Yang namanya manusia itu jelas nggak bisa dilepaskan dari ‘urusan perut’. Mau lagi situasi perang atau damai, orang pasti bakal mencari cara untuk mendapatkan asupan makanan untuk bertahan hidup. Dari makanan pokok sederhana semacam nasi dan gandum, sampai tren makanan terbaru sekarang yang aneh dan kadang suka susah dinalar. Pernah dengar es krim rasa arang?! Buat yang belum tahu, Hipwee dulu pernah nulis tuh di sini.

Tren makanan itu tentunya termasuk perubahan dalam konsumsi protein hewani, alias daging pilihan kita dari waktu ke waktu. Meski gaya hidup vegan atau vegetarian mulai populer, kayaknya masih banyak deh orang yang nggak berasa makan kalau belum ada lauk dagingnya. Menurut laporan The Washington Post, ayam adalah tipe daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia saat ini. Bahkan ke depannya, dominasi daging ayam bakal terus meroket sementara popularitas daging merah akan menurun. Nah ada kisah menarik lho di balik naiknya status ayam menjadi daging favorit kebanyakan orang di dunia, simak deh ulasan Hipwee News & Feature ini!

Sejarahnya, ayam yang asli Asia Tenggara ini sudah mulai dipelihara dan dimakan dagingnya sejak 8-10 ribu tahun lalu. Dibawa ke benua Amerika oleh Christopher Colombus pada tahun 1493

Ini semua gara-gara penjelajah paling terkenal di dunia, Christopher Colombus via firstwefeast.com

Spesies ayam modern (Gallus gallus) yang kita kenal sekarang ini dulunya berasal dari pedalaman hutan-hutan di Asia, terutama di India dan Asia Tenggara. Sejak delapan atau sepuluh ribu tahun lalu, unggas ini sudah mulai dipelihara dan dimakan dagingnya oleh orang-orang lokal. Pada abad pertengahan yaitu abad ke-5 sampai 15 Masehi, ayam adalah salah satu protein paling umum di dunia bagian Timur. Nah ternyata yang bertanggungjawab membawa ayam ke belahan bumi Barat adalah bapak penemu benua Amerika, Christopher Colombus.

Sampai tahun 1800-an di Amerika, daging ayam itu masih jauh lebih mahal dibandingkan harga daging lainnya lho! Ya soalnya masih jarang. Tapi keadaan itu berubah gara-gara Perang Dunia. Pasokan daging sapi dan babi jadi menurun drastis, makanya popularitas daging ayam mulai naik. Belum lagi epidemi sapi gila yang merebak di tahun 1990-an, orang seluruh dunia mulai beralih ke ayam.

Untuk penuhi permintaan yang makin naik, peternak mulai membuat spesies unggul yang khusus diternakkan untuk dagingnya saja. Itulah yang sekarang kita sebut ayam broiler

Advertisement

Perbandingan bobot ayam zaman dulu dan sekarang, dalam waktu yang sama via www.slate.com

Setelah popularitas dan permintaannya naik, tahapan selanjutnya adalah bagaimana bisa menyediakan pasokan daging ayam secara lebih cepat dan lebih banyak. Permasalahan itu dijawab melalui inovasi genetika untuk mencari spesies baru yang paling banyak dagingnya dan yang paling cepat tumbuh. Ayam yang khusus diternakkan untuk diambil dagingnya saja inilah, yang disebut ‘broiler’. Nah percobaan yang sudah dirintis sejak tahun 1916 ini, biasanya menyilangkan spesies Cornish yang berdada ganda dan Plymouth Rocks yang bertulang besar.

Selain persilangan genetika, peternakan besar-besaran dengan ribuan ayam dimungkinkan karena penemuan inkubator buatan pada tahun 1879 oleh seorang pria Kanada bernama Lyman Byce. Sebelum alat ini dikomersilkan pada tahun 1920-an, memelihara ribuan ayam dalam waktu yang bersamaan kesempatan suksesnya sangat kecil. Dengan inkubator ini, ratusan telur ayam bisa dierami dan ditetaskan secara bersamaan. Bahkan kota asal Byce yaitu Petaluma dinobatkan sebagai ‘Egg Basket of the World’ atau keranjang telur dunia.

Dari situlah ayam terlahir kembali jadi daging termurah dan paling banyak pasokannya di dunia. Industri makanan siap saji juga mendongkrak jumlah konsumsi ayam dunia

Bisa diternakkan secara masif dan dalam waktu yang relatif singkat via www.upc-online.org

Keberhasilan teknologi menciptakan metode peternakan ayam broiler, seketika itu juga berubah jadi kesempatan ekonomi yang sangat menguntungkan. Belum lagi tren dunia kapitalis dengan industri besar dan franchise internasional, pasokan daging ayam yang melimpah bisa diolah sedemikian rupa jadi masakan atau makanan beku. Pada zaman inilah muncul restoran-restoran cepat saji yang khusus menyajikan ayam goreng ke seluruh dunia. Menurut National Chicken Council, konsumsi daging ayam di Amerika melebihi daging sapi pada tahun 1992.

Selain pasokan yang selalu terjaga, popularitas ayam tentunya tidak terlepas dari fakta bahwa hampir semua orang di dunia ini bisa atau ‘diperbolehkan’ makan ayam. Tidak seperti daging sapi atau babi yang dilarang oleh beberapa kultur dan agama. Di Indonesia sendiri, ayam broiler diimpor pertama kali sekitar tahun 1953-1960an. Pemerintah mengimpor ayam ini untuk memenuhi pasar lokal. Pada 1967 impor secara komersial pun dimulai. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kehewanan, membuat program Bimas Ayam untuk memasyarakatkan ayam ras kepada peternak unggas dan meningkatkan konsumsi hewani masyarakat yang saat itu masih rendah yakni 3,5 gram/kapita/hari.

Meski dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan pangan dunia, banyak pemerhati lingkungan yang khawatir akan risiko praktik peternakan intensif yang sudah dianggap normal dimana-mana ini

Salah satu poster kampanye internasional untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penggunaan antibiotik berlebihan pada hewan ternak via www.oie.int

Sebenarnya kekhawatiran ini tidak hanya terbatas pada peternakan ayam saja, tapi keamanan industri makanan secara keseluruhan. Pasalnya, industri sepertinya berlomba-lomba untuk terus berinovasi menciptakan metode produksi yang jauh lebih besar dan lebih cepat untuk mengenyangkan rasa lapar populasi dunia yang makin membengkak. Dengan metode yang sekilas makin instan ini, jelas banyak risikonya. Semua aktor, baik pelaku industri atau pemerintah, harus menjaga standar supaya makanan tetap aman dikonsumsi.

Nah berbeda dari kekhawatiran kebanyakan orang awam tentang suntikan hormon, para ahli sebenarnya jauh lebih khawatir dengan penggunaan antibiotik terhadap hewan-hewan ternak ini. Ayam broiler sekarang memang cepat besar dan banyak dagingnya sepenuhnya karena hasil penyilangan gennya, bukan suntikan hormon. Tapi untuk bisa menjaga puluhan atau ratusan hewan yang dibesarkan bersama-sama dalam satu kandang (tertutup) tetap sehat sampai masa panen, antibiotik seringkali digunakan. Penggunaan antibiotik inilah yang bisa berbahaya.

Selain menjaga kebersihan kandang, salah satu solusi untuk mengontrol persebaran virus adalah dengan antibiotik. Padahal jika dipakai berlebihan atau sembarangan, hewan-hewan bisa kebal sama antibiotik. Kondisi itu yang dikhawatirkan akan memicu kemunculan virus baru yang jauh lebih berbahaya atau superbug, seperti pandemik flu burung beberapa tahun lalu. Maka dari itu komitmen perusahaan fast food internasional KFC untuk hanya menyediakan ayam bebas antibiotik mulai tahun 2018, diapresiasi banyak pihak.

Nah kekhawatiran serius di kalangan ahli inilah, yang mungkin juga harus mulai kita perhatikan: dari mana sih sebenarnya makanan kita sekarang berasal?

Bagus sih kalau bisa murah dan melimpah, asalkan tetap aman via www.food.com

Kekhawatiran inilah yang melatarbelakangi munculnya gerakan organik, di mana semua makanan diproduksi layaknya beratus-ratus tahun yang lalu yaitu secara alami. Namun seperti yang kamu bisa lihat sendiri, semua-semua yang organik itu pasti mahal. Ayam maupun telur kampung pun sekarang jauh lebih mahal dibandingkan ayam broiler atau telur negeri. Ya itu semua balik ke keputusan dan prioritas masing-masing sih. Cuma nggak ada salahnya kalau kamu tahu realita industri makanan kita sekarang. Apalagi ini soal makanan lho, jelas kamu harus peduli!

Bahkan udah banyak kok film-film dokumenter yang mengangkat tema ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah Food Inc. Udah nonton belum guys?! Mungkin kamu bisa coba menontonnya di waktu senggang 🙂

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya