Di Tengah Kemelut Asap Kebakaran Mematikan, Kominfo Luncurkan Kampanye #SawitBaik. Warganet Protes

Kampanye Sawit Baik

Bencana kabut asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan tak hentinya jadi sorotan. Kualitas udara di sejumlah wilayah bahkan sudah masuk kategori berbahaya, saking pekatnya selimut asap di sana. Presiden Jokowi akhirnya mengambil langkah terkait peristiwa ini. Ia mengunjungi Riau untuk meninjau langsung lokasi kebakaran yang dilanjutkan dengan menggelar rapat terbatas dengan pihak-pihak terkait.

Advertisement

Belum reda penderitaan masyarakat terkepung asap sampai bikin napas aja susah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dilaporkan menggagas kampanye #SawitBaik di media sosial. Kampanye ini sontak mengundang amarah warganet. Mereka menganggap waktu peluncuran kampanye ini sangat nggak tepat. Pro-kontra pun bermunculan, meski mayoritas mengecam gerakan ini.

Tagar #SawitBaik menjadi trending di Twitter sejak kemarin hingga artikel ini ditulis. Kampanye ini digagas pertama kali oleh Kemkominfo. Peluncurannya bahkan mengundang banyak influencer

“Apa sih kampanye #SawitBaik itu?”

Advertisement

Seperti namanya, kampanye #SawitBaik ini bertujuan untuk membentuk perspektif positif publik atas tanaman sawit dengan menjelaskan berbagai hal positif soal sawit, sehingga menimbulkan kecintaan terhadap produk yang berbahan dasar sawit. Seperti dijelaskan Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, selama ini sawit banyak dikenal sebagai tanaman yang menyebabkan deforestasi, kebakaran, membunuh orangutan, dan merusak gambut. Padahal, Indonesia adalah negara penghasil sekaligus konsumen terbesar minyak sawit.

Citra negatif di atas kata Misbakhun disebarkan oleh pihak-pihak yang ingin melakukan perang dagang terhadap sektor kelapa sawit di Indonesia. Akibatnya, harga tandan buah segar sawit beberapa waktu terakhir ini mengalami penurunan, yang berimbas ke kehidupan petani langsung, seperti dilansir dari Jawa Pos.

Namun pada kenyataannya, kampanye yang bertujuan positif itu justru dianggap kurang tepat, karena diluncurkan saat masyarakat Sumatera dan Kalimantan menderita akibat kepungan asap beracun

Advertisement

Kampanye #SawitBaik mengundang kemarahan banyak warganet lantaran waktu peluncurannya dianggap kurang tepat. Gimana nggak, di saat banyak orang menderita karena asap pembakaran lahan, Kemkominfo justru terlihat seolah mendukung pembakaran itu dengan meluncurkan gerakan #SawitBaik. Kebanyakan lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan yang selama ini dibakar, ujung-ujungnya memang dijadikan hamparan perkebunan sawit.

Peristiwa pembakaran lahan dan hutan itu memang bikin emosi jiwa. Tapi bukan berarti kita patut membenci tanaman sawit, karena gimana pun berbagai produk sehari-hari kita banyak yang dibuat dari tanaman sawit

Pembakaran lahan untuk sawit via tirto.id

Sekilas kampanye #SawitBaik mungkin terlihat buruk dan tidak tepat sasaran. Tapi ya nggak sepenuhnya salah juga sebenarnya. Ini karena sawit memang banyak berjasa untuk kehidupan kita. Buktinya, banyak produk sawit yang kita pakai di kehidupan sehari-hari, mulai dari minyak goreng, mentega, sabun, dan lain-lain. Harganya juga relatif murah. Apalagi kalau Indonesia disebut negara penghasil sawit terbesar, bisa ekspor ke banyak negara, tentu bisa menguntungkan dari segi ekonomi.

Tapi… yang perlu digarisbawahi dan jadi PR besar pemerintah adalah bagaimana supaya nggak banyak oknum yang membakar lahan sesuka hati demi membuka perkebunan sawit. Banyak lo orang main bakar lahan seenaknya tanpa mengikuti prosedur resmi. Nah, pemerintah harusnya bisa bertindak lebih tegas terhadap oknum-oknum ini. Atau mungkin memperketat aturan soal kebun sawit dengan merujuk standarisasi yang ada supaya tercipta sustainable living.

Yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan sekarang ini juga nggak lepas dari kelakuan mereka yang haus kekayaan lo, membakar hutan dan lahan tanpa memikirkan nasib masyarakat. Huh, semoga segera ada solusi atas masalah ini ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE