Selayaknya orang seluruh dunia menanti tanggal 1 Januari atau umat muslim menunggu tahun baru Hijriyah, tahun baru Imlek merupakan momen penting dalam kalender warga Tionghoa. Perayaan pergantian tahun berdasarkan tradisi Cina ini selalu diramaikan dengan kesenian barongsai, dominasi warna merah dan emas, hingga kue keranjang yang jadi makanan wajib di meja makan.

Di Indonesia sendiri, tahun baru Imlek diperingati sebagai hari libur nasional. Kemeriahaan Imlek dapat dilihat dimana-mana. Dari dekorasi di pusat perbelanjaan, penjual kembang api yang bermunculan di pinggir jalan, sampai hujan yang terus turun sebagai simbol melimpahnya rezeki. Apalagi di kawasan ‘pecinan’ yang ada di hampir setiap kota di Indonesia, pasti ramai sekali.

Istilah ‘pecinan’ berasal dari Bahasa Jawa. Digunakan untuk menyebut pemukiman yang didominasi oleh orang Tionghoa

Pecinan tua di Surabaya via www.surabayawalk.com

Orang Tiongkok pertama kali datang ke Indonesia pada abad ke-7 dan mulai bermukim pada abad ke-11 di daerah sekitar pesisir timur Sumatera dan Kalimantan. Baru pada abad ke-14, keturunan Tionghoa bermigrasi ke Pulau Jawa. Pecinan berarti tempat hunian yang didominasi oleh keturunan Tionghoa. Di tempat ini, masyarakat yang didominasi oleh keturunan Cina tinggal sekaligus melakukan berbagai kegiatan ekonomi.

Di era Belanda, pecinan tercipta untuk penertiban. Warga memang dipisah-pisahkan sesuai ras-nya agar lebih mudah ditata

Etnis tionghoa di Indonesia via www.voaindonesia.com

Advertisement

Di Indonesia sendiri, munculnya kawasan pecinan dimulai sejak era penjajahan Belanda. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memang ‘hobi’ mengelompokan rakyat berdasarkan ras. Ada Eropa (untuk orang kulit putih, termasuk Jepang dan keturunan campuran), pribumi (untuk orang Indonesia asli), dan timur asing (untuk keturunan Tionghoa, dan yang di luar eropa dan pribumi).

Pemerintah Hindia Belanda sengaja membuat satu pemukiman sendiri untuk mengkonsentrasikan penduduk Tionghoa agar lebih mudah untuk diatur. Ada juga sumber yang mengatakan pecinan, dulunya adalah tempat isolasi untuk keturunan Tionghoa. Zaman dahulu untuk masuk di kawasan pecinan, seseorang harus punya surat izin terlebih dahulu. Tapi seiring perkembangan zaman, pecinan akhirnya membaur dengan penduduk lokal.

Ruko dan kelenteng adalah dua hal yang pasti ada di kawasan Pecinan. Sejak dulu, ekonominya memang terpusat pada perdagangan

Kelenteng via kelenteng.com

Sesuai dengan konsepnya, kawasan pecinan adalah tempat untuk aktivitas ekonomi sekaligus tempat tinggal. Sebelum tahun 1990-an, bangunan di pecinan punya arsitektur yang khas. Yaitu bangunan rumah berskala besar dengan atap berbentuk pelana sebagaimana arsitektur tiongkok. Namun semakin lama karena lahan semakin sempit, konsep pun berubah. Kini di pecinan, bangunan biasanya terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk usaha (toko, restoran, dll), sementara lantai dua dipergunakan sebagai tempat tinggal. Selain ruko, kelenteng juga pasti ada di pecinan untuk berfungsi sebagai lokasi ibadah.

Hampir di seluruh kota besar ada kawasan pecinan. Beberapa yang terkenal adalah di Jakarta, Singkawang, dan Semarang

Kota lama, pecinan di Semarang via hellosemarang.com

Di Jakarta, pecinan yang terkenal adalah kawasan Glodok, Jakarta Utara. Konon katanya pecinan ini adalah yang terbesar di seluruh dunia. Di sana kamu bisa menemukan jalan-jalan yang diberi nama unik yang penuh filosofi Tionghoa seperti Jalan Kesehatan, Jalan Kebahagiaan, dan lain sebagainya. Di sepanjang jalan, kamu akan mendapati pedagang segala sesuatu yang khas Tionghoa mulai dari makanan, permen, aksesoris, dan pastinya ada juga alat elektronik murah. Tak hanya ada kelenteng, di Glodok juga ada gereja dan masjid.

Pecinan di Singkawang, Kalimantan Barat, juga tidak kalah khas. Keturunan Tionghoa di sana membentuk pemukiman yang unik, sekaligus membaur dengan penduduk lokal dengan baik. Setiap tahunnya, perayaan Imlek di Singakawang juga sangat meriah hingga mengundang turis mancanegara. Di Semarang, pecinan terletak di kawasan kota lama. Ada 11 kelenteng besar di wilayah ini yang membuat Semarang dijuluki Kota 1001 Kelenteng. Yang paling terkenal adalah kelenteng Sam poo Kong yang menyimpan jangkar dan kemudi milik Laksamana Cheng Ho.

Tak hanya di Indoensia, pecinan atau Chinatown juga ada di seluruh dunia

Vancouver, pecinan di Kanada via insidenanabreadshead.com

Sudah terkenal luas bahwa orang tiongkok gemar meninggalkan tanahnya untuk merantau. Karena itu pula, keturunan Tionghoa ada di seluruh dunia dan kewarganegaraannya juga sudah berbeda-beda. Tak hanya di Indonesia, pecinan juga dikenal secara internasional dengan nama Chinatown.

Di Australia, Chinatown ada di Melbourne dan disebut-sebut sebagai chinatown tertua di dunia. Di Bangkok, ada pecinan Yowarat yang sepanjang jalan dipenuhi pedagang kali lima yang berjualan kuliner khas Asia. Di Afrika Selatan, pecinan ada di Commissioner Street dan menjadi surga bagi shoppaholic. Lalu di Kanada, pecinan ada di Vancouver dengan semboyannya yang unik: “Forget Hongcouver, here comes Chinada!”

Etnis Tionghoa tidak bisa dipisahkan dengan budaya Indonesia. Keberadaan keturunan Tiongkok di Indonesia sudah dari sejak dulu kala. Meskipun saat ini konflik agama bercampur politik dan ekonomi sedang panas-panasnya, keberagaman tetaplah harus dihargai sebagaimana semboyan bangsa.

Nah, saat ini warna merah dan emas sudah bertebaran di mana-mana. Patung naga dan lampion sudah mulai menghiasi berbagai sudut kota. Perayaan imlek identik dengan kesemarakan. Apakah tahun ini kamu juga akan dapat angpao? Gong Xi Fa Cai!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya