Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Bahas Cara Bikin Konten Positif Anti Ujaran Kebencian di Media Sosial

Materi diberikan oleh Executive Producer Narasi yaitu Soni Triantoro dan acara dipandu oleh moderator Fiana Anindita Widyastuti

Pembuatan konten positif harus memperhatikan elemen-elemen yang digunakan seperti kata, bahasa, gambar visual dan makna yang disampaikan pada konten tersebut. Salah satu elemen utama dalam konten positif adalah elemen tidak mengandung ujaran kebencian serta hal-hal negatif di dalamnya.

Salah satu media atau platform digital yang memproduksi konten-konten positif untuk anak muda Indonesia adalah Hipwee. Hipwee berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi beserta Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk mengadakan kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital sebagai sarana belajar generasi muda Indonesia.

Ruang Belajar #MakinCakapDigital membicarakan tema terkait literasi digital yang bisa membantu anak-anak muda Indonesia mengembangkan diri dan bisa lebih bijak dan cakap dalam memanfaatkan teknologi digital.

Kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital yang digelar secara offline di MULA by Galeria Jakarta pada Sabtu, 10 Juni 2023 mengangkat topik tentang “Membangun Konten Positif, Anti Ujaran Kebencian di Medsos”. Pada kegiatan ini menghadirkan seorang Executive Producer Narasi yaitu Soni Triantoro. Acara ini dipandu oleh seorang moderator Fiana Anindita Widyastuti.

ADVERTISEMENTS

Perjalanan karier Soni dari Hipwee hingga Narasi

Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Bahas Cara Bikin Konten Positif Anti Ujaran Kebencian di Media Sosial

Soni Triantoro sebagai pemateri, Sabtu (10/06) | dok. Hipwee

Pada awal kegiatan Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee, peserta diajak untuk berkenalan dengan Soni Triantoro sebagai pemateri. Soni menjelaskan bahwa acara ini bukan kali pertamanya ia bekerja sama dengan Hipwee. Soni ternyata sudah menjadi bagian dari Hipwee  sejak tahun 2016, sebelum kemudian pindah ke Narasi pada tahun 2020.

Soni bergabung menjadi seorang Executive Producer pada divisi Najwa Shihab. Sesuai dengan namanya, divisi ini fokus kepada program yang talent-nya merupakan Najwa Shihab yaitu “Mata Najwa”. Program yang Soni pegang ini termasuk program unggulan milik Narasi.

ADVERTISEMENTS

Fenomena ujaran kebencian pada media sosial yang trennya meningkat

Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Bahas Cara Bikin Konten Positif Anti Ujaran Kebencian di Media Sosial

Peserta Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee, Sabtu (10/06) | dok. Hipwee

Soni menjelaskan bahwa saat ini banyak media sosial yang digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian. Salah satu contohnya adalah pergeseran yang terjadi di Twitter. Dahulu Twitter merupakan media sosial yang digunakan untuk mencari hiburan, namun saat ini banyak pengguna yang “marah-marah” di media tersebut. Contohnya pemberitaan guru di Lampung yang menikahi mantan siswanya yang sempat viral. Hal ini menimbulkan banyak ujaran kebencian karena status guru dan mantan siswa ini menimbulkan kesalahpahaman.

“Banyak orang yang comment marah-marah, kok jauh banget jarak usianya, terus ada juga yang bilang kalau pernikahan dengan jarak usia jauh bakalan nggak langgeng. Padahal faktanya mereka hanya selisih dua tahun, di sini ada kesalahan dari teks artikelnya juga sih”, ujar Soni.

Banyak orang Indonesia yang masih sulit melakukan verifikasi terhadap berita-berita yang beredar. Apabila ada informasi yang sedikit sensitif dan tidak disukai khalayak, mereka dengan mudahnya memberikan respon negatif disertai emosi tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu.

“Media sosial merupakan platform yang mudah untuk mengakomodasi emosi seseorang. Hal yang paling cepet diterima dan disebarkan di medsos itu ya emosi atau amarah. Sasaran ujaran kebencian ini bisa siapa saja”, jelas Soni.

Munculnya akun-akun anonim juga dapat meningkatkan penyebaran ujaran kebencian pada media sosial. Anonim dianggap sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab karena tanpa dikenali identitasnya mereka dapat dengan bebas menyebarkan hal-hal negatif.

Menurut Soni, penanganan ujaran kebencian ini dibutuhkan peran dari seluruh kalangan seperti pemerintah dan masyarakat. Dari segi pemerintah dapat dipertegas untuk masalah peraturan seperti UU ITE serta kebijakan lain. Kemudian dari segi masyarakat dapat meningkatkan kecerdasan digital seperti keterampilan emosi, keterampilan psikologi dan lain sebagainya.

“Kan ada ya namanya kecerdasan digital. Jadi kalau misal kita baru emosi harus bisa mempertimbangkan apakah dengan posting di media sosial dapat menyelesaikan masalah atau malah memperburuk situasi”, lanjut Soni.

ADVERTISEMENTS

Tips membangun konten positif anti ujaran kebencian di media sosial

Ruang Belajar #MakinCakapDigital Siberkreasi X Hipwee Bahas Cara Bikin Konten Positif Anti Ujaran Kebencian di Media Sosial

Para peserta Ruang Belajar #MakinCakapDigital, Sabtu (10/06) | dok. Hipwee

Soni menjelaskan bahwa tipe konten yang dimiliki oleh media Narasi adalah konstruktif-optimis yang tidak semu. Dengan kata lain, konten-konten Narasi dibuat agar dapat menggerakkan audiens.

Konten yang positif itu adalah konten yang mengandung permasalahan. Nah dari permasalahan itu kita jawab dengan harapan. Salah satu konten positif di Narasi itu “Catatan Najwa”.

Pembuatan konten positif dapat terlihat juga pada konten-konten Narasi dalam program yang bernama “Catatan Najwa”. Dalam program tersebut Narasi sempat mengambil topik permasalahan dari mahasiswa angkatan 2020 yang selalu disebut-sebut sebagai “angkatan corona”.

Mahasiswa angkatan 2020 dianggap belum memiliki pengalaman apapun dan tiba-tiba harus berkuliah secara online melalui Zoom dan aplikasi pendukung lainnya. Melihat permasalahan ini, tim Narasi membuat konten-konten yang bertujuan untuk memotivasi mereka dengan kalimat-kalimat membangun dan disampaikan langsung oleh Najwa Shihab.

Pembuatan konten positif juga memiliki sebuah tantangan dalam topik-topik yang menyangkut politik. Dalam politik saat ada seorang creator membuat konten yang baik terhadap suatu kalangan dapat dianggap sebagai bentuk dukungan dan menimbulkan ujaran kebencian serta polarisasi.

Soni menjelaskan bahwa solusi dari hal tersebut adalah tetap meningkatkan kecerdasan digital pada setiap individu untuk selalu menjaga lisan dan tulisan di media digital. Namun, pemahaman dasar tentang politik untuk generasi muda harus tetap digencarkan agar mereka semakin memahami dunia politik dengan pemikiran terbuka dan dapat turut berpartisipasi.

Masih banyak topik-topik menarik dan relatable dalam dunia digital yang akan dibahas dalam kegiatan #MakinCakapDigital selanjutnya. SoHip semuanya jangan lupa untuk follow akun Instagram @siberkreasi untuk mendapatkan update kegiatan #MakinCakapDigital selanjutnya.

SoHip juga bisa mengakses laman literasidigital.id untuk mendapatkan beragam konten panduan berinternet, serta konten bermanfaat lain mengenai pemanfaatan teknologi digital secara positif. Terus berkarya dan berkembang ya SoHip~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

All the beautiful things are around you <3

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE