Jajal Zero Waste Food Selama Seminggu untuk Berhenti Buang Makanan, Formula ini Justru Kutemukan

Gaya hidup zero waste food

Saat jam makan siang, aku masih melongo ketika membaca sebuah artikel melalui gawai. Tertulis judul dengan terang dalam artikel itu, “Indonesia adalah  Negara yang Suka Buang Makanan”. Menurut laporan Global Food Sustainability Index tahun 2017, Indonesia menempati urutan kedua setelah Arab Saudi sebagai negara yang suka buang-buang makanan di dunia. Peringkat ini tentu memprihatinkan, apalagi fakta ini kembali mencuat tepat saat Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober lalu.

Menukil Kompas, data terbaru dari Food Loss and Waste (FLW) Kementerian PPN/Bappenas, makanan terbuang sekitar 115-184 kilogram per kapita tiap tahunnya selama 20 tahun belakangan di Indonesia. Dalam hitungan ton, makanan yang terbuang mencapai 23-80 juta ton per tahun. Wow, angka yang fantastis, ya. Bahkan, jumlah makanan yang terbuang itu telah mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar Rp213 triliun-Rp551 triliun setiap tahunnya.

Krisis pengolahan pangan ini nyatanya jadi masalah serius yang mulai disorot secara global. Mengutip Technogym, berkisar 30 persen makanan yang ada di dunia terbuang sia-sia per tahun. Totalnya telah mencapai 1,3 juta ton lo!

Membaca laporan data tersebut, rasanya seperti urat maluku disentil. Pasalnya, aku baru saja menyisakan setengah porsi nasi dan membuangnya tanpa pikir panjang. Aku kalap mata ketika lapar karena tidak eat mindfully. Alhasil, aku makan sampai kekenyangan, sedangkan makanan masih tersisa banyak.

Miris melihat kebiasaanku dan banyak orang lain yang suka buang-buang makanan, akhirnya aku mencoba gaya hidup zero waste food. Sejak tahun 2016, gaya hidup ini mulai ngetren karena dianggap lebih ramah lingkungan, hemat uang, sekaligus solusi untuk masalah buang-buang makanan. Aku memutuskan untuk menjajal zero waste food selama 6 hari, dimulai pada akhir pekan. Bagaimana hasilnya?

Hari 1: Membuat daftar belanja mingguan untuk isi kulkas, kunci utama adalah secukupnya aja~

Membeli bahan makanan untuk seminggu | Photo by
Anna Tarazevich on Pexels

Gaya hidup zero waste food sebenarnya cukup menyelamatkan keuangan, terutama bagi orang sepertiku yang kerja di perantauan. Alih-alih membeli makanan, aku harus menyimpan, memasak, dan mengolah kembali bahan-bahan dengan bijak agar nggak harus sampai membuangnya.

Tinggal di kos yang memiliki kulkas bersama, gaya hidup zero waste food  bisa kumulai dengan cukup mulus. Kekhawatiran bahan makanan akan cepat busuk dapat terhindarkan. Langkah berikutnya adalah merencanakan belanja mingguan agar bahan makananku nggak berlebihan dan berujung di tong sampah. Sebelum membuat daftar belanjaan, aku memeriksa dulu isi kulkas untuk memastikan bahan makanan apa yang masih tersedia dan apa yang belum ada.

Setelah mempertimbangkan kebutuhan, aku akan membeli bahan makanan ini untuk 5 hari ke depan:

  • Senin: 1 ikat kangkung untuk ditumis, 1 butir telur
  • Selasa: 1 porsi sayuran untuk sop, 1/2 kg ayam untuk digoreng
  • Rabu: Cah taoge dan perkedel kentang
  • Kamis: Sarden untuk ditumis, mentimun, dan sayuran untuk direbus
  • Jumat: Tempe dan kacang panjang untuk ditumis, sisa ayam untuk digoreng

Bahan dan menu makanan ini akan kumasak untuk makan siang. Sementara itu, aku akan membeli roti gandum dan buah-buahan untuk sarapan, seperti pisang dan apel. Nah, untuk makan malamnya, aku akan membeli makanan. Tujuannya sih, biar nggak bosan.

Daftar makanan sudah dikantongi, aku langsung meluncur ke warung sayuran terdekat.

Hari 2: Memulai zero waste food dengan semangat dan masih sesuai dengan rencana

Eksperimen zero waste food di hari kedua masih aman | Photo by
Anna Tarazevich on Pexels

Hari sebelumnya, aku sudah menyiapkan bahan makanan yang akan kumasak hari ini. Jadi, selepas membeli daftar kebutuhan pangan yang telah dibuat, aku menyimpan dan memotongnya di kulkas agar tahan lama. Sebagai pekerja dengan waktu luang yang nggak terlalu banyak, aku sengaja membuat meal preparation supaya waktu memasak lebih singkat.

Tak perlu memotong bahan makanan, aku tinggal mengambilnya di kulkas saja saat membutuhkan. Kemudian, bahan yang sudah siap bisa kumasak sesuai menu harian yang telah ditentukan. Setelah sarapan dengan roti dan selai nanas, aku memasak tumis kangkung dan telur ceplok.

Zero waste food bukan cuma soal menghemat makanan, tapi juga mengolah kembali bahan makanan yang ada. Kangkung masih bisa kutumbuhkan kembali dengan cara memasukkanya ke dalam wadah berisi air. Jadi, aku nggak perlu membelinya lagi. Kemungkinan minggu depan, tanaman kangkung sudah bisa kupetik.

Selain itu, aku mengumpulkan sampah-sampah bahan makanan organik. Lalu, kuletakkan di pot kecil berisi tanah. Rencananya, sampah itu bisa diolah jadi pupuk untuk tanaman mint dan tomat yang kupunya.

Hari 3: Sudah sesuai dengan perkiraan, aku pikir masakanku bisa dikonsumsi untuk makan malam sekalian, tapi…

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini