Sejujurnya, kalau bicara korupsi di Indonesia memang nggak ada habisnya. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga detik ini, kasus korupsi di negara kita tetap tak menemui titik terang; selalu saja ada kasus korupsi muncul tiap bulannya. Mulai dari pejabat kelas teri hingga mereka yang punya pangkat tinggi. Mencuatnya kasus korupsi di negeri ini seakan tak bisa dihindari.

Yang terbaru adalah terungkapnya kasus korupsi pengadaan e-KTP. Bahkan bukan lagi disebut kasus korupsi biasa, tetapi mega korupsi karena saking banyaknya pihak yang terlibat. Ditengah banyaknya kasus korupsi yang diberitakan tiap harinya, wajar sih jika banyak orang Indonesia merasa kalau negeri ini mungkin adalah negera terkorup di dunia. Salah juga sih anggapan tersebut. Sebenarnya masih banyak negara yang lebih korup dari Indonesia. Tapi ya mungkin setelah kasus mega korupsi ini, peringkat kita dalam daftar korupsi dunia bakal anjlok.

Menurut data terakhir, saat ini Indonesia menduduki peringkat 90  dari total 176 negara terkorup di dunia

Data terakhir di tahun 2016 via www.transparency.org.nz

Iya, kasus korupsi di Indonesia memang seperti kisah sinetron yang muncul di televisi nasional kita. Nggak ada habisnya. Setiap hari selalu ada saja kasus korupsi yang mencuat jadi headline berita. Sejak era penjajahan, era Orde Baru hingga sekarang, korupsi tetap ada di budaya Indonesia seolah sudah mendarah daging.

Meski begitu, ternyata posisi Indonesia tak seburuk itu di mata dunia. Menurut hasil riset Transparency International yang dikeluarkan tahun 2016 silam, posisi Indonesia berada di peringkat 90 dari 176 negara. Jauh lebih baik dari Filipina yang berada di peringkat 101 atau Rusia yang bertengger di peringkat 131. Kalau sekilas melihat hasil studi tersebut, seenggaknya peringkat Indonesia terlihat nggak jelek-jelek amat lah ya…

Banyaknya kasus korupsi yang terungkap maupun yang masih jadi rahasia umum, membuat kita yakin Indonesia adalah negara paling korup sedunia. Tapi nyatanya banyak yang lebih buruk

Advertisement

Banyak koruptor yang tertangkap. Yes! via tirto.id

Melihat hasil data tersebut, jujur saja ada perasaan aman dan mungkin sedikit bangga. Kasus korupsi tiap hari bermunculan, tapi ternyata posisi Indonesia masih jauh lebih baik dari beberapa negara lain dalam hal korupsi.

Dari 176 negara, posisi Indonesia berada di titik tengah separuhnya. Ranking 90 dari 176 nggak jelek juga, ‘kan? Turun sih dari peringkat tahun 2015, dimana Indonesia menempati peringat 88 dari 168 negara. Tapi masih bertengger di tengah-tengah lah. Jika melihatnya dengan sudut pandang yang lebih positif dan optimis, hasil survei tersebut bisa diartikan sebagai membaiknya Indonesia dalam hal penegakan hukum terhadap kasus korupsi. Meski masih banyak pejabat yang korupsi, tapi upaya pemberantasan lewat badan seperti KPK juga ternyata berjalan.

Namun jangan berpuas hati hanya karena peringkat yang ‘baik-baik’ saja. Meski bertengger di ranking tengah, masih banyak masalah riil terkait korupsi yang harus diselesaikan

Meski banyak yang ditangkap, tapi koruptor nggak pada jera via itoday.co.id

Hanya saja meski kita bangga dan merasa aman, tapi tetap saja ada perasaan takut dan was-was. Iya sih peringkat 90 dari 176 negara lain itu bukan peringkat yang buruk, namun peringkat tersebut tak bisa dipandang sebagai peringkat yang baik pula. Memang Indonesia lebih baik dari separuh negara lain, tapi artinya kita pun lebih buruk dari separuh negara lainnya.

Iya peringkat Indonesia memang 90 dari 176 negara, namun koefisien nilainya sejatinya tetap rendah. Dari skala 0-100, nilai Indonesia berada di angka 37. Jauh di bawah Denmark di peringkat satu dengan nilai 90. Belum lagi jika melihat daftar panjang pejabat-pejabat yang terjerat kasus korupsi namun masih belum diproses secara hukum karena berbagai alasan, tentu perasaan was-was atas masa depan bangsa tetap ada.

Ah, entahlah. Indonesia dan korupsi memang susah dipisahkan. Meski sudah banyak koruptor yang tertangkap dan dijatuhi hukuman, seakan tak punya rasa takut masih ada saja koruptor lain yang muncul di pemberitaan. Mungkin urat malu koruptor tersebut sudah putus, ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya