“Hidupku bukan aib. Semua masalah berat yang kualami justru bikin aku lebih kuat. Karena itulah aku mau membagikannya buat kalian,” kata Jihan.

Jihan bukanlah perempuan biasa. Sejak mengenalnya sembilan tahun lalu, saya melihat ada yang luar biasa darinya. Kami berdua sebaya, sama-sama 24 tahun. Namun masalah hidup yang dia alami jauh melebihi umurnya. Sangat berat dan seolah tiada henti.

Advertisement

Sore itu saya menemui Jihan di sebuah kafe dalam mal. Dia sudah datang lebih dulu, tampil menawan dalam baju gelap bermotif army. Rambutnya yang panjang tergerai bebas dan membingkai wajahnya yang cantik. Dia tampak sibuk mondar-mandir memesan minuman saat saya datang.

Dua anak kecil menunggu di meja tak jauh dari sana. Mereka bukanlah adik atau kenalan Jihan. Namun, mereka adalah anak-anaknya. Dua anak kandung yang dilahirkan dan dibesarkan sendiri oleh Jihan. Anak pertamanya laki-laki, bermata sipit dan berusia 6,5 tahun. Sedangkan anak keduanya perempuan, bermata besar dan berusia 4 tahun. Mereka memang memiliki ayah yang berbeda.

Aku udah menikah dua kali. Yang pertama karena terpaksa. Soalnya aku terlibat pergaulan bebas waktu kelas 2 SMA. Terus hamil di luar nikah.

Semua masalah akhirnya membuatku lebih kuat. Ilustrasi (Photo by Chad Madden on Unsplash) via unsplash.com

Advertisement

Di saat saya masih betah saja menyandang status lajang, Jihan sudah menikah dua kali. Di usia 17 tahun, dia mengandung dan melahirkan seorang bayi di luar pernikahan. Dia bahkan dipaksa untuk mengundurkan diri dari sekolahnya. Masih muda dan kebingungan, Jihan berharap mendapat bantuan dari sekitarnya. Namun kenyataan berkata lain.

Semua keluarga ninggalin aku saat hamil. Apalagi bapaknya anakku nggak mau tanggung jawab. Rasanya aku bener-bener sendirian. Sedih dan kesepian…

Sejak dulu, keluarga Jihan yang miskin dan broken home memang kurang baik hubungannya. Bertengkar adalah ‘makanan’ sehari-hari di rumah. Sulitnya kondisi ekonomi juga membuat Jihan harus bekerja sejak kecil. Bahkan dia pernah terpaksa terjun ke dunia malam. Hinaan dan cacian pun datang dari segala arah.

Setelah anak pertamanya lahir, kondisi Jihan mulai membaik. Dia bertemu seorang lelaki paruh baya yang lebih tua 29 tahun. Namun jarak usia tersebut tak menghalangi cinta. Sebulan setelah bertemu, lelaki itu meminang Jihan untuk menjadi istri keduanya. Jihan pun setuju. Dia bercerai dengan suami pertamanya dan menikah lagi. Kondisi ekonominya pun membaik, begitu pula kondisi mentalnya. Apalagi setelah dia dikaruniai anak kedua dari suami yang sekarang.

Maka tak heran jika Jihan tampak ceria saat bertemu saya. Sembari mengasuh kedua anaknya dengan penuh kasih sayang, dia bercerita panjang lebar. Sejujurnya itu adalah wawancara dalam suasana tergaduh yang pernah saya lakukan. Selain karena anak-anaknya berebut perhatian, di dekat kami juga sedang digelar lomba cheerleader dengan musik yang keras. Kekacauan ini seolah menggambarkan hidup Jihan yang penuh kejutan.

Jihan pun menceritakan satu per satu kisah hidupnya. Dia juga berbagi tips dan saran untuk melalui masa sulit. Salah satunya adalah memaafkan diri sendiri. Berikut ini ceritanya.

“Aku mengalami masa tersulit saat hamil di luar nikah. Keluargaku pergi semua, sementara uang sepeser pun tak ada”

Kesedihan paling dalam adalah ketika merasa ditinggalkan. Ilustrasi (Photo by Aliyah Jamous on Unsplash) via unsplash.com

Waktu kelas 2 SMA, aku terlibat pergaulan bebas. Terus hamil di luar nikah. Keluargaku juga ninggalin. Jadi aku bener-bener sendiri. Apalagi bapaknya anakku nggak mau tanggung jawab. Wah sedih banget rasanya, udah nggak punya uang, ditinggalin orang lagi.

Saking miskinnya, aku bahkan nggak punya nasi buat dimakan. Jadi sehari-hari cuma makan beberapa butir rambutan yang jatuh dari pohon di halaman rumah. Bahkan aku harus ngemis di jalanan pas lagi hamil.

Untungnya aku dipanggil ke posyandu. Di sana ketemu sama mahasiswa yang kerja praktik dan lagi cari pasien. Aku dikasih uang 100 ribu tiap kali jadi pasiennya. Karena nggak punya kendaraan, aku harus jalan kaki 4 kilometer ke posyandu itu, padahal lagi hamil besar. Tapi rasanya seneng karena bakal dapet uang.

“Walau ‘dikeluarkan’ dari sekolah karena hamil, aku tak lagi menyimpan dendam pada mereka”

Waktu SMA, pihak sekolah memaksa aku buat mengundurkan diri karena hamil. Tapi ya udahlah, itu kesalahanku, bukan kesalahan mereka. Ini sesuatu yang harus aku tempuh. Aku kejeglong (jatuh) di sini, bukan berarti aku gagal. Yang penting aku udah pernah sekolah di sini dan ketemu orang-orang yang masih peduli sama aku. Jadi aku nggak pernah nyalahin pihak sekolah. Dendam pernah ada, tapi cuma sebentar aja.

“Lelaki yang menghamiliku tak mau memberi nafkah. Justru dia memberiku cobaan bertubi-tubi”

Setelah aku hamil, kami berdua terpaksa menikah. Tapi dia nggak mau menafkahi aku. Suamiku yang masih sama-sama remaja ini seolah nggak peduli sama penderitaanku. Dia malah selingkuh dan main perempuan pas aku kerja. Dia juga melakukan pencurian dan penggelapan sepeda motor. Bahkan dia menipu pakai rekening atas namaku. Jadi aku yang di-black list sama bank, padahal nggak tau apa-apa.

Suatu hari aku dan suamiku berantem, bahkan sampai pukul-pukulan. Terus aku bersumpah, “Nanti kalau ada laki-laki yang mau menerimaku, kamu kutinggalin.”

“Syukurlah aku menemukan kekuatan dari janin yang kukandung. Berkat anakku, pelan-pelan aku bangkit kembali”

Sumber kekuatan baru. Ilustrasi Photo by Bich Ngoc Le on Unsplash via unsplash.com

Pas bener-bener frustrasi, aku cuma mikir kalau harus ngelahirin anakku dulu. Aku yakin kalau aku pasti kuat.

Setelah anakku lahir, aku berusaha bangkit dengan cara bekerja. Soalnya kalau nggak kerja, keluargaku nggak bisa makan. Soalnya bapakku pengangguran. Akhirnya aku pun kerja, sementara Ibu yang jaga bayiku. Padahal Ibu juga sedang hamil 9 bulan. Jadi keluarga kami betul-betul terpuruk. Tapi ya udahlah aku kerja, kerja, dan kerja.

“Walau sempat ingin bunuh diri, aku berhasil mengurungkannya. Lebih baik tetap bertahan demi orang-orang yang kusayang”

Perasaan ingin bunuh diri itu ada, tapi aku tepis. Aku di sini udah menderita, nggak mau kalau di alam sana menderita juga. Lagian kalau bunuh diri, masalah nggak akan selesai. Orang-orang yang ditinggalin juga gimana masa depannya? Padahal aku harus menyokong anak-anakku. Akhirnya aku terus berusaha dan berdoa. Kembali ke Allah dan sembahyang. Aku pengen Allah membantu aku.

“Lahir di keluarga miskin membuatku harus bekerja sejak kecil. Namun itu membuatku lebih kuat dan tangguh”

Aku anak sulung dari 5 bersaudara, satu-satunya yang perempuan. Keluarga kami miskin dan broken home. Bapakku pengangguran, makanya Ibu yang jadi tulang punggung keluarga. Aku juga sering lihat orangtuaku berantem. Apa dulu aku ketemu pergaulan bebas karena nggak nemu ketenangan di rumah? Aku nggak bisa menyalahkan orang lain sih. Pada akhirnya aku yang melakukan. Aku juga nggak pernah dendam dan nyalahin orangtuaku.

Karena kondisi keluarga, waktu SD aku udah jualan makanan kecil. Aku juga kerja jadi pembantu temen sekolahku waktu SMP. Walaupun sambil kerja, aku nggak lupa rajin belajar dan syukurlah sering dapet nilai-nilai yang bagus.

“Karena terdesak ekonomi, aku pernah bekerja di dunia malam. Namun akhirnya aku sadar dan keluar dari sana”

Sempat terjerumus lebih dalam. Ilustrasi (Photo by Zach Guinta on Unsplash). via unsplash.com

Setelah dikeluarkan dari SMA dan melahirkan, aku sempat jadi sales konter HP selama sebulan. Kadang aku harus kerja bawa banyak barang sambil menggendong anakku. Karena terdesak ekonomi, setelah itu aku tergelincir ke dunia yang sama sekali nggak kusangka.

Aku sempat kerja di klub malam selama 8 bulan. Sampai akhirnya aku merasa ini bukan duniaku.  Apalagi saat melihat ada rekan kerja yang meninggal karena penyakit.

Di situ aku mulai takut, aku nggak bisa ada di sini terus. Kalau anakku tahu aku kerja di dunia seperti ini, pasti dia juga nggak terima. Di situlah aku merasa harus keluar dari dunia malam. Lagian masih ada banyak pekerjaan yang baik.

“Terkadang nasib baik datang tak terduga. Suatu hari, aku tak sengaja bertemu lelaki yang mengubah hidupku”

Uluran tangan datang saat tak terduga. Ilustrasi (Photo by Sweet Ice Cream Photography on Unsplash) via unsplash.com

Sebulan setelah keluar dari dunia malam, aku ketemu sama orang yang baik. Waktu itu aku sedang belanja malem-malem di supermarket. Terus ada bapak-bapak yang nggak sengaja menyenggol aku sampai jatuh. Agak kayak sinetron sih, hahaha. Karena beliau khawatir, aku diajak duduk dan dikasih minum. Mungkin kasihan sama aku. Terus beliau tanya-tanya sedikit dan akhirnya tahu kalau aku udah menikah dan punya satu anak yang berusia hampir 2 tahun.

Karena nggak tahan, aku kelepasan cerita banyak ke bapak itu. Beliau pun dengerin dengan sabar. Ujung-ujungnya, beliau nawarin pekerjaan buat aku. “Berapa gajimu yang sekarang? Dikali lima aja, nanti saya kasih segitu,” katanya. Kebetulan aku sedang cari pekerjaan. Pikirku waktu itu, aku mau nyelametin keluarga. Aku harus ngasih nafkah ke anak dan ibuku. Jadi akhirnya aku terima tawaran beliau walaupun ragu. Apalagi, bapak itu sempat ngasih uang untuk beli susu anakku.

Akhirnya aku pun kerja di tempat beliau. Ternyata bapak ini punya peternakan. Aku disuruh ngerawat kambing, nyari rumput di sawah, dan bersihin kotoran kambingnya. Kebetulan aku bisa ngelakuin karena punya pengalaman. Lokasi peternakannya 20 km dari rumahku. Karena nggak punya kendaraan, aku naik sepeda yang dipinjemin beliau. Jaraknya jauh banget tapi aku seneng-seneng aja karena bisa cari uang. Ternyata bapak itu ngamatin aku dan keheranan, soalnya aku nggak kayak perempuan pada umumnya.

“Setelah kami saling kenal cukup lama, bapak itu melamarku jadi istrinya. Bukan istri pertama, tapi kedua…”

Setelah satu bulan kerja di peternakan, bapak itu ngajak ngobrol serius. Ternyata selama ini beliau mencari istri kedua. Soalnya beliau sakit dan butuh dirawat, sementara istri pertamanya juga sakit. Kebetulan aku udah cerai secara agama dengan suami pertamaku, karena kami udah pisah ranjang lebih dari 4 bulan. Setelah kupertimbangin matang-matang, akhirnya aku menerima lamaran bapak itu. Apalagi istri pertamanya juga merestui.

Aku jadi istri kedua bapak itu secara siri (nggak resmi). Umur kami memang beda jauh. Sekarang aku masih 24 tahun, sementara bapak itu 53 tahun. Tapi nggak masalah, cinta kan nggak kenal umur.

Gimana dengan suami pertamaku? Aku mengurus perceraian secara resmi dengannya. Di tengah-tengah itu, aku dinikahi secara siri sama suami kedua. Kami tetap menikah siri sampai sekarang. Bersama suami baru yang jauh lebih dewasa dan ternyata pemilik perusahaan tambang, kondisiku jadi lebih stabil. Kini aku membaik secara mental maupun finansial.

“Walau hidupku sulit, aku selalu berusaha berpikir positif. Abaikan saja komentar buruk dari orang lain”

Pasti ada secercah cahaya di tengah kegelapan. Ilustrasi (Photo by Allef Vinicius on Unsplash) via unsplash.com

Berpikir aja kalau nggak akan ada cobaan yang melebihi kemampuan kita. Selama niat kita baik, pasti bakal dipertemukan sama orang baik dan jalan yang baik juga. Selama ini aku sering dihina karena kondisiku. Aku pernah dibilang perebut suami orang, wanita malam, dan orang miskin. Tapi akhirnya aku tepis itu semua.

Kalau masih dengerin kata-kata negatif orang lain, hidup kita nggak akan berkembang. Aku pun berusaha tutup telinga. Aku juga berusaha buktiin ke mereka kalau aku ini orang baik. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.

“Saat menghadapi masalah, aku hindari curhat di media sosial. Aku lebih suka curhat ke sahabat yang dipercaya”

Aku kenal sosmed belum lama sih, baru setelah anakku lahir. Dulu aku suka curhat tentang masalahku di sosmed. Tapi akhirnya berhenti. Karena kalau kita curhat di sosmed, nggak semua orang perhatian dan peduli. Kebanyakan malah mencela dan bikin kita makin terpuruk. Jadi kalau punya masalah, berdoa aja. Kalau udah bener-bener nggak kuat, ke psikiater. Kalau punya temen deket, mending curhat ke dia. Kebetulan aku punya seorang temen deket yang berpikiran positif. Berkat dia, perasaanku jadi lebih tenang.

“Aku sempat menyesali keputusan-keputusan yang kuambil. Namun syukurlah akhirnya aku berhasil memaafkan diri sendiri”

Waktu SMA, kan aku masih rentan. Saat itulah aku ngalamin kejenuhan yang luar biasa. Kenapa kok aku nggak bisa seperti teman-temanku yang bermain bebas? Kenapa setelah pulang sekolah aku harus bekerja? Kenapa dulu aku nggak disayang orangtuaku? Kenapa aku nggak dapet penghargaan walaupun pinter? Aku juga marah sama diriku sendiri. Harusnya dulu aku nggak terjerumus dalam pergaulan bebas dan hamil di luar nikah.

Pelan-pelan aku bisa memaafkan diri sendiri dengan berpikir kalau tiap orang pasti punya manfaat. Misalnya waktu aku hamil anak pertama dulu. Walaupun kondisinya sulit, aku mertahanin bayi di perutku karena yakin kalau dia nggak bersalah. Aku dikasih kesempatan sama Allah buat menghidupi seorang manusia.

Di situlah aku berusaha mengubah sudut pandangku. Daripada mikirin masa lalu yang negatif terus, lebih baik fokus ke masa sekarang. Berkat itu aku jadi lebih mudah memaafkan diri sendiri.

“Jika kalian sedang mengalami masalah sampai frustrasi dan putus asa, satu saja saran dariku: jangan menyerah!”

Pasti ada jalan untuk berdamai dengan diri sendiri. Ilustrasi (Photo by Mink Mingle on Unsplash) via unsplash.com

Setiap orang pasti punya masalah, tapi jangan berlarut-larut. Nangis boleh, teriak boleh. Luapin aja semua perasaanmu. Tapi setelah itu tidur dan berdoa. Pasti nanti ada jalan. Jangan lupa, kita dilahirkan di dunia pasti ada manfaatnya untuk orang lain. Sesulit apa pun kondisi sekarang, suatu saat kita pasti berhasil. Jangan kalah sama masalah. Masalah itu yang bikin kita kuat dan luar biasa. Kalau nggak ada masalah, malah kita mati. Makanya jangan hanya mengurung diri kalau ada masalah. Hadapi aja! Selalu berjuang, berpikir positif, dan berdoa.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya