualan. Nantinya, produk ayam Eat Just akan dijual dengan nama Good Meat.

Eat Just sama sekali nggak memotong ayam untuk mengambil dagingnya. Sama seperti Profesor Mark Post, mereka mengambil sel-sel ayam dalam keadaan hidup sehingga nggak menyakiti. Sel-sel itu kemudian ditanam dalam bioreaktor berkapasitas 1200 liter dan dikombinasikan dengan bahan-bahan nabati. Proses tersebut berguna untuk memberikan stok nutrisi pada daging.

Meski masih terlihat asing di masyarakat, daging rekayasa lab nyatanya aman. Banyak pula kelebihannya dibandingkan daging biasa

Daging biasa

Daging biasa | Photo by José Ignacio Pompé on Unsplash

Dilansir dari Washington Post, secara umum daging rekayasa lab lebih sehat dan bersih daripada daging biasa. Bakteri parasit yang sering ditemui di daging biasa nggak akan ada di daging rekayasa lab karena dibudidayakan di lingkungan yang steril. Selain itu, karena tempat yang bebas bakteri, proses produksi daging rekayasa lab nggak memerlukan antibiotik dan hormon pemacu pertumbuhan yang sering diberikan pada hewan ternak.

Pemberian antibiotik dan hormon tersebut sudah diidentifikasi sebagai salah satu sumber bakteri yang berbahaya apabila dagingnya dimakan oleh manusia. Juga, ada efek samping pada perkembangan fungsi otak, gen, dan memicu kanker.

Proses budidaya di lab juga memungkinkan untuk mengurangi kandungan lemak jenuh pada daging. Dengan begini, risiko kolesterol, stroke, dan penyakit jantung lainnya bisa diminimalisir kalau mengonsumsinya.

Daging rekayasa lab memang belum bisa sepenuhnya menggantikan daging biasa untuk saat ini. Namun, dengan adanya inovasi ini bisa menjadi salah satu solusi besar untuk keberlangsungan lingkungan hidup kita. Kalau akhirnya nanti diizinkan dijual di Indonesia, kira-kira kamu bakal mau nyobain nggak?

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE