Menilik Sulitnya Korban Kekerasan Seksual Menempuh Jalur Hukum, Cukup Rumit dan Berbelit

Kasus kekerasan seksual

Pandemi sudah berlalu selama kurang lebih dua tahun lamanya. Sejak itu, orang-orang banyak yang kemudian melakukan aktivitas di rumah. Akan tetapi, semua itu sepertinya tak menghalangi para penjahat melakukan tindak kekerasan seksual. Berdasarkan data yang kami peroleh dari Rifka Annisa, lembaga non-pemerintah yang menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pada tahun 2020 pengaduan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak justru lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Advertisement

Fakta itu cukup mengejutkan kita semua, seakan-akan kita tidak bisa ‘lari’ dari masalah tindak kekerasan. Bahkan di media sosial sekalipun, tindak kekerasan bisa terjadi. Kita kemudian bertanya-tanya apa sebenarnya yang salah dari negara kita sampai membuat kasus-kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual, semakin marak terjadi. Rupanya, belum adanya payung hukum yang tegas menangani kasus kekerasan seksual jadi salah satu alasannya.

Setiap tahunnya, jumlah pelaporan kasus kekerasan sebenarnya tidak pernah sedikit

Jumlah korban kekerasan seksual tidak sedikit | Photo by MART PRODUCTION from Pexels

Kita mungkin baru menyadari kalau Indonesia memang sedang darurat kekerasan seksual di akhir tahun 2021. Padahal, sebenarnya setiap tahunnya kasus kekerasan banyak sekali terjadi. Hanya saja memang nggak semua terungkap ke publik demi menjaga privasi para korbannya. Di bulan Januari sampai Oktober 2021 saja, Rifka Annisa sudah melakukan pelayanan pendampingan kasus kekerasan untuk klien perempuan dan anak sejumlah 181 orang

Jumlah itu tentu mengejutkan karena tahun 2020-2021 ini kita sedang melawan pandemi Covid-19. Rupanya, ada satu jenis kekerasan baru yang muncul yaitu kekerasan melalui media sosial atau disebut kekerasan berbasis gender online (KBGO). Menurut data yang dihimpun oleh Rifka Annisa, terdapat 17 kasus KBGO yang mereka dampingi. Di antara ketujuh belas kasus itu, KBGO paling banyak menimpa remaja akhir di usia 18-25 tahun dengan kasus pelecehan seksual.

Advertisement

Jenis kasus kekerasan yang paling banyak terjadi adalah pelecehan seksual dan perkosaan, sementara usia rata-rata korban 13-25 tahun

Rata-rata korban berusia 13-25 tahun | Photo by MART PRODUCTION from Pexels

Di antara 15 jenis kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan, ada dua kasus kekerasan seksual yang paling banyak terjadi berdasarkan data yang dihimpun oleh Rifka Annisa. Pertama adalah kasus pelecehan seksual dan selanjutnya adalah kasus perkosaan. Di tahun 2020, mereka menangani hampir 150-an kasus pelecehan seksual dan 50-an kasus pemerkosaan. Meskipun terhalang untuk bertemu langsung, tetapi semua korban bisa berkonsultasi lewat media daring.

Di antara para korban itu, kasus kekerasan seksual paling sering menimpa wanita dan anak-anak. Namun perlu digarisbawahi kala laki-laki bukan berarti tidak bisa menjadi korban kasus kekerasan seksual. Lalu, rentang usia yang paling banyak menjadi korban kekerasan seksual adalah 13-25 tahun. Di usia remaja dan dewasa itu, kita banyak menghabiskan waktu untuk berselancar di media daring.

Meskipun kasus banyak terjadi, tapi pengumpulan bukti kasus kekerasan seksual sulit dilakukan

Pengumpulan bukti sulit dilakukan | Photo by cottonbro from Pexels

Kasus kekerasan seksual yang sampai terungkap di media sosial mungkin baru akhir-akhir ini terlihat. Padahal sebenarnya kita seringkali menghadapi kasus kekerasan seksual yang sulit untuk dibawa ke jalur hukum. Hal itu karena pengumpulan bukti kasus yang sulit dilakukan para korban. Bayangkan saja, di saat kondisi tubuh dan mental sedang terluka akibat tindak kekerasan, mereka diminta mengumpulkan bukti-bukti kejahatan. Sebaliknya, karena ketidaktahuan korban, mereka seringkali justru menghilangkan dan menghapus bukti karena ketakutan yang melanda. Padahal, alat bukti itu menjadi kunci proses hukum bisa berjalan.

Advertisement

Macam-macam hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku kekerasan seksual beragam, tapi cukup berbelit

Proses penjatuhan vonis cukup berbelit | Photo by RODNAE Productions from Pexels

Semakin banyaknya kesadaran tentang perilaku kekerasan seksual, khususnya di media sosial, tampaknya membaha progres yang cukup baik untuk para penegak hukum. Mereka sudah berani menjatuhkan sanksi pidana maksimal, terutama untuk kasus kekerasan terhadap anak. Itu bisa terjadi karena adanya Undang-Undang Perlindungan Anak. Pelaku yang unsur pidananya terpenuhi bisa dijatuhkan sampai 15 tahun penjara. Dengan bukti minim, kasus yang serupa bisa jadi hanya divonis minimal 5 tahun penjara.

Mirisnya, Undang-Undang Perlindungan Anak itu hanya berlaku untuk usia 0-18 tahun. Di usia lebih dari 18 tahun, para korban akan kesulitan melakukan proses hukum, kecuali tindak perkosaan. Bahkan perkosaan pun harus jelas unsur pidananya, yakni pemaksaan dan ancaman dan satu kali kejadian pemerkosaan. Padahal, ada banyak kasus pemerkosaan yang bisa terjadi lebih dari tiga kali. Itulah mengapa korban seringkali kesulitan menempuh jalur hukum. Selain kasus pemerkosaan, kasus kekerasan seksual hanya bisa diproses jika menyeret Undang-Undang lainnya, seperti UU ITE. Namun, hukuman yang dijatuhkan tidak akan setimpal dengan tindakan keji yang dilakukan para pelaku.

Itulah kenyataan yang dihadapi para korban kekerasan seksual di Indonesia. Harapannya, Undang Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual bisa segera disahkan sehingga korban bisa mendapatkan payung hukum yang lebih kuat. Bagaimana menurutmu, SoHip?

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE