Sebagai penduduk Indonesia, kita pastinya tahu dan bisa merasakan sendiri betapa meresahkannya permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di negeri ini. Hampir setiap hari rasanya ada aja kasus pencurian, begal yang berakhir tragis, atau pemerkosaan anak di bawah umur yang terjadi. Meski tiap negara pastinya punya masalahnya masing-masing, sebuah survei internasional baru saja menobatkan ibukota Indonesia, Jakarta, sebagai salah satu kota besar paling tidak aman di dunia. Khususnya buat kaum hawa.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation, Jakarta berada di peringkat 9 dari 10 kota paling berbahaya di dunia bagi perempuan. Jakarta adalah satu-satunya kota besar di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam peringkat ini. Tentu saja ini bukan prestasi yang patut dibanggakan. Sebelum marah-marah, tidak terima, dan mencurigai hasil survei ini berpihak, mungkin kita perlu pahami dulu kriteria dan cara penilaiannya. Bagi yang sudah merasakan sendiri betapa berbahaya sendiri Jakarta dan mungkin setuju dengan hasil survei ini pun, penting artinya untuk introspeksi dan bersama-sama mencari solusi supaya Indonesia jadi tempat yang lebih aman untuk kita semua. Yuk simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Begini hasil survei Thomson Reuters Foundation. Jakarta satu-satunya kota metropolitan paling nggak aman di Asia Tenggara

10 Kota yang paling berbahaya bagi perempuan via poll2017.trust.org

Advertisement

Survei yang dilakukan Thomson Reuters Foundation menanyakan kepada ahli yang berkompeten di bidang isu perempuan soal seberapa berbahayanya kota-kita metropolitan di seluruh dunia bagi perempuan. Survei ini pun memusatkan perhatian pada empat fokus utama, yaitu soal kekerasan seksual, kekerasan kultural (termasuk perceraian hingga menikah muda), pelayanan kesehatan, hingga kesempatan kerja. Hasilnya, Jakarta menempati peringkat 9 lho. Berikut ini urutannya:

  1. Kairo
  2. Karachi
  3. Kinshasa
  4. Delhi
  5. Lima
  6. Mexico City
  7. Dhaka
  8. Lagos
  9. Jakarta
  10. Istanbul

Berdasarkan penjelasan di laman resmi Thomson Reuters Foundation, terdapat empat kriteria utama dalam mengukur keamanan sebuah kota bagi perempuan. Keempat kriteria utama tersebut adalah tingginya angka kekerasan seksual, banyaknya praktik kultural yang mendiskriminasi perempuan, terbatasnya akses kesehatan bagi perempuan, dan keterbatasan peluang ekonomi. Dilihat dari empat kriteria tersebut, kesepuluh kota di atas, termasuk Jakarta, mencetak skor terburuk di dunia.

1. Tingginya angka kekerasan : peringkat 7. Kekerasan seksual kerap terjadi di Jakarta, mulai yang ringan hingga yang parah

Pelecehan seksual kerap terjadi via brilio.net

Advertisement

Pernah tahu istilah ‘cat calling’? Itu lho, tindakan merayu di jalan dengan memanggil-manggil atau menggoda yang biasanya ditargetkan pada perempuan. Sebenarnya tindakan ini sudah masuk ke kekeraasan seksual secara verbal lho. Padahal cat calling sering banget ditemui di Indonesia apalagi di kota besar seperti Jakarta.

Kekerasan seksual di Jakarta bahkan tergolong yang paling tinggi di seluruh Indonesia lho. Menurut catatan dari Komnas Perempuan, 2.552 kasus kekerasan seksual berasal dari Jakarta sendiri. Masih ingat kan soal maraknya pelecehan seksual di transportasi umum yang sering banget terjadi di Jakarta? Banyak pula yang sampai diperkosa dan dibunuh di tempat-tempat umum. Miris banget..

2. Banyaknya praktik kultural yang memarginalkan perempuan. Masalah perceraian hingga menikah muda juga jadi ancaman buat perempuan

Kekerasan dalam rumah tangga seringnya berujung perceraian via Tempo.co

Lagi-lagi ada angka dari Komnas perempuan yang menyebutkan bahwan kekerasan dalam rumah tangga dan angka perceraian di Indonesia termasuk Jakarta tergolong tinggi. Sebanyak 245.548 kasus kekerasan terhadap perempuan dicatat oleh pengadilan agama. Kebanyakan kasus kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga ini bahkan berujung perceraian.

Hmmm permasalahan nikah muda juga bukan masalah baru di negara kita. Meski saat ini banyak perempuan yang berkarier, dalam praktiknya masih banyak juga budaya menikah di usia muda. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa profesi yang mengharuskan tes keperawanan juga masih dilakukan. Hal ini dianggap tidak adil, menyusul tidak adanya persyaratan bagi laki-laki untuk melakukan tes keperjakaan.

3. Terbatasnya akses kesehatan bagi perempuan. Perempuan di Jakarta dinilai sulit mendapat pelayanan kesehatan dengan cepat

Pelayanan kesehatan terutama yang berhubungan dengan ibu dan anak perlu ditingkatkan via babycenter.com

Pertengahan Oktober lalu, seorang wanita terpaksa melahirkan di dalam mobil polisi karena tidak sempat untuk dilarikan ke rumah sakit. Perempuan bernama Fitri tersebut tidak kunjung mendapat taksi dan alat transportasi lain yang mau membawanya ke RS Koja Jakarta Utara, akhirnya ia bertemu dengan mobil dinas penerangan keliling Binmas Polres Metro Jakarta Utara.

Kejadian ini membuktikan bahwa perempuan dan pelayanan kesehatan masih tergolong kurang efektif di Jakarta. Selain penduduk Jakarta yang memang sangat padat dan jalanan yang macet, pelayanan kesehatan terutama bagi perempuan dan ibu melahirkan dinilai tidak sigap.

4. Keterbatasan peluang ekonomi : peringkat 13. Satu-satunya kriteria di mana Jakarta tidak masuk peringkat 10 negara terburuk di dunia

Kesempatan kerja di Jakarta sedikit lebih baik daripada kota-kota terburuk lainnya via bisnis.liputan6.com

Tetapi ada sisi yang lumayan positif yang terlihat dari hasil survei ini. Jika fokus pada kesempatan ekonomi, edukasi, dan persaingan kerja, Kota Jakarta menempati urutan ke-13. Angka ini memang bukan angka yang membanggakan, tapi seenggaknya Jakarta tidak termasuk 10 besar di kategori ancaman persaingan ekonomi bagi perempuan. Dari rata-rata peringkat di keempat kriteria tersebut, Jakarta akhirnya bertengger di posisi ke-9 secara keseluruhan.

Meski hasil survei ini jelas mengecewakan dan membuat nama bangsa tercoreng, tapi setidaknya kita jadi sadar untuk berbenah. Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang seringnya jadi kiblat metropolitan dan tren kekinian, tidak seharusnya menjadi kota yang berbahaya untuk dihuni, termasuk bagi perempuan. Bukan hanya Jakarta, pembenahan kultur kekerasan dan ancaman kriminal juga harusnya diperhatikan di seluruh kawasan Indonesia. Peran pemerintah dan kesadaran masyarakat benar-benar sangat  diperlukan lho guys.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya