Dukung Perempuan Lebih Berdaya, Women Summit 2021 “Discovering Purpose” Hadirkan Berbagai Pembicara Inspiratif

Women Summit 2021

Bicara soal perempuan pasti akan banyak sekali menyinggung tentang peran, kekuatan, pencapaian, tantangan dan stigma masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan karier, bisnis dan leadership atau kepemimpinan. Nah, saat ini sudah banyak perempuan berhasil meraih pencapaian yang dulunya hanya dianggap bisa diraih oleh laki-laki saja. Semua itu nggak lepas dari peran women empowerment yang membuat perempuan memiliki kesadaran lebih terhadap nilai yang dimiliki.

Menilai pentingnya women empowerment ini, Young On Top (YOT) berkolaborasi bersama Hipwee dengan dukungan BRI, Pertamina dan Optik Seis menggelar Women Summit (W-Summit) 2021 untuk membahas berbagai isu penting yang dihadapi perempuan Indonesia dalam mencapai kesuksesan berkarier, berbisnis maupun menjadi pemimpin. Mengangkat tema “Discovering Purpose”, acara yang telah sukses digelar dan disiarkan secara live streaming pada Sabtu (27/11) menghadirkan berbagai narasumber perempuan dari berbagai latar belakang untuk berbagi banyak hal. Buat kamu yang ketingalan keseruan W-Summit 2021, berikut rangkuman acaranya.

Perempuan hari ini sudah lebih berdaya dibandingkan beberapa tahun lalu

W-Summit 2021 dibuka oleh CEO Hipwee Nendra Rengganis yang menyoroti betapa kondisi perempuan hari ini sudah lebih berdaya dibandingkan beberapa tahun lalu. Bahkan situasi pandemi dua tahun terakhir, menurut Nendra, justru membuat perempuan jadi lebih sadar akan kemampuan dan nilai diri dalam menghadapi tantangan terkait ruang, jarak dan waktu.

“Saat ini banyak sekali perempuan yang menduduki posisi penting bahkan menjadi motor utama penggerak perubahan di berbagai bidang. W-Summit 2021 ini, semoga inspirasi dan pengalaman para narasumber bisa menjadi penyemangat dan penguatan bagi para perempuan untuk bisa bertumbuh, berkarya dan menjadi manusia yang lebih baik,” tutur Monik, saat membuka rangkaian acara W-Summit 2021, Sabtu (27/11).

Kesetaraan gender masih menjadi persoalan serius yang harus dihadapi perempuan Indonesia, di sinilah women empowerment sangat dibutuhkan untuk mendukung perempuan lebih maju dan berkembang

I Gusti Ayu Bintang D./ Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI | dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki sebenarnya telah diakui oleh konstitusi Indonesia, melalui UUD 1945 yang mengamanatkan persamaan hak asasi manusia bagi rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Sayangnya, kesenjangan akan kesetaraan gender masih begitu nyata, seperti diungkap oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI I Gusti Ayu Bintang D., bahwa saat ini perempuan masih mengalami stigmatisasi, diskriminasi dan keterbatasan partisipasi hingga kontrol.

“Perempuan masih mengalami stigmatisasi, diskriminasi, marginalisasi, hingga kekerasan. Akses partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan pun belum setara dirasakan perempuan. Hal ini menjadi PR, bagaimana perempuan harus dua-tiga langkah lebih maju terutama setelah pandemi nanti,” ungkap I Gusti Ayu Bintang D., saat menjadi keynote speaker di W-Summit 2021.

Billy Boen (moderator) – Noni Purnomo (kanan)/ Komisaris Utama Blue Bird Tbk.| dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Masalah kesetaraan gender ini memang menjadi persoalan serius yang dihadapi perempuan. Meski saat ini sudah banyak perempuan yang sukses dalam berkarier hingga menjadi pemimpin, tapi yang namanya women empowerment tetap sangat dibutuhkan. Pemberdayaan ini dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti dukungan orang tua, pasangan, anak, serta dukungan lingkungan baik itu masyarakat maupun perusahaan.

Hal ini pula yang diungkap oleh Komisaris Utama Blue Bird Tbk. Noni Purnomo saat berbincang di sesi pertama W-Summit 2021. Menurutnya banyak sekali tantangan bagi perempuan untuk besaing dengan laki-laki apalagi ketika sudah menikah dan memiliki anak. Di sinilah kata Noni peran empowerment sangat dibutuhkan, supaya perempuan nggak mudah goyah saat menjalani peran dalam keluarga dan berkarier.

“Saya selalu menerapkan tiga hal, yakni saya ingin dikenal sebagai a good daughter terhadap orang tua saya. Kemudian saya ingin dikenal juga sebagai a good mother, supaya bisa menjadi inspirasi untuk anak-anak saya, termasuk tim dan anak-anak para driver Blue Bird juga. Ketiga saya ingin dikenal sebagai a good partner, baik itu bagi pasangan (hidup) maupun partner saya dalam pekerjaan,” tutur Noni.

Perempuan sebagai pemimpin harus memiliki kepercayaan diri, kemandiri, kedisiplinan dan tanggung jawab supaya bisa terus bersaing meski di bidang yang didominasi oleh laki-laki

Chelen (moderator/ kiri) – Handayani (tengah)/ Direktur Bisnis Konsumer BRI – Endang W. Wierono (kanan)/ CEO Income Realty | dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Women empowerment ternyata begitu kuat pengaruhnya dalam mengantarkan para perempuan meraih pencapaian, terutama dalam menjadi pemimpin. Semua itu nggak terlepas dari life purpose atau makna kehidupan yang diyakini setiap perempuan untuk terus berdiri dan berdaya dalam bidangnya masing-masing. Misalnya saja soal kepercayaan diri, kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab yang begitu kuat.

Seperti diungkap oleh Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani dalam sesi kedua W-Summit 2021. Sebagai pemimpin di bidang perbankan, Handayani meyakini bahwa perannya sebagai perempuan memang harus percaya diri, mandiri, disiplin dan memiliki tanggung jawab supaya bisa lebih berdaya dan ikut berkontribusi bagi keluarga dan lingkungan.

“Sebagai perempuan yang menjadi pemimpin saya bersyukur karena perempuan memiliki kepekaan atau social empaty yang baik, ini adalah hal yang cukup penting yang dimiliki seorang pemimpin dalam membentuk tim yang solid,” tutur Handayani.

Meski sudah cukup banyak perempuan yang menjadi pemimpin, tapi persaingannya dengan laki-laki masih menjadi tantangan yang cukup besar. CEO Income Realty Endang W. Wierono mengungkap tantangannya sebagai pemimpin di bidang real estate, bidang yang didominasi kaum laki-laki. Di sini, Endang menekankan perlunya bekal berupa ilmu dan pengetahuan, kemauan untuk bersaing dan rasa percaya diri untuk bisa berada di bidang yang male dominated.

“Perempuan di bidang yang male dominated masih sering dianggap kurang mampu berdaya. Namun, inilah yang menjadi tantangan untuk menumbuhkan women empowerment, untuk membuktikan kita bisa. Pada intinya kita harus punya bekal dulu, mau bersaing, bisa percaya diri, disiplin dan tanggung jawab,” ungkap Endang saat berbincang di W-Summit 2021 sesi kedua bersama Handayani.

Kekurangan yang dimiliki perempuan bisa menjadi kekuatan atau kelebihan untuk memiliki value lebih, sehingga bisa mandiri dan berdaya

Tatya (moderator/kiri) – Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari (tengah)/ Direktur Keuangan BRI –  Angkie Yudistia (kanan)/ Staf Khusus Presiden RI | dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Menjadi perempuan yang mampu mengambil peran lebih sehingga bisa berdaya adalah hal yang sangat luar biasa. Apalagi jika berangkat dari keterbatasan yang membuatnya terus belajar menerapkan value atau makna-makna yang ditemukan dalam kehidupan.

Seperti yang diungkap Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari tentang value yang ia yakini sebagai seorang pemimpin. Baginya, perempuan memiliki tuntutan peran yang begitu banyak. Namun, hal itulah yang membuat perempuan kuat karena dianugrahi kemampuan multitasking. Inilah yang dianggap Viviana sebagai kelebihan perempuan sebagai pemimpin.

“Bagi saya yang terpenting, pertama adalah integrity, idealisme dan seiring berjalannya waktu saya menyadari trust itu juga penting bagi pemimpin. Kemudian listen, sebagai pemimpin mendengarkan itu jadi kunci. Adalagi present, di mana kehadiran kita untuk orang lain adalah bentuk kontribusi yang nyata. Terakhir adalah acceptance, menyadari bahwa salah itu nggak papa yang penting kita tahu, bertanggung jawab dan bisa memperbaiki,” tutur Viviana saat berbincang di W-Summit 2021 sesi ketiga.

Bicara soal keterbatasan, Staf Khusus Presiden RI sekaligus sociopreneur Angkie Yudistia juga memiliki cerita menarik. Sebagai penyandang disabilitas tuna rungu, Angkie membuktikan bahwa kekurangan yang dimilikinya adalah suatu kelebihan dan anugrah yang begitu besar. Meski awalnya ia mempertanyakan nasibnya, tapi keterbatasan mendorongnya menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras.

“Aku belajar banyak bahwa ketika orang melihat kekurangan itu adalah suatu aib, aku justru menjadikan itu sebagai hal yang unik dan jadi kelebihan. Nah, karena aku tahu jadi disabilitas itu sulit cari kerja, maka aku buat lembaga yang tujuannya membimbing, melatih disabilitas untuk menjadi pekerja yang berkualitas. Inilah yang membuatku berpikir bahwa kekuranganku punya tujuan, bahkan jadi kekuatan dan anugrah yang besar,” kata Angkie.

Kiprah perempuan dalam menempati posisi-posisi strategis yang menjadikannya berdaya dan mampu berperan sebagai motor perubahan ternyata nggak lepas dari isu gender yang masih diyakini masyarakat

Silvia (moderator/kiri) – Adeline Windy (tengah)/ Singing Bowl dan Buteyko Instructor – Emma Sri Martini (kanan)/ Direktur Keuangan Pertamina | dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Bicara soal kiprah perempuan kita sudah melihat banyak sekali peran yang bisa diambil, seperti dibuktikan para pembicara W-Summit 2021 yang mampu bersaing dengan kaum laki-laki sehingga bisa menempati posisi penting di bidangnya. Salah satunya adalah Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini. Beliau telah membuktikan kiprahnya di bidang migas, sebuah bidang yang didominasi laki-laki. Kesuksesan dalam menempati posisi penting di perusahaan seperti Emma tentu nggak lepas dari mental kuat yang juga harus dimiliki oleh anak muda zaman sekarang.

“Mental untuk terus keep learning itu harus selalu ada ya, kemudian disiplin itu tadi jadi tidak take it for granted, tidak berpikir bahwa perempuan ada privilege khusus, karena that is not true ya. Hal ini yang harus kita educated ke masyarakat bahwa sebenarnya perempuan itu memiliki kapasitas yang tidak kalah dengan para laki-laki,” ungkap Emma saat berbincang di W-Summit 2021 sesi keempat

Sebagai perempuan yang menempati posisi strategis di perusahaan, Emma banyak menghadapi isu gender. Meski diskriminasi terhadap perempuan yang saat ini masih terjadi, Emma justru membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan yang sama dengan para laki-laki. Hal ini juga didukung dengan ia bekerja di BUMN. Seperti diketahui, kementerian memberikan kebijakan afirmatif bahwa kepemimpinan di level C minimal 15% harus diduduki oleh perempuan.

“Sebenarnya ini bukan gender issue, tapi business issue. Banyak riset yang mengatakan bahwa bila di C level itu ada presentase women leader, akan meningkatkan performance dari perusahaan. Jadi kombinasi antara male dan female leaders itu akan membuat kinerja korporasi meningkat,” tutur Emma.

Selain itu, di masyarakat juga masih banyak terjadi bias gender yang membuat perempuan diarahkan untuk mengambil peran-peran domestik. Namun, sebenarnya hal tersebut bukan sebuah batasan, tapi preferensi. Sebab, perempuan bisa memilih apa yang sebenarnya ia inginkan. Perlu juga ditegaskan bahwa bias yang ada bukan berarti perempuan nggak bisa memiliki kapasitas seperti laki-laki.

“Inilah yang kita usung di BUMN untuk gender equality ini menjadi satu hal yang kita afirmatifkan, bahwa para perempuan itu sebenarnya bisa. Hanya lebih pada ekosistem dan support system yang harus dikedepankan. Misalnya kenyamanan kerja untuk para female workers dan female leaders harus dibuat dan diafirmatifkan melalui suatu policy dan ekosistem,” ungkap Emma.

Lebih lanjut Emma menekankan bahwa persepsi terhadap isu bias gender harus diluruskan. Ia mengingatkan bahwa privilege atau hak istimewa itu nggak ada untuk para pemimpin perempuan, karena semuanya harus diperjuangan dan porsinya tetap sama dengan pemimpin laki-laki. Bagi Emma, yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan para pekerja perempuan untuk siap menjadi pemimpin.

Pengalaman soal isu gender juga dialami sendiri oleh Singing Bowl dan Buteyko Instructor Adeline Windy. Adel mengungkap bahwa ia lahir dan tumbuh di keluarga yang masih menganut isu gender, sehingga membuatnya hampir nggak punya kesempatan untuk berkembang. Namun, di satu titik ia berpikir bahwa ia memiliki kemampuan tapi nggak diizinkan oleh keluarga.

“Saya berpikir bahwa saya harus membuktikan saya bisa, jadi saya tunjukkan dengan prestasi. Saya juga sempat bekerja di corporate selama sepuluh tahun, ketika saya resign ibu saya justru menyayangkan keputusan tersebut. Saya katakan bahwa saya punya kemampuan, setidaknya itu modal awal saya dulu. Sejak itu saya terus belajar dan berusaha terus berkembang hingga saat ini,” ujar Adel.

Perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam pembangunan perekonomian bangsa dan dukungan lingkungan terhadap pekerja perempuan

Emma Sri Martini/ Direktur Keuangan Pertamina| dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Bicara soal peran perempuan, kita tahu bahwa perempuan nggak bisa dianggap sebelah mata, apalagi jika sudah bisa menempati posisi-posisi strategis di suatu perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa perempuan memiliki peran yang cukup besar dalam perekonomian. Bahkan, perempuan juga mampu menjadi penggerak perubahan, terutama dalam mendukung sesama perempuan untuk berkarya dan lebih berdaya.

“Jika dilihat dari social life di masyarakat, ini sebenarnya mandat yang diamanatkan pada women leaders terutama di BUMN, itu bagaimana kita bisa memberikan women empowerment tidak hanya dari sisi corporate life, tapi bagaimana membuat program-program yang bisa meng-empowerment komunitas perempuan di luar BUMN,” lanjut Emma.

Upaya tersebut juga menjadi afirmasi positif melalui program-program yang dilakukan oleh para pemimpin perempuan. Emma mengatakan bahwa dukungan dari perempuan untuk perempuan lain ternyata bisa lebih menguatkan sehingga bisa terbangun women empowerment. Misalnya dalam membangun kemampuan tanpa berlandaskan gelar seperti melalui program-program women empowerment BUMN, sehingga perempuan bisa berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.

“Program-program tersebut terwujud melalui pelatihan women empowerment programs yang sifatnya practical, apakah keterampilan menjahit, memasak, ada juga keterampilan UMKM yang mereka menyiapkan marketing, go digital, yang akhirnya dieskalasi menjadi go global. Ini program yang biasa kita lakukan sesama BUMN di mana program ini bisa diafirmatifkan untuk bisa meng-empower perempuan di Indonesia,” terang Emma.

Women empowerment juga merupakan upaya yang dapat mendukung perempuan generasi milenial bisa berprestasi di bidangnya. Menurut Emma, milenial lebih senang diberikan tantangan dan tanggung jawab, kemudian diberikan lingkungan kerja kondusif untuk saling menghargai dan menghormati. Selain itu dibutuhkan juga bimbingan dan arahan dari atasan di lingkungan kerja.

Hal ini ternyata juga bisa mendorong perempuan untuk berkarier lebih baik, meski di bidang yang didominasi oleh laki-laki, misalnya di sektor migas seperti yang Emma jalani saat ini. Ini karena kapasitas sebenarnya bukan isu gender, yang mana bisa dibangun melalui upaya-upaya setara antara laki-laki dan perempuan. Yang menjadi tantangan, apakah perempuan mau untuk memilih bersaing atau tetap pada posisi yang biasa di antara sesama perempuan.

“Sebenarnya kalau dari data survei tantangan itu bukan dari lingkungan kerja, tapi lebih banyak dari dalam diri perempuan sendiri. Bagaimana pun perempuan harus berjuang dengan berbagai peran sehingga menjadi tantangan yang begitu besar daripada yang dihadapi laki-laki,” jelas Emma.

Di sektor migas sendiri secara keseluruan 34% bagian diisi oleh perempuan. Namun, semakin tinggi levelnya, maka semakin sedikit jumlahnya. Di sisi lain, pimpinan tetap memberikan porsi yang sama terhadap pekerja perempuan seperti pelatihan kemampuan, bimbingan dan dukungan semua sama, sehingga sama-sama bisa berkarier dengan baik.

Lebih lanjut lagi, Emma juga menjelaskan bahwa dukungan perusahaan terhadap pekerja perempuan juga saat ini sudah sangat baik terutama di BUMN. Perusahaan mendukung peran perempuan di luar kepentingan perusahaan misalnya dengan fasilitas ruang menyusui, tempat penitipan anak, hingga sarana olahraga untuk mendukung kesehatan mental dan fisik pekerja.

Peran perempuan dalam dunia marketing dan bisnis yang mampu menjadikannya lebih berdaya dan menciptakan karya

| dok. W-Summit 2021 by Hipwee

Di sesi kelima, W-Summit 2021 menghadirkan pembicara perempuan hebat yang berperan dalam bidang marketing atau pemasaran, baik itu dalam skala pemimpin di suatu perusahaan maupun bisnis pribadi. Dalam perbincangan ini diungkap, saat orang menganggap perempuan cocok menjadi seorang marketer karena dinilai lebih pandai bicara, sebenarnya hal tersebut bukan menjadi dasar keahlian seorang marketer.

Chief Marketing Officer GoPay Fibriani Elastria menegasakan bahwa menjadi seorang marketer yang hebat nggak ditentukan oleh gender, dan nggak hanya butuh kemampuan bicara saja. Lebih dari itu, dibutuhkan kemampuan analisis untuk mengetahui data, memahami produk, dan kebutuhan konsumen, sehingga melahirkan komunikasi marketing yang efektif.

“Ketika perempuan harus bersaing dengan laki-laki di bidang marketing, maka jangan terbebani dengan pikiran bahwa kita nggak bisa. Hal ini membuat kita takut untuk mencoba. Apalagi perempuan itu sebenarnya lebih kuat dari laki-laki, tapi kadang justru kita yang merasa beban peran terasa berat. Padahal perempuan diberi kemampuan luar biasa berupa multitasking, inilah yang harus kita manfaatkan,” tutur Fibri saat berbincang di W-Summit 2021 sesi kelima.

Seiring perubahan zaman, dunia marketing juga ikut berubah, sehingga evolusinya terhadap dunia bisnis pun ikut berubah. Hal inilah yang dialami oleh Founder Bumbee Group Perdana Mahartika atau akrab disapa Tika. Ia mengatakan saat ini konsumen lebih senang berbelanja dan mengetahui produk lewat marketplace dan media sosial. Hal ini membuat Tika harus lebih kreatif dalam merancang strategi marketing untuk memasarkan produknya.

“Saat membangun bisnis, orang takut gagal jadi takut untuk memulai, padahal dari kegagalan itu kita akan belajar. Orang juga takut rugi, makanya harus mulai dari hal kecil yang penting jalan dulu usahanya, saya juga memulai Bumbee dari modal lima juta dengan satu karyawan. Kemudian harus terus belajar dan perluas relasi atau jaringan,” ungkap Tika saat membeberkan tips memulai bisnis di W-Summit 2021 sesi keempat.

Baik Fibri maupun Tika sebagai perempuan yang menekuni dunia marketing, keduanya sepakat bahwa bekal utama dalam bidang tersebut adalah pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, sehingga bisa menciptakan produk yang sesuai dengan pasar yang dituju.

Rangkaian acara W-Summit 2021 yang telah sukses digelar ini tentunya menjadi inspirasi bagi para peserta yang dengan setia mengikuti setiap sesi dan menyimak kisah-kisah para pembicara yang sangat luar biasa. Mereka adalah contoh bahwa perempuan bisa bersaing, dan mampu berdaya dengan karya serta berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

W-Summit 2021 yang diselenggarakan oleh YOT ini dipersembahkan oleh BRImo, dan didukung oleh BRI, Pertamina dan Optik Seis dengan kolaborasi bersama Hipwee. Acara inspiratif ini juga didukung oleh berbagai media partner dan komunitas.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor