Boikot FPI terhadap media sosial–Whatsapp, Facebook–dan Google sebagai bentuk kemarahan terhadap keputusan Presiden AS, Donald Trump yang mengklaim Yerusalem sebagai ibukota Israel semakin berlanjut. Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) menunjukan keseriusan dengan memboikot atau mengimbau penggunaan Facebook di hari Natal. Kali ini seruan itu berkembang lagi. FPI merekomendasikan tiga platform pengganti platform yang diboikot: Redaksitimes, CallInd, dan Geev.

Meskipun buatan dalam negeri, ketiga aplikasi pengganti itu tentu masih kurang familier di telinga kita. Hipwee News & Feature akan memberikan ulasan singkat tentang Redaksitimes sebagai pengganti Facebook, Geevv yang menggantikan Google, dan CallInd untuk menggantikan Whatsapp. Simak baik-baik.

Redaksitimes digadang-gadang sanggup menggantikan Facebook, namun masih ada beberapa kendala yang mesti dibenahi

Tampilan Redaksitimes via www.jawapos.com

Advertisement

Redaksitimes didirikan pada Juni 2017 oleh Dody Pradipto dalam naungan Transglobalindo Nusantara, perusahaan data center dan Internet Service Provider. Jejaring sosial ini digadang-gadang sanggup menggantikan peran Facebook. Baik secara fungsi dan tampilan, Redaksitimes mirip dengan Facebook. Awalnya, pengguna akan diminta untuk mengisi persyaratan aktivasi akun. Pengguna kemudian langsung disodori unggahan-unggahan pengguna lain yang tidak dikenal dan diikuti. Dan ketika sudah masuk, terdapat fitur menulis status, like dan comment sebagaimana Facebook.

Saat ini pengguna Redaksititimes telah mencapai 15 ribu akun. Tentu saja masih kalah jauh dibanding dengan Facebook dengan 1,37 miliar pengguna aktif. Meskipun begitu, jumlah itu terbilang hebat, sebab Redaksitimes baru benar-benar aktif dalam seminggu terakhir. Saat ini, Redaksitimes tak memiliki aplikasi versi smartphone. Versi aplikasi yang ada hanya dalam bentuk apk (installer Android) dengan alamat: android.redaksitimes.com. Jadi Redaksitimes tak terpampang di toko resmi Google Play.

Meskipun secara fitur dan tampilan hampir mendekati Facebook, tidak bisa dimungkiri bahwa Redaksitimes terbilang lambat dari segi performa, dan bahkan di beberapa waktu tertentu (saat Hipwee mencoba masuk) justru tidak bisa diakses sama sekali.

CallInd menawarkan fitur seperti jejaring sosial arus utama semacam LINE, Whatsapp, BBM dan lain sebagainya. Meski sudah tersedia di Playstore, tapi belum bisa dinilai karena belum rilis

CallInd sudah bisa diunduh di Play Store via www.jawapos.com

Advertisement

Dibuat oleh Novi Wahyuningsih asal Kebumen, CallInd merupakan aplikasi pesan instan selayaknya Whatsapp. Aplikasi ini dikembangkan PT Callind Network International yang berasal dari daerah yang sama. CallInd dikembangkan untuk menjawab kebutuhan berkomunikasi, bukan sekadar untuk chat tetapi bisa untuk telepon, video call, berbagi fail, foto, video, dan juga memasang iklan jual-beli produk.

Seperti aplikasi pada umumnya, Callind meminta calon pengguna mengisi nomor telepon untuk registrasi. Sayangnya, setelah diisi, aplikasi itu tiba-tiba terhenti. Hal ini berdampak pada rating dan komentar yang ada di Google Play Store–kebanyakan bernada nyinyir. Banyak yang mengeluhkan aplikasi itu belum layak fungsi dikarenakan masih sering dijumpai lag atau eror saat aplikasi berjalan.

Saat ini, CallInd telah memiliki 110 ribu pengguna dan baru tersedia pada perangkat lunak berbasis Android. Perlu kamu ketahui, CallInd memang masih dalam tahap pengembangan. Rencananya, baru akan dirilis pada Maret atau April tahun 2018.

Geevv ialah mesin pencari yang patut diperhitungkan. Meski penggunanya belum sebanding dengan Google, namun jangkauan pencariannya tidak kalah

Geevv dirasa cukup mumpuni via geevv.com

Geevv adalah sebuah mesin pencari yang diciptakan oleh mahasiswi Universitas Indonesia bernama Azka A. Silmi dan rekannya, Andika Deni Prasetya. Geevv mulai beroperasi sejak 26 September 2016 dan menghadirkan layanan mesin pencari. Secara fungsi, Geev tidak berbeda jauh dengan Google. Namun, yang membedakan adalah tujuan sosial yang diusung oleh pemiliki Geevv ini. Sebanyak 80 persen keuntungan yang dihasilkan oleh Geevv akan disalurkan ke sejumlah mitra program sosial seperti dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.

Dilansir dari Tirto.id, setiap pencarian kata yang diketik oleh pengguna Geevv akan menghasilkan 10 rupiah untuk disumbangkan. Angka itu akan terus berlipat seiring jumlah pencarian yang dibuat. Sederhananya, makin sering digunakan, berlipat pula donasi yang dihasilkan. Uang donasi yang yang dihasilkan pengguna dapat terlihat langsung di pojok kanan atas situs pencarian. Sejak berdiri hingga sekarang, Geev telah memberi sumbangan sebesar 26 juta rupiah.

Kamu tidak perlu takut untuk beralih ke Geevv karena jangkauan pencarian keyword Geev kiranya hampir sama dengan Google. Hal ini dikarenakan Geevv menggunakan database mesin pencari buatan Microsoft, yaitu Bing. Walau tentu saja per harinya Geevv baru bisa memproses rata-rata 100 ribu pencarian, masih kalah jauh dengan Google yang 3,5 miliar pencarian setiap harinya.

Seruan boikot oleh FPI kepada Whatsapp, Facebook, dan Google tengah menimbulkan polemik di berbagai kalangan. Wajar saja kalau banyak yang tidak mendukung aksi tersebut. Pertama, karena kebanyakan dari kita telanjur terbiasa dengan menggunakan ketiganya. Kedua, alternatif pengganti ketiga platform itu belum mampu menyediakan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna.

Mengalihkan penggunaan ke Redaksitimes, CallInd, dan Geev tidak semudah membalikan telapak tangan. Beralih atau tidak, ikut memboikot atau tidak, semua diserahkan kepada masing-masing individu. Dan semoga artikel di atas membantumu untuk mengambil sikap.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya