Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, Dikritik Ahli karena Nggak Ada Dasar Ilmiahnya

Kalung antivirus corona

Semua orang pastinya berharap akan segera ada akhir dari pandemi yang ‘menyergap’ dunia selama tahun 2020 ini. Terutama dari penemuan vaksin atau uji coba obat yang bisa meringankan gejala atau mencegah kematian akibat COVID-19. Meski para ahli sudah ngebut bikin vaksin dan terus menguji coba berbagai obat, tampaknya belum ada solusi medis yang benar-benar bisa menghentikan pandemi ini. Hal yang mungkin sebenarnya terhitung wajar, mengingat betapa sulitnya menghadapi virus baru yang sangat menular.

Advertisement

Makanya berbagai inovasi dan upaya untuk melawan virus ini memang sudah sepatutnya diapresiasi, tapi pada saat yang sama wajib dilihat dengan kaca mata kritis. Seperti inovasi kalung kesehatan Kementerian Pertanian (Kementan) yang ramai dibicarakan warganet baru-baru ini. Pasalnya, kalung yang berbahan dasar eucalyptus atau kayu putih ini diklaim bisa melindungi pemakaiannya dari virus corona. Bahkan ada rencana untuk segera memproduksi kalung ini secara massal dalam waktu dekat. Banyak orang dan ahli yang kebingungan dan skeptis dengan penemuan ini.

Kementerian Pertanian memproduksi massal kalung antivirus corona yang terbuat dari eucalyptus atau kayu putih. Produk ini diklaim bisa membunuh virus corona

Kalung anticorona via economy.okezone.com

Pada Mei silam, Kementan meluncurkan kalung antivirus corona. Bahan yang digunakan adalah eucalyptus atau kayu putih. Dilansir dari CNN, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berkata bahwa kalung tersebut sudah melewati hasil laboratorium di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kayu putih diklaim mengandung senyawa aktif cineole yang berpotensi mencegah Covid-19. Pasalnya, cineole mampu mengikat enzim Mpro yang terdapat dalam virus corona jenis apa pun. Kalung tersebut juga sudah dikenakan oleh seluruh jajaran Kementan dan diklaim terbukti ampuh.

“Ini sudah dicoba. Jadi ini bisa membunuh, kalau kontak 15 menit dia bisa membunuh 42 persen dari corona. Kalau dia 30 menit maka bisa 80 persen,” kata Syahrul.

Advertisement

Kementan berencana memproduksi massal kalung anticorona dan membagikannya pada masyarakat. Mereka juga membuat roll on, inhaler, salep, balsem, dan diffuser. Produk-produk itu ditargetkan sudah tersedia pada akhir Juli di seluruh Indonesia.

Langkah yang diambil Kementan mendapat kritik dari sejumlah ahli. Kalung antivirus dianggap nggak mempunyai dasar ilmiah dan bisa menyesatkan masyarakat

Terbuat dari eucalyptus via www.solopos.com

Dilansir dari Kompas, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih meragukan fungsi kalung anticorona. Dia berpendapat, seharusnya ada penelitian yang membuktikan bahwa kalung itu memang ampuh menangkal virus.

Advertisement

Kritik serupa disampaikan oleh Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman. Dia menilai bahwa nggak ada hubungan kuat antara kalung di leher dengan virus yang bisa menular lewat mata, mulut, dan hidung. Apalagi kalung anticorona belum terbukti efektif secara ilmiah. Sebelumnya memang sudah ada penelitian tentang khasiat eucalyptus, tetapi hanya menggunakan spray dan filter.

Oleh karena itu, Dicky menganggap produk antivirus corona terlalu dipaksakan. Bisa-bisa malah menyesatkan masyarakat dan membuat mereka nggak waspada. Hal serupa sudah terjadi pada produk antivirus dari Jepang yang disebut Virus Shut Out. Manfaatnya diragukan sehingga ditolak di sejumlah negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, produksi kalung anticorona dianggap menghamburkan anggaran. Padahal dananya bisa dipakai untuk membiayai rumah sakit dan tenaga medis

Pasien corona di Indonesia via katadata.co.id

Jumlah pasien corona masih terus bertambah di Indonesia. Mereka membutuhkan berbagai perawatan di rumah sakit. Para tenaga medis juga membutuhkan berbagai alat pelindung diri yang harus diganti secara berkala. Hingga kini, masih banyak yang belum terfasilitasi dengan baik. Bahkan tes corona belum bisa diakses secara luas. Dilansir dari Kompas, hanya ada 1.752 tes dari setiap satu juta orang di Indonesia pada pertengahan Juni. Seharusnya pemerintah menambah dana untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut, dibandingkan memproduksi massal produk anticorona yang belum jelas.

Daripada meluncurkan kalung anticorona, banyak yang menyarankan pemerintah lebih baik fokus pada pencegahan lain yang sudah terbukti efektif. Salah satunya adalah physical distancing

Penerapan physical distancing via www.kompas.com

Berbeda dengan kalung anticorona, physical distancing sudah terbukti efektif mencegah virus corona. Orang-orang bisa terhindar dari droplet atau cairan yang keluar saat bersin atau batuk dengan menjaga jarak.  Sayangnya, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan yang tegas tentang physical distancing. Masih banyak orang yang bepergian keluar rumah demi urusan yang kurang penting, misalnya nongkrong dengan teman. Sebagian orang juga belum menerapkan protokol kesehatan dengan baik saat berada di tempat umum. Masalah tersebut membutuhkan perhatian dan dana lebih dari pemerintah.

Di tengah kondisi yang simpang siur, sebaiknya kita juga lebih cermat dalam mencerna informasi seputar virus corona. Sebaiknya jangan langsung percaya kalau belum ada bukti-bukti yang meyakinkan. Ingatkan juga orang lain untuk melakukan hal yang sama. Yuk lebih pintar dalam bersikap~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tinggal di hutan dan suka makan bambu

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE