Belakangan netizen sedang dihebohkan soal seorang anggota DPRD memaki-maki petugas AVSEC di Bandara Sultan Thaha, Jambi setelah diingatkan soal parkir. Yang lebih dramatis, tindakan ini berakhir dengan jeweran kepada petugas bandara. Pasalnya, si bapak yang dengan bangga mengaku anggota DPRD ini memarkir mobilnya di depan ‘drop zone’, yang seharusnya steril.

“Kamu tau dak aku siapo (kamu tahu tidak siapa aku), aku ini anggota DPRD Provinsi, tau dak kau (tahu tidak kamu),” 

Setelah dimediasi, anggota DPR yang bernama A. Salam ini membuat pernyataan bersalah. Yah mungkin beliaunya hanya khilaf. Namun etika pejabat publik ini menjadi satu hal yang perlu untuk disoroti. Selain Bapak DPRD ini, ternyata banyak kasus pejabat publik yang mengumbar arogansi di negeri ini. Dibutakan oleh jabatan karena dikira bisa berbuat semaunya.

1. Dikritik DPRD karena touring tak memakai helm, Bupati Indragiri Hulu ancam akan kerahkan massa

Konvoi tanpa helm via aingbudakcimohai.blogspot.com

Lain lagi dengan cerita di Indragiri Hulu tahun 2013 lalu. Bupati Yopi Arianto, mengancam akan mengerahkan massa untuk berdemo, setelah DPRD meminta Kapolres untuk menindak tegas Bupati yang touring dan mengunjungi warga tanpa memakai helm. Pak Bupati beralasan: “Saya tidak memakai helm karena saya menyapa masyarakat saya, saya mengendarai motor di pedesaan, bukan di perkotaan, masa begitu saja di komentari.” Ya, mungkin si bapak lupa kalau helm fungsinya sebagai pengaman berkendara, bukan aksesoris kalau berkendara di kota saja.

2. Tahun 2013, wakil ketua Ombudsman tampar petugas bandara karena penerbangan terlambat

Advertisement

Rekonstruksi peristiwa via news.liputan6.com

Kejadian lain berlangsung di Bandara Internasional Sultan Syaraif Qasim II Pekanbaru. Karena penerbangan terlambat, wakil ketua Ombudsman, Azlaini Agus memarahi dan menampar salah seorang petugas PT. Angkasa Pura. Karena disuruh menunggu bus untuk ke pesawat selama 20 menit dirasa merugikan penumpang, beliau tak bisa menahan emosi lagi. Menurut penuturan Azlaini, apa yang dilakukannya saat itu adalah cerminan dari sikap tegasnya yang tanpa kompromi dan kukuh bahwa dia hanya marah, menunjuk, dan tak sadar menyentuh pipi petugas.

3. Belum lama ini, dirjen HAM gugat 210 juta pada tukang laundry karena jas-nya susut

Minta ganti rugi 210 juta via www.harianindo.com

Kasus ini sempat viral di media sosial pertengahan tahun 2016 lalu. Dirjen HAM, Mualimin Abdi melayangkan gugatan ke Budi Imam, pemilik Fresh Laundry, karena jas-nya berkerut dan tidak licin. Menurut pengakuan pemilik laundry, sesuai dengan kebijakan bahwa bila ditemukan kerusakan akibat laundry maka akan diberikan ganti rugi sebesar 350 ribu atau 10x tarif cuci. Namun Pak Dirjen tidak berkenan dan memilih untuk membawa ke meja hijau dengan tuntutan 10 juta kerugian materi dan 200 juta kerugian imaterial. Tapi kalau harga jasnya 10 juta, kenapa dicucinya di laundry kiloan, ya?

4. Berkali-kali menekankan dirinya pengacara, ibu ini tak rela anaknya disalahkan karena menabrak pengguna jalan lainnya

Kalau pengacara pokoknya nggak boleh salah! via jogja.tribunnews.com

Tak hanya jabatan tinggi yang membuat keblinger, tapi juga profesi yang bergengsi. Entah apa yang dipikirkan oleh ibu-ibu ini saat berdalih dirinya adalah pengacara atau penegak hukum, karena enggan anaknya disalahkan karena menabrak orang. Bukan hanya itu, si ibu pengacara juga memaki-maki orang yang berkerumun meminta pertanggungjawaban. Ah, entahlah. Mungkin si ibu menganggap hukum hanya berlaku untuk orang biasa yang bukan penegak hukum.

5. Tingkah Sigit Purnomo alias Pasha Ungu juga seringkali dinilai tak pantas. Positif thinking saja, mungkin Pasha terlalu bahagia menjadi pejabat

Sigit Purnomo a.k.a Pasha Ungu via sp.beritasatu.com

Siapa yang tak kenal Sigit Purnomo alias Pasha ‘Ungu’? Tapi saat ini Sigit Purnomo tidak mau disebut sebagai artis lagi, guys. Seperti yang sempat viral di media sosial, saat Sigit Purnomo dianggap melecehkan pers. Setelah resmi menjabat sebagai Wakil Walikota Palu, beliau menolak diwawancara dengan kata-kata pedas. “Saya ini sekarang sudah pejabat, bukan lagi artis. Kamu orang cuma kontributor ‘kan,” seperti yang dituturkan oleh Ridwan Lapasere, jurnalis mengalami kejadian itu. Mungkin karena baru menjabat, beliau lupa bahwa bukan hanya artis, pejabat pun diwawancarai awak media.

6. Tak hanya pejabat, anak pensiunan Jenderal di Sidoarjo menabrakan mobil ke arah siswa-siswi sekolah saat dilarang membawa mobil

Arogansi ternyata tak hanya menghinggapi beberapa pejabat, tapi seringkali juga anak atau pun kerabat mereka. Pantaslah kita merasa ‘ngenes’ atas kasus yang terjadi di Sidoarjo tahun 2013 lalu. Anggara Putra Trisula, seorang anak pensiunan jenderal, melakukan tabrak lari di lingkungan sekolah. Duduk persoalannya bermula saat Anggara datang ke sekolah melalui gerbang belakang untuk menemui pacarnya. Karena diminta satpam untuk ke BK dulu, mungkin Anggara merasa kesal dan marah. Lalu menabrak kerumunan siswa dan guru, sebelum akhirnya kabur dengan mobilnya.

7. Dan yang menghebohkan tentu kasus Sonya Depari. Mengaku anak Jenderal, marah-marah saat ditertibkan

Eh dia malah diangkat menjadi Duta Narkoba via www.tabloidimaji.com

Kesal karena ditertibkan saat konvoi kelulusan, Sonya Depari marah dan menunjuk-nunjuk muka polantas yang menghadangnya. Bukan cuma itu, Sonya juga mengancam polwan dengan mengaku sebagai anak Irjen Arman Depari, petinggi BNN. Sikap arogansi ini berujung pada duka. Tak kuat melihat anaknya di-bully netizen, ayah kandung Sonya meninggal dunia setelah terkena serangan jantung. Meskipun ‘hukuman’ Sonya barangkali terlalu besar, namun kelakuan siswi ini membuat bertanya-tanya. Apakah bila benar dia anak jenderal, lalu dia kebal aturan hukum?

Jabatan memang bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah. Dengan cara yang benar, butuh usaha yang keras untuk bisa di posisi atas. Namun jabatan tinggi juga bukan alasan untuk memupuk arogansi. Perlu diingat, netizen sudah cukup awas soal seperti ini. Meskipun kita tumbuh sebagai masyarakat yang memuja jabatan dan uang, tetap lucu bila menjadikan jabatan sebagai alasan untuk berbuat semaunya.

Bagaimana pun gelar di belakang nama dan julukan hebat semasa hidup di dunia, tak akan dibawa hingga tutup usia, bukan? Pada akhirnya, bukan titel di belakang atau depan nama yang menentukan bagaimana kita dikenang.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya