Artikel ini dipersembahkan oleh Search For Common Ground Indonesia, organisasi non-profit di bidang bina damai dan transformasi konflik, khusus untuk kamu.

“Pak, tolong, pak. Pak, tolong jangan disita barang dagangan saya,” mohon seorang ibu kepada petugas Satpol PP Serang sambil menangis.

Peristiwa tersebut tertangkap kamera dan tayang pada sebuah acara berita di salah satu stasiun televisi. Ibu Saeni, pemilik warteg yang dirazia tersebut, dianggap mengganggu yang sedang berpuasa Ramadan karena berdagang di siang hari.

Bu Saeni saat barang dagangannya disita. via cdn-2.tstatic.net

Melihat dan mendengar wanita itu menangis, masyarakat pun banyak bersimpati. Berbagai gerakan digalang secara online untuk membantu Ibu Saeni. Tak hanya mengganti makanan jualan beliau yang disita. Uang hasil galangan itu bahkan cukup jika beliau mau membuka warung — bahkan restoran — baru. Uniknya, selain menjadi “magnet” dana bantuan, Ibu Saeni juga memancing perdebatan di media sosial. Kamu dan teman-teman mungkin juga ikutan berdiskusi dan menanyakan hal-hal di bawah ini:

“Maksudnya gimana ya, kesucian Ramadan bisa terganggu sama orang yang mencari nafkah halal?”

“Kalau soal hak, bukannya Mbak-mbak yang lagi haid/orang-orang non-muslim juga punya hak untuk makan? Nggak kasihan mereka harus makan sembunyi-sembunyi?”

“Ah tapi ‘kan itu terjadi karena kebijakan atau local wisdom yang berlaku di sana?”

“Nggak salah-salah amat kok itu Satpol PP kalau kita lihat dari sisi peraturan yang berlaku di sana, ya ‘kan?”

Bulan Ramadan adalah bulan suci. Hampir semua orang setuju kalau bulan Ramadan memiliki keistimewaan sendiri. Bahkan bagi orang-orang non muslim di Indonesia. Tak sedikit dari mereka yang merasakan juga Ramadan. Ramadan sudah menjadi budaya sendiri di Indonesia. Nah, untuk meramaikan diskusi Ramadan tahun ini,  Hipwee berhasil ngumpulin pendapat temen-temen kita yang non-muslim nih soal puasa. Kalau kita baca, semuanya bikin adem dan mengingatkan kita tentang memaknai kata toleransi yang seharusnya berjalan dua arah. Yuk langsung simak!

Kalau konteksnya saling menghormati, kata Kristian Dwi, apa iya kita benar-benar paham arti ‘saling’?

Memaknai kembali kata ‘saling’. via hipwee.com

Yang sering ada di masyarakat selama bulan puasa itu, adalah orang berpuasa yang minta warung makan ditutup. Orang yang nggak puasa diharapkan tahu diri, supaya yang berpuasa bisa beribadah dengan khusyuk. Jadi kalau yang mereka canangkan adalah jargon ‘saling menghormati’, rasanya kurang tepat deh.

“Kalau mintanya saling menghormati, apakah iya kita saling menghormati? Coba dalami dulu arti kalimatnya. Saling itu ‘kan berarti ada dua pihak melakukan hal yang sama,” ujar Kristian.

Saat kuliah, Kristian mengaku punya banyak sahabat muslim dan dia merasakan arti saling menghormati yang sesungguhnya. “Ada kala saya nggak sengaja minum di depan mereka (ya karena saya nggak sadar aja). Tapi kalau saya sedang ngeuh, saya biasanya suka bilang maaf terlebih dahulu sebelum minum atau makan.”

“Mereka adalah cerminan orang yang asik untuk diajak saling menghormati. Yang bikin aku takjub itu ketika mereka bilang, hal-hal seperti itu yang sebenarnya bisa menguji puasa mereka. Ada juga yang bilang bisa nambah pahala puasa,” tutup Kristian.

Kalau kita yang puasa, kata Franciscus Anton, jangan sampai menuntut lingkungan kita harus berubah sesuai keinginan kita.

“Ambil sisi baiknya saja.” via scontent-sit4-1.cdninstagram.com

Beberapa hari yang lalu, Hipwee bisa ngobrol-ngobrol santai nih sama anak Semarang yang satu ini. Dalam agamanya, kata Franciscus, ada juga puasa. Ia pun mengaku kerap melakukannya di hari biasa pada Senin dan Kamis. “Kalau kita bisa ambil baiknya, bukannya bisa menambah pahala ya kalau makin banyak cobaan. Kita puasa dengan lingkungan sekeliling yang mendukung mungkin tantangannya akan kurang. Istilahnya kurang greget,” ungkapnya.

Franciscus juga ikut berbicara soal peristiwa yang menimpa Ibu Saeni yang viral di berbagai media. Menurutnya, toleransi pada bulan puasa harusnya berjalan dari dua sisi. “Kalau kita puasa, tapi maksa orang buat nggak berjualan dan tidak makan di depan kita, berarti niat kita berpuasa belum tulus dong. Saya juga belum pernah dengar ada orang yang sedang berpuasa dipaksa makan atau minum sama orang yang nggak berpuasa.”

“Di sisi lain, orang yang tak berpuasa sebisa mungkin bisa menjaga kelakuannya di depan orang yang sedang puasa. Jangan berpura-pura gila dan mengganggu orang yang sedang berpuasa.”

“Sebelumnya sih melihat bulan puasa sebagai momen nggak makan dan nggak minum doang, tapi…”

“Ramadan ternyata nggak cuma nahan makan dan minum saja.” via www.instagram.com

Nama lengkapnya Rani Wijayanti. Cewek asal Bali tersebut pernah tinggal di Semarang dan hidup sebagai minoritas di sana. Namun teman-temannya tak membatasi pertemanan dan adanya menerima perbedaan. Rani mengatakan, Ramadan itu momen yang langka dan seru. Pokoknya, kata Rani, momen puasa itu soal empati, rispek, dan kebersamaan.

“Empati karena suka ikut puasa, merasakan nahan lapar dan haus, bahkan sampai nahan emosi. Serunya momen pas mau buka, join sama temen-temenku muslim buat rebutan nyari tempat makan, terus ikutan serunya bukber,” ucap Rani.

Tadinya, Rani berpikir kalau Ramadan hanyalah momen di mana muslim nggak makan dan nggak minum doang. Sebatas itu. Namun, ketika tinggal di Semarang, ia malah tertarik dengan puasa. “Sempet ikutan puasa, jadi aku merasa puasa itu lebih dari nahan makan atau minum. Puasa itu jadi momen yg ditunggu-tunggu temen muslim. Momen bersama buat bener-bener menjaga diri, jaga sikap, jaga omongan. Momen kebersamaan karena jadi sering silaturahmi dan pengen silaturahmi. Dan itu nular ke temen-temen yang non muslim.”

Dalam menanggapi banyaknya isu yang berpotensi memecah belah umat beragama di Indonesia, Rani menginginkan teman-teman muslim bisa lebih tenang dan tidak mudah termakan isu-isu yang bisa memperpecah integrasi. “Mungkin kalau ada isu-isu kayak gitu temen-temen muslim bisa balik lagi ke maknanya bulan Ramadhan. Momen bersama juga buat memperbaiki perilaku.”

“Hanya karena kita mayoritas, kita bisa menekan orang yang minoritas untuk menghormati. Intinya sih ya saling memahami.”

Ketika ditanya soal puasa, Armando Radityawan mengaku jadi teringat  masa kecilnya. Pasalnya, ia pernah punya cerita lucu. Dulu, kata Armando, pernah ikutan puasa waktu zaman SD. “Terus pas waktu buka datang, aku kalap, langsung makan nasi plus lauknya. Nggak  lama aku langsung sakit perut dan dikasih tahu temenku. Buka puasa tuh harus pelan-pelan dan mulai dengan yang manis-manis.”

Menanggapai kasus yang menimpa Ibu Saeni, cowok lahir 26 tahun lalu tersebut mengecam terhadap tindakan Satpol PP dan aparat yang terlibat. Ia berkata, “Ngakunya berdasar negara Pancasila, tapi kelakuan nggak banget. Di beberapa daerah, memang banyak peraturan yang dibuat berdasarkan nilai agama. Tapi tetep ‘kan, pasti ada orang non atau yang lagi berhalangan puasa.”

Dalam memaknai Ramadan, Armando mengaku kala bulan puasa datang, suasana di lingkungannya terasa lebih tenang. Ia merasa teman-teman di kantornya pun menjadi sama, Selain itu, Armando juga punya keinginan dari orang-orang yang menjalankan puasa.

“Di sini, temen-temenku juga paham kalau aku lagi lapar atau haus. [Jangan sampai] Hanya karena kita mayoritas, kita bisa menekan orang yang minoritas untuk menghormati. Intinya sih ya saling memahami,” ujar Armando

Toleransi itu, kata Michelle, mesti dua arah. Yang nggak puasa menghormati yang puasa, begitu juga sebaliknya.

“Suasana Ramadan juga aku rasakan, walaupun aku bukan Muslim.” via 2.bp.blogspot.com

“Yang terpenting adalah tidak melakukan tindakan kekerasan dalam hal apapun,” tutur cewek berusia 25 tahun tersebut.

Menurut pandangan cewek bernama Michelle Winowatan, Ramadan adalah bagian dari budaya bersama rakyat Indonesia. Bulan Ramadan seperti momen besar untuk bersama-sama menjadi orang yang lebih baik dan lebih sabar. “Suasana ini aku rasakan juga walaupun aku bukan Muslim,” ungkap Michelle.

Michelle punya harapan kalau orang Islam benar-benar memaknai Ramadan itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

“Aku sendiri bisa cukup merasakan perbedaan saat bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya. Rasanya orang-orang lebih ramah, lebih sabar, lebih kalem aja gitu.”

Namun ketika dengar berita razia warteg, Michelle mengaku sedih. Suasana Ramadan tak lagi damai dan tenang. Ia ingin tak ada lagi yang intoleransi, baik di bulan Ramadan atau lainnya.

Soal bagaimana harusnya orang muslim memandang yang non muslim, menurut Michelle, harusnya bersikaplah biasa seperti bulan-bulan biasanya.

“Buatku toleransi bukan hanya saat bulan-bulan tertentu, tapi sesuatu yang harus dipelihara terus menerus,” tutup Michelle.

“Memaknai Ramadan secara religius, tak hanya tradisi yang jadi tanpa makna, melainkan dapat lebih mendekatkan diri kepada pencipta dan menjunjung tinggi kemanusiaan.”

Kris Tan via www.kristan.me

“Saya hidup di tengah-tengah lingkungan muslim. Bahkan nenek buyut kami banyak keluarga yang muslim. Namun saya sendiri seorang Konghucu. Kakek buyut kami tionghoa, sedangkan nenek buyut saya ali Indonesia.”

Kris Tan juga berbagi cerita saat masa kecilnya. Setiap maulid nabi, di klenteng, Kris Tan dan keluarga ikut merayakan syukuran sebagai wujud penghormatan kepada leluhurnya, Eyang Surya Kencana, yang beragama Islam. Selain itu, Kris Tan juga sering ikut kawan-kawan muslimnya membangunkan orang-orang  untuk sahur. “Dengan kawan-kawan muslim, sambil bawa kentungan, kami arak-arakan membangunkan orang sahur. Itu kami lakukan hampir setiap sahur karena kami kebetulan pas libur sekolah. Sangat asyik,” tutur Kris.

“Saya berharap dengan berpuasa orang muslim dapat lebih memaknainya dengan secara religius, tidak hanya tradisi yang tanpa makna, melainkan dapat lebih mendekatkan diri kepada pencipta dan menjunjung tinggi kemanusiaan berbagi satu sama lain membantu yang kekurangan bergandeng tangan tolong menolong,” kata Kris ketika ditanya harapannya untuk masyarakat muslim saat Ramadan.

“Dalam menghargai orang yang tidak berpuasa, orang muslim inginnya tidak menjadi terlalu arogan dan justru membuat orang yang tidak berpuasa menjadi terintimidasi atau merasa tidak nyaman. Saya berharap yang puasa menghargai juga yang sedang tak puasa dan begitu juga sebaliknya. Jadi maksud saya terjadi sebuah hubungan natural tanpa paksaan dalam saling menghargai pada momen puasa.”

Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Perbedaan sudah ada sejak awal perjalanan manusia. Selain asal-muasalnya yang berbeda, manusia juga mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang menjadi keinginan dan tujuannya. Untuk menjaga agar semua itu tetap sesuai dengan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai yang ditanamkan para pendiri dan pahlawan negera kita, yaitu persatuan dan kesatuan Indonesia. Maka jawaban yang tepat untuk itu adalah saling menghormati dan menghargai perbedaan itu. Apa pun itu, termasuk masalah agama.

Terlepas dari masalah toleransi di Indonesia, menyampaikan pendapat adalah hak setiap orang di Indonesia. Dan ketika kamu baca-baca komentar di atas pasti rasanya damai banget ya. Dengan bersikap open minded kamu pasti akan menerima pendapat tersebut sebagai refleksi untuk bersama. Jangan lagi ada tangis — bahkan darah — yang jatuh karena masalah intoleransi ya!

Hari kemenangan tinggal menghitung hari. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yang mampu menahan amarah dan hawa nafsu, serta mengedepankan dialog dengan kelompok yang berbeda pendapat dan pemikiran dengan kamu. Bukankah indah hidup bersama agar damai tercipta sepanjang masa? 🙂