Baru menjabat beberapa waktu saja, sudah ada kebijakan Donald Trump yang menghebohkan dunia. Pengusaha dan bintang televisi yang baru 20 Januari kemarin resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ini memang jagonya bikin kontroversi. Yang terbaru adalah kebijakannya membatasi ruang gerak imigran dan memberi larangan memasuki Amerika untuk 7 negara muslim.

Sontak kebijakan tersebut membuat berang warga dunia — termasuk warga Amerika. Sejatinya, Amerika Serikat sendiri adalah negara yang dibangun atas jerih payah imigran dari berbagai penjuru dunia. Maka dari itu, gelombang unjuk rasa datang dari berbagai golongan. Baik pekerja biasa, mahasiswa hingga pengusaha. Nah khusus untuk pengusaha, ternyata mereka punya cara tersendiri untuk memprotes kebijakan Trump tersebut. Dengan cara yang unik namun juga solutif, beberapa perusahaan dunia ini berani pasang badan untuk melawan kebijakan Trump!

1. Pendiri Google, Sergey Brin bahkan ketahuan turut berdemo di jalan menolak kebijakan Trump loh

Google memberikan sinyal kuat bahwa mereka menolak keras kebijakan imigrasi Trump. Nggak tanggung-tanggung, bahkan sang pendiri, Sergey Brin pun terlihat turut turun ke jalan untuk berdemo menolak kebijakan tersebut. Menurut Sergey, ia menolak kebijakan tersebut karena ia pernah merasakan bagaimana pedihnya hidup sebagai pengungsi.

Penolakan tersebut juka diamini Sundar Pichai, CEO Google yang juga keturunan imigran asal India. Google sendiri langsung merespon kebijakan Trump dengan memanggil semua karyawannya yang tengah berada di luar negeri dengan tujuan untuk melindungi mereka. Salut!

2. Apple pun dengan jelas menolak kebijakan Trump. Mereka menyatakan akan menerima siapapun terlepas latar belakang agamanya

Advertisement

Sebagai salah satu perusahaan kelas dunia, Apple pun tak mau ketinggalan dalam hal menolak kebijakan Trump. Ketika banyak perusahaan yang khawatir dengan nasib pekerja imigran, Apple secara terbuka mengumumkan bahwa mereka tak akan peduli dengan kebijakan pembatasan imigran tersebut.

“Apple tidak akan eksis tanpa para imigran, apalagi berkembang dan berinovasi,” tulis CEO Apple, Tim Cook.

Dengan statement tersebut, Apple bersikukuh bahwa mereka akan tetap merekrut siapapun terlepas dari mana asalnya atau apa agamanya.

3. Microsoft, Facebook dan perusahaan di Silicon Valley lainnya pun menawarkan bantuan hukum bagi para imigran

Ini saat Trump bertemu petinggi Silicon Valley pada Desember 2016 silam via money.cnn.com

Langkah kedua raksasa teknologi tersebut diikuti oleh segenap perusahaan yang ada di Silicon Valley. Selaku pusat start-up dan perusahaan teknologi di Amerika, Silicon Valley merasa perlu untuk memberikan perlawanan dalam wujud nyata untuk menunjukkan bahwa hak asasi manusia itu milik semua, tanpa terkecuali.

Karenanya pihak Microsoft, Facebook dan perusahaan Silicon Valley lainnya akan berjuang di jalur hukum demi membantu karyawan yang merupakan imigran. Mereka secara terbuka menawarkan bantuan hukum untuk melawan kebijakan Trump yang dinilai justru akan menimbulkan masalah baru tersebut.

4. Meski menuai kontroversi, namun Starbucks tetap kokoh dengan kebijakannya yang akan mempekerjakan imigran

CEO Starbucks berjanji akan merekrut 10.000 pengungsi via www.reuters.com

CEO Starbucks, Howard Schultz bersumpah akan mempekerjakan 10.000 imigran dalam 5 tahun sebagai upayanya melawan kebijakan Donald Trump. Banyak yang beranggapan bahwa cara tersebut tidak seharusnya dilakukan dan memaksa Schultz untuk lebih memprioritaskan mempekerjakan para veteran perang berkewarganegaraan Amerika.

Yah, kalau mau sedikit riset sih. Mereka yang protes kebijakan Starbucks tersebut adalah orang-orang kurang piknik. Starbucks di Amerika sendiri sejatinya sudah punya program ‘veteran and military support’ yang sudah membantu 5000 orang veteran perang lebih sejak 2015 silam!

5. Airbnb pun tak mau kalah. Mereka bersedia memberi tempat menginap gratis bagi imigran yang ditolak Trump

Bryan Chesky memang terkenal sering membantu pengungsi via www.thestar.com

Jika bicara soal membantu para pengungsi, Airbnb bisa dibilang adalah salah satu perusahaan yang paling keras melakukan perjuangan. Bagaimana tidak, sudah sejak beberapa tahun belakangan program ‘Airbnb for Refugee’ aktif dilaksanakan. Bahkan saat ada kekacauan di Timur Tengah, ada 780 sukarelawan Airbnb Jerman yang menawarkan tempat tinggal untuk imigran dari Suriah, Afganistan hingga Pakistan dan Somalia.

Nah untuk kasus Donald Trump, Airbnb pun tak mau ketinggalan. Melalui CEO-nya, Bryan Chesky menyatakan Airbnb menawarkan tempat tinggal gratis bagi imigran yang ditolak oleh Donald Trump. Keren, ya?

Sejatinya masih banyak perusahaan-perusahaan, baik yang skala kecil maupun besar, lainnya yang melakukan aksi nyata menolak kebijakan Donald Trump. Kalau dilihat-lihat, hal ini unik. Bisa dibilang ini adalah representasi kekuatan rakyat melawan kekuatan pemerintah berkuasa yang berlaku seenaknya. Terutama di era globalisasi ini dimana masyarakat dunia sudah banyak yang memiliki identitas global, bukan cuma satu negara atau agama tertentu. Banyak juga keluarga Amerika keturunan Iran, Irak, atau negara-negara lain daftar larangan Trump yang lahir dan besar di Amerika serta bekerja di perusahaan-perusahaan besar ini. Pastilah mereka merasa tersinggung dengan kebijakan imigrasi Trump yang terlihat tanpa perhitungan ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya