Di pelajaran sekolah saat masih Sekolah Dasar, kita diajarkan sebuah konsep dimana bapak tugasnya mencari nafkah dan ibu bertanggung jawab mengurus anak serta rumah. Hal itu nggak salah kok. Cuma mungkin pandangan seperti itu sudah mulai nggak relevan deh buat kehidupan masa kini. ykalau masalah mendidik anak sebenarnya jelas butuh dukungan dari kedua belah pihak, nggak sepihak doang. Inilah isu yang sekarang sedang berusaha ditangani oleh pemerintah Jepang.

Mungkin sama seperti hampir semua kultur lain di dunia, tugas utama para laki-laki adalah fokus buat mencari nafkah buat keluarganya. Bahkan, mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Secara tidak langsung, kultur ini membuat banyak wanita di Jepang akhirnya menunda atau bahkan memutuskan untuk tidak menikah sama sekali karena takut tidak bisa lagi bekerja setelah menikah dan punya anak. Sebagai solusinya, pemerintah Jepang mendorong gerakan ‘Ikumen’ dimana para bapak diharuskan menghabiskan banyak waktu dengan anak-anaknya. Kulik lebih dalam yuk mengenai hal ini bersama Hipwee News & Feature. Siapa tahu cocok diterapkan di Indonesia.

1. Mirip seperti konsep work-life balance secara umum, ‘Ikumen’ ingin para bapak nggak melulu kerja di kantor aja, tetapi juga berada di rumah untuk berpartisipasi dalam membesarkan anak

Seharusnya bapak memang terlibat dalam membesarkan anak. via www.fun-japan.jp

Advertisement

Di Jepang, para lelaki kebanyakan ambisius dalam bekerja. Hal itu didukung juga dengan budaya kerja mereka yang keras. Tapi hal ini membuat lelaki seringkali melewatkan fase tumbuh kembang anaknya yang seharusnya butuh perhatian mereka. Maka dari itulah, konsep bernama ‘Ikumen’ dijalankan. Dikutip dari BBC, ikumen berasal dari kata ‘ikuji’ yang artinya mengurus anak dan ‘ikemen’ atau lelaki yang kuat serta keren. Jadi, ikumen merupakan gambaran kalau lelaki keren itu mengurus anak juga.

2. Selama ini, figur bapak dikaitkan dengan tugas mencari nafkah. Sampai-sampai mereka jarang sekali berbincang dan bertemu anak-anaknya

Tugas utama bapak memang bekerja untuk menafkahi keluarga, tapi anak juga butuh sosok mereka. via www.msn.com

Nggak beda jauh dengan di Indonesia, di Jepang, sosok bapak dalam keluarga punya tugas utama memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka semua bekerja sangat keras buat bisa menghidupi keluarganya. Sampai-sampai, menurut penelitian di tahun 1980-an yang ditulis di BBC, para bapak kebanyakan cuma menghabiskan waktu sekitar 40 menit dengan anaknya dalam sehari. Itu juga dilakukannya saat makan bersama aja. Mereka kehilangan kesempatan deh buat bisa dekat, ngobrol, dan memahami keinginan anaknya.

3. Karena itu, bapak jadi terkesan tegas dan galak. Nggak jarang anak jadi takut sama bapaknya dan nggak nyaman ketika berada di dekat dengan mereka

Dulunya, bapak identik dengan sosok yang galak, via www.yokota.af.mil

Jarang berbincang dan bermain dengan anak membuat sosok bapak disegani bahkan ditakuti oleh anak. Sebenarnya itu cuma karena mereka sama-sama nggak dekat aja sih. Padahal kan seharusnya seorang bapak memberi rasa aman dan nyaman buat anaknya. Tapi karena di benak anak yang tertanam adalah sosok bapak itu asing dan galak, maka anak jadi segan deh buat bersama bapaknya.

4. ‘Ikumen’ berusaha mengubah pandangan itu dan menjadikan bapak sebagai sosok pahlawan super yang dekat dengan anak-anak

Sekarang banyak lho acara yang melibatkan bapak dan anak. via www.nissin.com

Advertisement

Kondisi itu mengkhawatirkan sih. Sampai-sampai dimulailah program ikumen yang ingin membuat para bapak ini jadi sosok pahlawan super yang menyenangkan buat anaknya. Bahkan, stasiun TV dan juga gambar iklan kebanyakan memperlihatkan foto kebersamaan antara bapak dan anak yang ceria melakukan aktivitas bersama lho. Diharapkan sih hal itu memicu para bapak lain ingin terlihat keren dengan cara menghabiskan banyak waktu dengan anaknya.

5. Meski cukup berhasil, tapi di awal penerapannya sih banyak kendala yang harus dihadapi. Salah satunya adalah para bapak yang merasa lelah karena tuntutan di tempat kerja dan di rumah

Para laki-laki banyak yang ikut kursus buat merawat anak. via womenintheworld.com

Nggak semuanya selalu berjalan mulus. Di awal keberadaannya, ada banyak kendala yang terjadi. Misalnya aja, meski para bapak ini ingin menghabiskan waktu bersama anaknya, tapi mereka takut dimarahi bosnya karena tentu saja hal itu mengurangi waktu mereka bekerja. Selain itu, ikumen membuat peran seorang bapak jadi lebih keras. Ekpektasi orang-orang di kantor atau di rumah ‘kan jadi lebih besar. Sampai-sampai pemerintah membuat Buku Panduan Keseimbangan Kehidupan Kerja lho.

Sekarang, di Jepang, kita bisa lihat banyak bapak yang menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Mereka bermain dan berjalan-jalan sehingga hubungan mereka jadi lebih dekat. Para perempuan juga kagum dan menganggap bapak yang menghabiskan waktu dengan anak itu seksi lo.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya