Iklim Media Digital Hari Ini dan Mereka yang Hadir Sebagai Media Alternatif

Diskusi Berani Baik lewat Konten Digital

Sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi digital, kita hampir nggak pernah lagi mengakses informasi melalui media cetak seperti koran atau majalah. Sebagai gantinya kita mengandalkan media digital yang memang telah mengungguli media cetak dari segala sisi, mulai dari jumlah konten, kecepatan, dan terpenting mudah diakses melalui gawai.

Advertisement

Hanya saja, segala keunggulan media digital hadir bukan tanpa cela. Kecepatan yang menjadi andalan kebanyakan media digital hari ini, tak jarang harus dibayar wartawan ataupun penulisnya dengan konten-konten yang clickbait dan kontroversial. Hal ini tak lain untuk memenuhi tuntutan produksi konten dan pemasukan bagi perusahaan media yang bergantung kepada traffic.

Konten kurang baik cenderung menawarkan traffic yang bagus

Dalam sesi pertama diskusi Berani Baik lewat Konten Digital yang diinisiasi Hipwee dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi, penulis sekaligus Kepala Suku MOJOK Puthut EA mengatakan, pemberitaan atau konten kontroversi terbukti dapat mendatangkan traffic yang bagus terhadap sebuah media. Oleh karena itu, menurutnya menjadi masuk akal kalau saat ini ada ekosistem media digital yang mengarah kepada produksi konten kurang baik atau kontroversi.

“Persaingan media digital memang sedang tidak baik-baik saja. Salah satu cara mendapatkan revenue dan traffic yang bagus adalah dengan membuat kontroversi. Dari situ kita tahu, meski tidak tepat, hal ini masuk akal,” ujar Puthut, Jumat (24/9).

Advertisement

Puthut melanjutkan, awak media digital hari ini bukan nggak mampu memproduksi pemberitaan atau konten bermutu. Hanya saja, menurutnya untuk pemberitaan atau konten yang bermutu tersebut dibutuhkan dana dan energi yang besar. Di tengah model bisnis yang nggak cukup menguntungkan, hal ini tampak seperti bukan pilihan.

“Untuk membuat konten yang bermutu dibutuhkan dana dan energi yang besar, sedangkan untuk mendapatkan hal tersebut saat ini nggak mudah.  Bebannya ganda. Sementara untuk menuliskan konten yang kurang baik itu bebannya lebih sederhana,” terang Puthut.

Advertisement

Perlu disrupsi model bisnis untuk media digital keluar dari jerat traffic

Bersepakat dengan itu, praktisi media sosial Wicaksono atau yang lebih akrab dikenal sebagai Ndoro Kakung mengatakan, pengelola media digital perlu untuk menciptakan disrupsi model bisnis yang menguntungkan. Hal ini penting demi keluar dari jerat traffic yang pada akhirnya memaksa produksi konten-konten kurang baik.

“Semua pengelola media punya pekerjaan rumah yang besar, yakni bagaimana membuat disrupsi model bisnis yang menguntungkan. Sebagai masyarakat kita membutuhkan media yang kredibel sebagai pilar keempat demokrasi,” kata Wicaksono.

Hanya saja, menurut Chief of Content Narasi TV Zen RS, untuk dapat menemukan model bisnis baru saat ini semakin sulit. Ekosistem media digital sudah terlalu lama hidup dalam algoritma yang mengandalkan traffic. Lagi pula, Zen menilai usaha mencari model bisnis baru, seperti sistem berlangganan, banyak dilakukan pengelola media digital ketika sudah terdesak.

“Karena mengandalkan traffic, berita kontroversial menjadi keluhan yang cukup intens dari masyarakat terkait performa dan kinerja media. Dan untuk entas dari model bisnis tersebut kian sulit karena ekosistemnya sudah terbentuk. Usaha mencari model bisnis baru juga banyak dilakukan ketika sudah kepepet,” kata Zen.

Media alternatif jadi peluang bagi konten-konten baik

| dok. Tangkapan layar

Meski iklim media digital hari ini nggak baik-baik saja dan cenderung tidak menguntungkan, bukan berarti tidak ada ruang untuk media yang berkomitmen memproduksi konten-konten positif. Dengan menggunakan pendekatan yang berbeda dari media digital pada umumnya, kita mengenal istilah media alternatif.

Sesuai namanya, media alternatif adalah bentuk media yang tidak dominan, baik dari segi konten, cara produksi maupun cara distribusinya. Di Indonesia ada banyak media yang bisa kita masukkan ke dalam kategori tersebut. Folkative, Makna Talks, dan Asumsi bisa disebut media alternatif karena memiliki konten, cara produksi, dan distribusi yang cukup berbeda.

Sejumlah media alternatif tersebut hadir di belantika media digital dengan alasan yang cukup masuk akal, meski iklim media digital hari ini sedang tidak baik-baik saja seperti kata Puthut EA.

Iyas Lawrence dari Makna Talks mengatakan berani menjalankan platform yang ia gagas untuk memberikan sudut pandang baru terhadap sebuah informasi. Iyas juga mengatakan saat ini orang-orang bukan lagi butuh pemberitaan yang cepat, melainkan yang tepat dalam menganalisa. Dalam hal ini, media alternatif dapat melakukannya karena beban mereka nggak sebanyak media digital pada umumnya.

“Saat ini terjadi shifting, orang-orang nggak lagi bicara siapa yang lebih cepat mengeluarkan berita, tetapi siapa yang lebih tepat menganalisa sebuah isu,” ujar Iyas.

Media alternatif yang tidak bergantung kepada traffic menjadi solusi sementara untuk kita menikmati lebih banyak konten baik

Senada dengan Iyas, Richo Pramono dari Asumsi mengatakan dengan berfokus pada ketepatan, media alternatif hadir untuk lebih mewakili kebutuhan generasi kiwari. Ketika kebanyakan media digital fokus memproduksi hard news dan menerbitkannya secepat mungkin, media alternatif hadir dengan mengutamakan kebutuhan dan apa yang disukai pembaca.

“Media alternatif lebih fokus menganalisa isu dengan lebih komprehensif. Gue masih meyakini kalau kunci kesuksesan media alternatif itu needs dan likes. Kita memproduksi pemberitaan atau konten yang dibutuhkan dan disukai,” kata Richo dalam sesi diskusi Membangun Media Alternatif yang Anti-Mainstream dan Bebas Drama, Jumat (24/9).

Contoh lain dari apa yang disampaikan Richo dapat kita temukan dari Folkative. Enggan disebut sebagai media, Kenneth William mengatakan Folkative hadir tidak untuk menjadi sekadar pembawa berita. Lebih daripada itu, platform yang ia gagas ingin membangun komunikasi dua arah melalui konten yang dipublikasikan melalui media sosial.

“Folkative berjalan dengan visi memanusiakan media. Maksudnya, gue ingin membangun komunikasi dua arah dengan audiens. Folkative nggak bawain informasi seabrek dan harus lo terima. Folkative ibarat teman yang datang bawa informasi ke tongkrongan, dan minta feedback lo untuk informasi tersebut,” jelas Kenneth.

Untuk saat ini, kehadiran media alternatif yang tidak bergantung kepada traffic dapat menjadi solusi sementara untuk kita menikmati lebih banyak konten-konten baik. Lebih jauh, seperti kata Wicaksono, pengelola media digital perlu memikirkan disrupsi model bisnis yang lebih menguntungkan, sehingga media digital tidak perlu mengorbankan mutu pemberitaan atau konten untuk tetap bertahan.

Wah, seru ya kalau membahas media seperti ini. Karena bagaimanapun media berperan besar dalam keseharian kita, khususnya sebagai sumber informasi bagi masyarakat umum. Pengin tahu lebih lanjut tentang #MakinCakapDigital? Nantikan acara selanjutnya dari Hipwee, Kominfo, dan Siberkreasi, ya! Untuk minggu ini bakalan ada kelas content creator bersama dengan Amrazing. Untuk info update-nya, kuy follow IG dan Twitter @hipwee~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

CLOSE