Beberapa hari terakhir ini, Indonesia memang sedang dihebohkan oleh drama politik yang ceritanya sedramatis dan sepanjang sinetron beribu-ribu episode. Tanpa perlu menyebut nama, pasti kamu juga tahu bagaimana salah satu tokoh politik elit negeri ini akhirnya harus menyerahkan diri kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah mengalami kecelakaan yang melibatkan tiang listrik dan Toyota Fortuner.

Meski banyak kesimpang-siuran dari besar benjolan hingga risiko amnesia, akhirnya KPK berlandaskan dari kesimpulan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menyatakan bahwa Setya Novanto sudah bisa diperiksa atau fit to be questioned sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Walaupun Setnov kabarnya langsung mengajukan perlindungan hukum ke Presiden, Kapolri, dan Kejaksaan Agung. Waduh, paling tidak kini ‘papah’ sudah resmi jadi penghuni rumah tahanan KPK. Ya semoga aja babak-babak akhir dari kisah mega korupsi ini bisa berlangsung seadil-adilnya demi kepentingan rakyat dan negara yang dirugikan.

Advertisement

Duh! Memang wajar kita geram melihat betapa ‘licin’ dan kebal hukumnya elit-elit politik yang korup seperti ini. Tapi ternyata banyak juga lho hikmah dibalik saga drama politik Setnov ini kayak ‘Catch me if you can’  versi komedi ini. Yuk kita telusuri satu-satu kontribusi apa sih yang sudah dilakukan papah buat anak-anaknya. Simak uraian Hipwee News & Feature berikut!

Setya Novanto bisa dibilang pemersatu bangsa. Yang tadinya saling ejek, kini justru fokus menangkap orang yang sama

Papah yang menyatukan anak-anaknya via viva.co.id

Setahun belakangan sentimen pendukung kubu politik di negara kita memang terpecah belah. Saling memaki dan menuduh, saling mengklaim paling benar dan saling cari keburukan kubu lain. Dari kasus penistaan agama, hingga pemilihan gubernur DKI seakan-akan nggak ada habis-habisnya jadi topik perdebatan satu sama lain. Padahal kalau kita pikir-pikir, perbedaan pendapat itu justru nggak masalah ‘kan? Tidak perlu semua orang harus berpendapat sama dengan kita.

Advertisement

Nah tapi ada sisi positif yang muncul ketika kasus Setya Novanto ini mulai ramai. Sosial media yang tadinya jadi ‘lapangan’ buat saling menghina satu sama lain, kini kompak saling melontarkan sindiran dan kegeraman terhadap pelaku korupsi agar segera dihukum. Nggak heran banyak yang bilang dan menyebutkan kalau Setya Novanto adalah pemersatu bangsa. Tidak ada lagi yang saling lempar bola panas dan berdebat, kini semua berlomba-lomba menciptakan kreatifitas dan berbincang soal korupsi di negara ini. Kita bersatu karena papah nih!

Sedikit banyak masyarakat jadi melek hukum. Kalau tadinya nggak tahu jadi tersangka harus ditahan, sekarang jadi tahu rutan beda dengan penjara kan?

Setya Novanto digiring ke KPK via Tribunnews.com

Rumah tahanan KPK merupakan tahanan yang dikhususkan untuk mereka yang telah menjadi tersangka kasus korupsi. Rutan ini berbeda dengan lapas atau lemabaga pemasyarakatan yang sering kita sebut dengan penjara ya guys. Lapas diperuntukkan bagi terdakwa suatu kasus yang hukumannya sudah ditetapkan oleh pengadilan. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana KPK memperlakukan tersangka korupsi, KPK memiliki wewenang pada tersangka kasus korupsi untuk ditahan di rutan khusus, yaitu rutan KPK yang letaknya dibelakang gedung KPK.

Jadi selama proses dakwaan belum selesai, papah harus tinggal di rutan KPK dulu guys dan nggak bisa menjalankan tugasnya sebagai Ketua DPR RI nih.

Pemahaman masyarakat soal e-KTP dan kasus korupsi terdahulu yang melibatkan banyak koruptor kelas kakap juga jadi bertambah

Makin sadar perlunya membuat e-KTP, biar uang negara nggak sia-sia dikorupsi via www.memecomic.id

Proyek e-KTP merupakan proyek milyaran rupiah yang selama ini kita tak pernah kita lihat sebagai ‘lahan basah’ bagi para koruptor. Nyatanya dari proyek senilai Rp5,9 triliun itu Novanto diduga ikut merugikan uang negara sebesar Rp2,3 triliun. Nama Setya Novanto bukan baru kali ini lho malang melintang di dunia perkorupsian. Dilansir melalui Kompas, sejak 2001, nama Novanto sudah berkali-kali numpang lewat di berbagai kasus korupsi milyaran rupiah.

Misalnya saja 2001 terlibat kasus hak tagih piutang Bank Bali yang ketika itu juga melibatkan Djoko Tjandra alias jokernya Indonesia. Pada 2006 ia juga diduga terlibat impor beras Vietnam, lalu pada 2012 namanya juga terdengar di kasus PON Riau. Kemudian pada kasus suap yang melibatkan nama Akil Mochtar, Novanto juga pernah diperiksa sebagai saksi. Banyaknya kasus ini menyintas ingatan kita pada masa kelam Indonesia dan membuat kita membuka mata bahwa korupsi memang masih merajalela.

Mengembalikan fungsi rakyat sebagai pengawas dalam negara demokrasi. Jadi ingat pelajaran kewarganegaraan waktu SD ‘kan?!

Rakyat Indonesia via merdeka.com

Dalam negara demokrasi seperti Indonesia, selain sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, rakyat juga punya fungsi untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Rakyat yang belakangan ini makin apatis, makin banyak golput, dan makin tidak peduli dengan apa yang dijalankan pemerintah mulai kembali mengawasi tugas-tugas wakil rakyat. Masyarakat sekarang ini jadi skeptis soal politik, hal ini justru bagus buat menumbuhkan suasana perpolitikan di negara kita. Sekaligus buat pembelajaran anak-anak muda agar mulai melek politik.

Saat ini Setya Novanto sudah resmi menjadi tahanan KPK. Dengan mengenakan rompi oranye dan duduk di atas kursi roda, Setya Novanto digiring menuju gedung KPK. Meski masih berkilah dengan berkata dirinya tak pernah mangkir dari panggilan KPK hingga minta perlindungan pada Presiden Jokowi, namun nampaknya proses hukum akan berjalan sebagaimana mestinya.

Kalau kita mulai membuka mata, sebenernya banyak banget kok hal positif yang bisa kita petik dari drama politik Setnov. Mulai dari hal yang kentara sampai hal yang bahkan nggak kita sadari. Tapi kalau mau jujur lebih baik sih kebaikan ini kita dapatkan tanpa menunggu kasus serupa terjadi lagi. Masa sih kita selamanya harus salah dulu baru berbenah, setidaknya perbaiki diri mulai sekarang ‘kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya