Kasus kekerasan seksual yang dialami Agni (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2017 lalu belum selesai. Sejak pengakuan lengkapnya terbit di situs daring BPPM Balairung beberapa hari lalu, berbagai pihak terus berupaya mendorong pihak kampus UGM untuk mengambil langkah konkrit terkait kasus pelecehan ini. Karena seperti kita tahu, berdasarkan pengakuan Agni, dirinya belum mendapat keputusan jelas dan adil terkait apa yang dialaminya setahun lalu.

Maraknya kasus ini tidak membuat sesama mahasiswa UGM tinggal diam. Tadi pagi (8/11), aksi solidaritas dukung Agni digelar di lapangan Sansiro Fisipol UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. Aksi yang telah mendapat persetujuan dari Agni sendiri itu dihadiri puluhan mahasiswa, awak media, serta beberapa civitas akademika. Mereka semua berkumpul untuk menyuarakan tuntutan yang sama: mendorong pihak UGM mengusut tuntas kasus ini dan memberi sanksi setimpal bagi pelaku. Berikut hasil liputan Hipwee di lapangan.

1. Aksi #KitaAGNI dilakukan untuk menanggapi rilis siaran pers yang dikeluarkan UGM terkait hebohnya berita soal Agni. Rilis tersebut dinilai janggal dan kurang spesifik

Advertisement

Sehari setelah berita Agni dirilis BPPM Balairung, pihak UGM melansir siaran pers berisi 4 poin. Rilis tersebut diunggah di akun Twitter resmi UGM. Namun, tidak sedikit pihak justru menyayangkan rilis yang kurang spesifik dan malah terkesan janggal. Inilah yang kemudian jadi faktor pendorong adanya aksi solidaritas #KitaAGNI demi menyuarakan tuntutan-tuntutan pada kampus UGM. Kalau kamu penasaran tuntutan lengkapnya, bisa dibuka di sini.

“Secara singkat, aksi #KitaAGNI lahir karena pelaku kekerasan seksual dari kasus Agni segera diluluskan dan namanya sudah tercantum dalam daftar wisudawan November 2018 tanpa Agni mendapatkan transparansi, kejelasan dan hukuman yang adil bagi pelaku kekerasan seksualnya.” – ujar Natasha, dari aksi #KitaAGNI pada Kamis (8/11/2018) di kampus Fisipol UGM Yogyakarta

2. Aksi ini dimulai dengan membagikan kentungan dan peluit yang kemudian dibunyikan bersama, sebagai tanda bahaya #UGMDaruratKekerasanSeksual

Bunyikan kentungan via www.hipwee.com

Advertisement

Sekitar pukul 09.30 WIB, lapangan Sansiro yang tadinya hanya berisi segelintir orang, sudah mulai dipenuhi mahasiswa, awak media, dan beberapa dosen. Mereka mengelilingi baliho besar yang berisi sederet tuntutan kepada kampus UGM. Bagian kirinya sengaja dibiarkan kosong, karena akan digunakan mahasiswa atau alumni untuk menuliskan nama dan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) sebagai bentuk dukungan kepada Agni. Setelah itu, para mahasiswa inisiator gerakan ini membagikan kentungan dan peluit kepada publik untuk kemudian dibunyikan bersama-sama sesuai aba-aba. Bunyi itu untuk merepresentasikan tanda bahaya akan darurat kekerasan seksual di kampus UGM.

Salah satu pendukung Agni via www.hipwee.com

“Kami di sini akan melanjutkan perjuangan Agni. Agni mengucapkan terima kasih untuk teman-teman dan Agni minta maaf karena tidak bisa hadir. Gerakan #KitaAGNI adalah permulaan. Agni tidak hanya satu, masih banyak yang belum diselesaikan di kampus UGM khususnya kasus kekerasan seksual. Jadi akan ada aksi dan pergerakan selanjutnya, penyintas-penyintas akan kembali berdiri dan berjuang bersama Agni.”

3. Setelah itu orang-orang yang menyatakan dukungan dipersilahkan mengisi nama dan NIM-nya di baliho putih yang telah disediakan

Pengisian nama dan NIM via www.hipwee.com

Setelah kentungan dan peluit dibunyikan, satu per satu orang turut mengisi nama dan NIM di baliho putih yang digelar di lapangan Sansiro, sebagai bentuk dukungan kepada penyintas, dalam kasus ini Agni. Mereka yang mengisi kemudian diberi pita ungu sebagai tanda telah mendukung Agni dalam aksi solidaritas tersebut. Aksi tadi juga dimeriahkan oleh pembacaan puisi dan tuntutan pribadi Agni selaku korban, oleh salah satu mahasiswi inisiator.

4. Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya bagaimana kondisi Agni saat ini. Kabarnya Agni sudah berada di tempat yang aman

“Agni sudah berada di tempat yang aman. Semua proses pendampingan psikologi yang dilewati Agni membuat Agni membentuk sistem supportnya sendiri. Ini perlu dipahami karena penyintas juga berhak menentukan siapa yang kemudian lebih dipercaya dan tidak, di mana dia merasa aman dan tidak.” – jelas Natasha.

Meski mungkin kondisi psikologis Agni belum sepenuhnya stabil, tapi dengan adanya gerakan ini setidaknya ia bisa merasa aman karena banyaknya orang yang mendukungnya. Biar bagaimana pun kasus kekerasan seksual semacam ini harus benar-benar diusut tuntas. Apalagi kasus Agni ini terjadi di ranah kampus, yang harusnya jadi tempat orang menimba ilmu.

Aksi ini masih akan berlangsung sampai pukul 18.00 nanti. Jika kalian mahasiswa atau alumni UGM ingin turut mendukung Agni dengan mengisi baliho, silakan datang ke kampus Fisipol UGM, atau jika berasal dari luar UGM atau kebetulan sedang tidak di Jogja, kamu bisa mengisi form melalui tautan berikut ini ugm.id/dukungagni. Mari bersama perangi kekerasan seksual!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya